Saturday, December 31, 2011

You, and Coffee Latte

A : I've got to see you. 
F : No. 
A : What is this, patriotism? 
F : I don't want trouble. 
A : I'm not trouble. 
F : You're taken. 
A : We should go out on a date. 
F : Tough.
A : But You kissed me!
F : What are you, 12?

Antagonis


Namanya juga drama, ya harus ada yang sudi jadi antagonisnya... 
Biar itu bagianku...

Thursday, December 22, 2011

Senja

Aku menyukai senja seperti halnya dia. Bagiku senja selalu sempurna. Kami selalu menunggu senja itu datang, bahkan sampai malam menjelang.
"Senja kali ini lebih indah dari biasanya khan Ve?" tanyanya.
Lamunan dan senyuman tanggungku terputus. Kembali aku memperhatikan senja yang merona pada genangan-genangan sisa air hujan. Dhi menyenderkan kepalanya ke pundakku “Disini rasanya waktu berjalan lambat. Kau terlalu lama pergi.” lanjutnya diiringi helaan napas gemetar. Aku bisa merasakannya. Gemuruh dalam dirinya membuat bibirnya menggigil dingin dan beku. Sementara tak terasa bibirku juga menjelma ngarai; sunyi. 

“Maaf … “ Getaran bibirku kelu.
"Ya, aku tahu… Katamu semua punya alasan. Mengapa matahari terbit di ufuk Barat dan terbenam diufuk timur. Semuanya memiliki alasan. Dan kau juga punya alasan.“ Senyumnya getir. “Ah lihat… bahkan senja sudah hampir habis. Tapi besok senja merah lagi dan, kau selalu bisa bertemu denganku di sini." Lanjutnya.
Aku hanya menatapnya, waktu berlalu dengan cepat sekaligus lambat. Sisa senja kala itu kami lewati dalam bisu.

“Hei Ve!! Sedang apa duduk sendiri di situ, ini sudah waktunya kita berangkat…” Hana menepuk pundak, “Lebih baik kita bergegas, misa pemakaman Dhi sebentar lagi.” Aku berdiri, dan sekali lagi menatap bangku kosong itu. Aku merapatkan jaket dan menghangatkan kedua tanganku dalam saku. Angin berhembus, lampu taman kota mulai menyala satu persatu.

Lagi-lagi Soal Cinta

Membahas tentang cinta kita bagaikan membicarakan kisah dongeng 1001 malam yang tidak akan habis dibahas dalam waktu hanya satu malam juga. Karena cinta kadang menjadi sesuatu yang misterius dengan perasaan yang tidak selalu bisa menggunakan kontrol logika.

Saat cinta banyak ditentang tiba-tiba kita merasa menjadi seperti sepasang Romeo & Juliet yang berasal dari keluarga kaya raya Capulet dan Montague yang saling bermusuhan. Walaupun kita tidak akan cukup berani untuk mengakhiri hidup kita sendiri seperti mereka.
Atau saat Kisah cinta berbeda kasta dan status sosial kita merasa menjadi tokoh utama film Titanic dan Vanity Fair. Sayangnya kita
pun mungkin tak sudi berakhir tragis.
Kisah cinta berbeda ras seperti di film Pocahontas
dan The Last Samurai, filem yang menggambarkan sebuah bentuk toleransi yang sangat besar, antara perbedaan ras dan kebudayaan.
Atau bahkan mungkin bila kisah cinta kita "Beda species" jangan salah artikan cinta antara kera dan buaya... Kita akan merasa seperti tokoh Edward dan Bella Swan di film Twillight, atau merasa seperti Lucian and Sonja dalam film Trilogi Underworld… Setiap orang mempunyai kisah cintanya sendiri… baik itu kisah seperti Romeo & Juliet atau mungkin kisah yang berakhir dengan Happily Ever After…

Saat kita berpikir bahwa kita telah benar saling mencintai, dan saat orang-orang menentangnya. Kita akan berfikir yang salah adalah mereka karena tidak mengerti dan menyetujui kasih romantis yang terjalin.
Ada juga kisah cinta yang begitu penuh dengan harapan, pengorbanan dan bahkan cinta itu sendiri, namun tetap saja akhirnya tidak selalu sama dengan yang di impikan. Bukankah kita harus lebih realistis sesekali... Bahkan kisah-kisah cinta yang luar biasa pun tidak selalu berakhir dengan Happy Ending. 
Toh kisah cinta pun tidak selalu antara bahagia, dan tawa. Selalu ada kesempatan yang lain untuk membuka diri, jatuh cinta lagi, meski mungkin tidak dengan orang yang sama.

Wednesday, December 14, 2011

Urang Sunda


Asa ku bangga jadi orang sunda..... hahahaha.....

#Gambar kenging nyandak tina Fb rerencanga.

Friday, December 9, 2011

The Curse

Rabu kemaren salah satu kawan menyebut nama saya jadi salah satu orang yang di kutuk juga... ternyata kutukan ini berisi 11 hal tentang saya dan 11 hal yang harus saya jawab, dan 11 pertanyaan yang harus saya buat... jadi sebenernya gak bener-bener 11 ya... klo di jumlahin malah jadi 33 biji. Haduuhh... Pagi-pagi dah dapet Per Er jugaaa... banyak pulaaa.... 

Baiklaahhh... ayo kita mulai kerjain Per Ernya... tapi sebelum nulis tuh, saya biasanya ritual dulu, ngopi dulu lah, ngerokok dulu lah, twitteran dulu lah, efbean dulu lah... hehehe... Akhirnya gak nulis-nulis. Canggih ya.... hehe... 

11 tentang Floo :
1. Saya anak pertama dari 4 bersodara, entah mungkin karena anak paling gede nih, sejak kecil saya paling sering di suruh ini itu. Mulai ambil kayu bakar di hutan sampe gembala sapi... hehehe.. gak denk. Keluarga mempercayakan banyak hal pada saya... termasuk mengurus diri sendiri. Dari zamannya saya masih SMU sampe kerja, saya ngekos (beli rumah belum mampu waktu itu).... padahal orang tua masih satu kota.
2. Saya adalah kakak yang galak, saya mungkin termasuk orang yang agak tegas untuk aturan-aturan dalam rumah, termasuk untuk urusan disiplin adik-adik saya. Padahal saya sendiri bandel juga, agak-agak sih, dikit kok... lumayan juga deh... #labil 
3. Jalan ke pedesaan, dan naik sepeda adalah cara saya menghindari kejenuhan. Karena saya sangat menyukai suasana pedesaan, dan pemandangan hijau sawahnya. Tempat seperti itu yang membuat saya selalu merasa di rumah.
4. Saya gak pilih-pilih soal makan, yang enak saya pasti makan. Masalahnya bukan makanannya, tapi saya sangat sering lupa makan. Mungkin harus ada yang berbaik hati ngingetin sering-sering...#eaaa
5. Saya emosional, sangat mudah terbawa perasaan. Moody banget... 
6. Jaman saya kecil ibu saya sering ajak nonton di bioskop, Film India pula... saking terharu liat cerita filmnnya saya sering nangis sesegukan sambil nonton... ckckck.. bikin malu.
7. Saya sangat jarang sekali membaca novel drama, dan liat film drama. Habisnya kayak liat kisah sendiri, banyak berakhir tragis... hihihi... #lebay
8. Pengeeeennn banget duduk bedua liat sunset di pantai sama pacar... #kode
9. Saya sangat suka sekali menggambar, dari jaman saya masih SD sering banget ikut lomba gambar meski yaaahh....  gak juara juga. Lukisan pertama saya masih bisa di lihat di dinding samping rumah orang tua saya hehehe..... 
10. Saya sangat menyukai Yogyakarta... hanya beberapa bulan tinggal di sana, tetapi kota ini sudah membuat saya kerasan tinggal di sana. Semua hal tentang Yogya saya suka, bahkan saya bisa berjam-jam duduk anteng memperhatikan orang bicara dengan logat jawa Yogya. Berharap suatu hari nanti bisa ke sana.
11. Dan keinginan terbesar saya adalah saya sangat berharap mesin waktu di temukan. Pengen menjelajah waktu dan memperbaiki kesalahan-kesalahan saya, termasuk kesalahan menjawab soal ujian waktu sekolah hahahahaa....

Naaahhh.... selanjutnya saya akan jawab pertanyaannya dari Wirda Weird nih :

1. Teman ideal menurut kamu, yang seperti apa?
Buat aku teman ideal itu teman yang enak di ajak ngobrol, tidak takut mengkritik kita saat kita melakukan kesalahan. Menerima kita apa adanya. Bisa di ajak gila juga... yang pasti gak bosenin deh.

2. Lebih suka baca buku cetakan atau e-book?
Bukuuuuu.... klo e-book gk bisa baca sambil tiduran atau sambil duduk di toilet... :p

3. Kalau ada pilihan untuk kerja di Gedung DPR atau di Kepresidenan, kamu pilih yang mana? Berikut alasannya.
Saya lebih milih jadi pengawal pejabat aja deh... biar keren keliatannya kayak agen CIA gitu hihihi... ribet ngurusin pemerintahan

4. Kalau kamu nyasar ke jaman batu, apa yang akan kamu lakukan setelah 2 hari nggak ketemu jalan pulang?
Saya akan menjadi manusia pertama yang mengajarkan peradaban pada mahluk-mahluk primitif jaman batu. hihihi...

5. Seandainya Gayus Tambunan itu temen kamu, apa yang akan kamu bilang waktu dia bisa dengan bebasnya punya jam khusus dengan istrinya di penjara
Saya akan bilang... "Keren kamu... duit buat nyogonya pasti banyak. Jangan lupa bagian saya kalo kmu dah keluar nanti okeh...." Hahaha....

6. Donald Bebek itu umurnya berapa sih sekarang ini, di tahun 2011 ini?
Saya waktu pertama kali baca buku Donal bebek itu jaman saya masih TEKA....  klo lahirnya sekitaran tahun 1934... paling yaahh... bisa di hitung pake kalkulator lah itu... hihihi...

7. Lebih suka mana Obelix atau Donald Bebek?
Donal bebek donk.... aku jarang baca komik Obelix

8. Seandainya kamu adalah penasihat bapak SBY, untuk menyelesaikan kasus Lumpur Lapindo, apa yang akan kalian usulkan kepada si bapak?
Saya akan bilang : "Mungkin ada bagusnya membuat sebuah kota yang bisa mengapung di atas lumpur pak... "

9. Siapa cowok/cewek paling seksi versi kamu?
Cewek dulu yaa... menurut saya yang seksi itu putih tinggi, berkaki panjang, jago maen bola volly, romantis.. eh sebentar itu khan... hehehe... hmm sebentar.... Sexy yaaa...? Selain dia, menurut saya cewek sexy itu seperti, Jodie Fosters.
10. Kenapa dangdutan identik dengan goyang jempol?
Waduh.... klo itu saya gk tau yaaa... pertanyaan sulit...
11. Kenapa kalau film India selalu ada nari-nari dibawah hujan?
Mungkin biar keliatan lebih Romantis aja... trus pas di shoot gt khan lekukannya jd lebih sexy kali...:P

Okeeehhh dan sekarang saatnya pertanyaan yang harus dijawab oleh para KORBAN KUTUKAN 11 berikutnya :

1.  Jika kamu mengalami hari yang paling menyedihkan dan perlu untuk melampiaskannya, siapa akan kamu temui?
2. Pikiran siapa yang paling ingin kamu tau, bila kamu di berikan kemampuan membaca pikiran orang?
3. Coba bayangkan jika kamu adalah seorang Duta Besar PBB. Apa yang akan kamu ingin lakukan untuk perdamaian dunia, dll pemanasan global? aih resmi bener.
4. Menurut kamu dimana tempat terbaik di dunia ini untuk berbulan madu?
5. Apa fantasi terliar kamu? Siapa yang akan kamu inginkan, sebagai bagian dari itu? 
6. Jika kamu memiliki satu miliar dolar, apa yang akan kamu lakukan dengan semua uang itu? 
7. Pilih satu di antara dua gaya bertarung yang kamu suka : Jurus bangau atau monyet mabuk? 
8. Apa yang paling kamu takuti?
9.  Jika kamu hanya mempunyai satu hari jatah hidup, apa yang ingin kamu lakukan?
10. Kamu lebih memilih Jomblo atau Single?
11. Dari semua orang yang paling dekat denganmu... siapa yang paling kamu inginkan menemanimu? 

Dan ya….  ini daftar orang-orang yang akan menerima kutukan :

10.sama 11-nya bingung..... nyusul ajaaaa....

Saya ucapkan selamat berjuang kawan... enjoy the Curse :)) yang gk ada blog atau gk bisa nulis.. tulis di Fb aja deh gpp... :P
 

Wednesday, December 7, 2011

Bohongi Saja



Tak perlu pisau untuk melukaiku
Bohongi saja...


Saturday, November 26, 2011

Laundry

Aku melihatnya lagi hari ini, menjadikannya minggu ketiga secara berturut-turut kami berdua berada di Laundry pada waktu yang sama. 


Dia tersenyum setiap kali mata kami bertemu dan itu membuatku bertanya-tanya apa yang menarik dari dia. Dia ramping dan berambut gelap, bukan tipeku sama sekali sebenarnya, tapi ada sesuatu tentang dirinya yang menarik perhatianku. Mungkin cara dia selalu tertawa dan tampak begitu ramah terhadap semua orang di sekelilingnya. Dia begitu hidup dan bersemangat, dan itu membuat siapapun merasa nyaman berada di dekatnya. 

Sementara menunggu cucianku selesai. Sekilas aku melirik dan mendapati dia menatapku dan tersenyum. Aku bertanya-tanya sendiri. Apakah ia pernah tertarik pada seseorang seperti aku? Tentu saja tak ada jawaban untuk pertanyaanku. Kami bahkan tidak pernah saling bertegur sapa, namun aku tidak bisa mengeluarkan dia dari pikiranku sejak minggu sore pertama kami bertemu. Dia tidak seperti yang lain, biasanya aku lebih tertarik dengan orang-orang yang tenang, kurang lebih seperti diriku. Semakin aku duduk dan berpikir tentang dirinya, semakin aku ingin tau banyak hal tentangnya

Sambil menunggu pakaianku dikeringkan, aku memilih duduk di kursi dan menarik keluar bukuku. Tiba-tiba dia ada di sana, duduk di kursi sebelahku.

Dia membungkuk sedikit. "Apa yang ka
mu baca?"

Suaranya tidak tinggi atau rendah tetapi
antara lembut dan menyenangkan. Ketika dia membungkuk lebih dekat , aku bisa mencium aroma samar kelopak bunga. Di latar belakang aku bisa mendengar suara mesin berputar, pengering bergemuruh dan bahkan beberapa percakapan bernada rendah di sekitarku.

Aku menutup buku itu dan menunjukkan
sampul depannya. "Ini eh, Asisten Penyihir by Anne Patchett." Menatap sekilas wajahnya dan dalam hati mengutuk kegugupan dalam suaraku.

Dia menatap lurus ke arahku dan tersenyum mempesona. "Bagus?"

Aku tersenyum malu-malu sambil mengangguk dan menjawab dengan tenang 'ya'. Setelah beberapa detik,
aku memutuskan untuk mengambil inisiatif sekali dalam hidupku. Aku balas menatapnya. "Itu bukan genre yang biasa aku baca, jadi aku tidak yakin apakah aku akan menyukainya." Aku pikir aku membuatnya sedikit lebih tertarik dengan topic pembicaraan kami.

"Sungguh? Apa yang biasanya
sering kamu baca? "

Sekarang ini
adalah pembicaraan yang membuat aku merasa lebih nyaman. "Yah, aku biasanya lebih suka fiksi ilmiah. Aku tidak begitu banyak membaca horor tapi sisanya aku suka. "

Dia memiringkan kepalanya ke samping, "Bagaimana dengan non-fiksi? Apakah
kamu pernah membaca itu?"

Aku meringis, “
Tidak, aku membaca untuk menghibur diri dan berimajinasi, jika aku menginginkan realita aku akan membaca Koran atau menonton berita di TV saja.

Dia tertawa dan aku bersumpah aku melihat matanya bersinar. "Aku pikir kau mengambarkan sesuatu yang sama percis dengan apa yang aku pikirkan."

Aku
menutup bukuku, merasa tidak berminat meneruskan. Aku memiliki dua puluh menit lagi sebelum pengering selesai dengan baju-bajuku. Tanpa melihat langsung wajahnya aku memberanikan diri bertanya. "Jadi apa pekerjaanmu?"

Dia
membetulkan letak duduknya sebelum menjawab. "Well, aku asisten editor surat kabar."

Ada sesuatu dengan wanita cerdas
dan mengerti sastra yang selalu membuatku tertarik,
tidak masalah dia Gay or Straight. Dia tampak begitu bersemangat dengan pekerjaannya. "Asisten Editor ya? Wow, itu hebat! Jadi sudah berapa lama bekerja di sana? "

Dia tertawa, "Oh, sekitar dua tahun. Aku awalnya ingin menjadi seorang wartawan, tapi kemudian
aku memutuskan ingin lebih mengontrol apa yang akan di baca. Jadi di sinilah aku, sebagai asisten Editor." Dia melambaikan tangannya di udara saat ia selesai berbicara. "Bagaimana dengan kamu, apa pekerjaanmu?"

Aku begitu asyik
melihat caranya berbicara, dan membuatku hampir tidak memperhatikan pertanyaannya. Aku berdeham, "Yah, uh, aku menjalankan sebuah toko, toko kecil di pusat kota. Kami menjual spesialis buku tua. "

Dia memiringkan kepalanya ke arahku lagi. "Sungguh
? Aku pernah ke sana beberapa kali dan aku tidak ingat pernah melihat kamu di sana. Apakah kamu baru saja mulai bekerja dalam beberapa bulan terakhir? "

Tiba-tiba
aku merasa gugup lagi. "Akan sulit melihatku di sana, karena aku bekerja pada jam tertentu. Aku hanya menggantikan karyawan yang libur atau tidak dapat bekerja untuk beberapa alasan." Aku tertawa gugup, menyadari sesuatu yang penting terlewatkan. Aku sedikit membetulkan letak dudukku dan mengulurkan tangan. "Aku kira aku harus memperkenalkan diri. Namaku Ana. "

Dia meraih tanganku dan tertawa pelan. "Nama
ku Jill. Jadi itu toko kamu? That's good." Saat itu, saat kami menatap mata satu sama lain, aku merasakan sesuatu. Kuat dan sekaligus halus. Aku bertanya-tanya apa yang dilihatnya ketika dia menatap mataku. Apakah dia hanya melihat pupil hitam dikelilingi warna biru atau apakah dia melihat sesuatu yang lebih dari itu? Apakah dia melihat pikiran dan emosiku  atau bahkan mungkin jiwaku? Kemudian dengungan mesin pengering, mengalihkan perhatian kami. Aku memelihat jam dan menyadari pakaian-pakaianku selesai di keringkan. Ketika aku melihatnya kembali, tangan kami masih saling menggenggam.

"Apakah Anda ingin ..."

"Bagaimana kalau ..."

Kami tertawa karena kami mulai berbicara pada waktu yang sama. Aku mengangguk malu-malu "Silakan."

Dia tersenyum
. "Apakah kamu mau pergi untuk minum kopi?"

Aku merasa leg
a, karena dia meminta sesuatu yang sama percis dengan yang aku pikirkan. Aku tahu aku tidak pernah merasa sesenang ini sebelumnya. "Tentu, dengan senang hati."
Kembali melirik pengeringku. "Aku harus menyelesaikan ini terlebih dahulu. Kamu tidak keberatan menunggu?".

Sekali lagi dengan senyum. "Tidak, tidak sama sekali."

Aku setengah jalan
kearah mesin pengering ketika aku teringat sesuatu. Aku berbalik dan mendapatinya sudah menatapku. "Eh Jill, bagaiman dengan pakaian-pakaian kamu?".

Dia menatapku dan menunjuk
kearah keranjang dekat pintu. Ada sekeranjang pakaian terlipat rapi. Ketika aku menatapnya dengan bingung dia benar-benar tersipu. "Aku selesai tepat sebelum aku duduk dan berbicara dengan kamu." Kami saling memandang dan aku mengerti.

Setelah
aku selesai dengan cuciku dan berjalan menuju kendaraan kami masing-masing, dia menghampiriku di pintu mobil. "Bagaimana kalo di Bean Café?" Ketika aku mengangguk, dia melanjutkan, "Kamu mau mengikuti mobilku ke sana?".

Aku menatap mata hijau yang jelas dan tahu bahwa aku
tertarik padanya. "Tentu, kamu memimpin dan aku akan mengikutimu dari belakang." Dia tersenyum dan berbalik, namun dengan cepat berbalik lagi dan melangkah mendekat.

Ketika
aku menatap matanya lagi aku melihat sesuatu yang baru dan aku tahu hal yang sama bersinar di mataku sendiri. Aku melihat ketertarikan yang sama. Perlahan dia mendekat sampai ujung jari kami bersentuhan. Dia tersenyum tenang. "Aku  akan melihat kamu dalam beberapa menit lagi khan?"

Aku hanya tersenyum. "Kau memimpin dan aku akan mengikuti." Dan itulah akhir dari awal kami.

Friday, November 25, 2011

Café Girl

Aku duduk di sofa nyaman yang terletak di sudut café. Berpura-pura menyibukan diri dengan membaca buku. Namun dalam kenyataannya, aku menatapnya. Dia duduk hanya beberapa meter dariku, di sofa yang tepat menghadap jendela.

Beberapa orang mengatakan: "Dia terlihat seperti malaikat." Atau, sesuatu seperti itu. Tapi, ketika melihatnya, aku melihat api. Dia memiliki rambut merah panjang yang tergerai di bahunya. Aku rasa, aku belum pernah melihat dia dengan ekor kuda sebelumnya. Meski aku yakin gaya rambut yang lain akan tetap terlihat bagus pada dirinya. Matanya sebagian besar tertutup dengan eye shadow gelap, tapi warna ini justru membuat mata birunya terlihat lebih indah. Bersinar seperti bulan di malam hari. Dia tidak pernah memakai lipstik dan dia tidak membutuhkannya, bibirnya merah alami, terlihat begitu menggoda. 

Siapa namanya? Untuk waktu yang cukup lama, aku hanya menatapnya dan berpikir: Apa nama yang cocok untuknya? Nancy? Nicky? Laura? Atau mungkin Monique? Sampai suatu hari aku mendengar teman-temannya memanggilnya Jackie. Aku kira namanya Jacqueline. Nama ini dengan tepat menggambarkan kecantikannya yang sempurna. 

Karena nama ini, aku tidak bisa tidur di malam hari. Aku berbaring di tempat tidurku dan ketika memejamkan mata, aku melihat wajahnya, mata birunya, senyumnya. Dia dalam mimpiku, hanya di sana, aku benar-benar bahagia. Hanya ada dia mencintaiku, dia membutuhkan aku, dia menciumku. Hanya di dalam mimpi, dia milikku. Hanya ada aku dan dia. Tanpa teman berisik nya, tanpa masalah kita, tanpa seluruh dunia. Hanya kami berdua. Kadang-kadang kita menari. Aku memeluknya dan menghirup aroma tubuhnya. Aroma kulit lembut. Dan hanya dalam mimpiku, aku bisa menyentuhnya. Dan kulitnya terasa seperti bunga pada ujung jariku. Begitu lembut dan indah. Sayang bahwa itu semua hanya mimpi. Kadang-kadang ketika perasaanku tak tertahankan, aku ingin melupakan semua ketakutanku dan pergi menghampirinya, mengatakan padanya apa yang aku rasakan, mengajaknya berkencan.

Kemudian aku berdiri dan berjalan mendekatinya. Beberapa langkah jarakku darinya,  dia memperhatikanku, sepertinya dia sudah tahu aku akan mengatakan sesuatu. Itu membuatku semakin gugup, dan membuat langkahku pun melambat bahkan terlalu lambat. Seorang pelayan cafe mengalihkan pandangannya dariku, dia lupa aku. Dan aku tau, bahwa aku kehilangan kesempatan berbicara dengannya kali ini. Hal seperti ini sering terjadi, tapi aku yakin - suatu hari nanti aku akan memiliki cukup keberanian dan aku benar-benar akan berbicara dengannya dan menceritakan apa yang aku rasakan. 

Aku sering bertanya pada diri sendiri: apakah dia tahu siapa aku? Apakah dia tahu namaku? Apakah dia mengenali aku ketika kita kebetulan naik di bus yang sama? Apa yang dia pikirkan tentang aku? Apakah dia seperti aku? Atau mungkin dia membenciku? Mungkin dia sudah tahu apa yang aku rasakan padanya dan dia mengira aku menjijikkan? Aku tidak berpikir aku akan pernah mendapatkan jawaban atas pertanyaan ini, tapi mungkin lebih baik begitu. Aku masih menatapnya. Sekarang dia menyalakan sebatang rokok. Bahkan ketika dia merokok dia tampak begitu cantik. Aku ingin tahu apa hobinya? Mungkin dia suka menari? Dia memiliki sosok yang sempurna untuk itu. Atau mungkin dia suka melukis? Sepertiku. Mungkin dia suka menggambar orang dengan wajah yang berbeda? Atau mungkin dia suka menyanyi? Aku yakin dia punya seribu talenta yang aku tidak tahu. 

Dia memalingkan wajahnya ke arahku dan sekarang dia menatapku juga. Dia melakukan itu karena dia bisa merasakan tatapan mataku di wajahnya. Dia menatapku seolah-olah dia bisa mendengar pikiranku. Aku berharap bisa mengambil gambar dia sekarang, jadi aku selamanya bisa tetap melihat kecantikan seperti ini dan tidak pernah melupakannya. Aku masih menatapnya dan dia tersenyum. Dia tersenyum padaku. Ini adalah pertama kalinya, seolah mengatakan: "Saya tahu, saya tahu segalanya..." Memberiku lebih banyak keberanian dan aku berdiri, mengambil buku-bukuku dan berjalan ke arahnya. Tapi apa yang akan aku katakan padanya? Haruskah aku langsung menceritakan apa yang aku rasakan? Sekarang aku begitu dekat dan dia masih menatapku. Dia tahu sekarang bahwa aku datang mendekatinya dan di matanya aku melihat kebingungan. Aku pikir aku tahu apa yang dia pikirkan: "Mengapa gadis ini menghampiriku, aku bahkan tidak kenal dia?." Atau sesuatu seperti itu. 

Aku sudah membuka mulut tapi urung mengatakan apa-apa, karena di belakangnya, ada perempuan lain. Tangan menutupi matanya dan dia tertawa. Tertawa penuh kebahagiaan dan berbalik melihatnya. Lalu dia memeluknya, mencium dan mengatakan bahwa dia mencintainya. Aku bahkan tidak berhenti berjalan, aku lurus melewatinya. Ini bukan untuk pertama kalinya, tapi aku merasa begitu buruk. Ingin menangis, tapi aku hanya menyeka poni dari mataku dan berjalan ke arah pintu keluar. Aku tahu, aku tidak akan pernah bersamanya. Dia tidak akan pernah memelukku atau menciumku, atau mengatakan bahwa dia mencintaiku, karena dia mencintainya. Tetapi aku tidak perduli, aku masih akan terus memikirkan dia. Karena dia adalah yang pertama bagiku.

Wednesday, November 16, 2011

Palung Kerinduan


Dan di palung kerinduan, mataku nanar kehilangan jarak pandang. Ini tak mungkin diteruskan. Entas dari ini, atau mati tenggelam.

Degup di Dadamu


Aku ingin diam di dadamu, mendengar degup yang berbisik: "Janganlah kau menepi sebelum kita terikat dalam satu janji". Senandung yang selalu kau nyanyikan dalam diam, perlahan, pelan. Sesungguhnya aku mendengar dalam hingar kerinduan.

Halloween Night

My Dear
Malam ini Halloween Night, cuaca agak sedikit cerah dan hangat. Setelah seharian berada di ruang pengap perpustakaan dengan monitor 10 inch ku, mata terasa lelah dan pungungku pun terasa sakit. Ku putuskan untuk keluar sambil melihat Halloween Party di Centrum. 
Sepanjang jalan aku berpapasan dengan keluarga yang membawa anak-anak dengan mengenakan kostum seram. Semakin mendekati pusat kota semakin sering aku menjumpai pemandangan tadi. Kali ini bukan hanya anak-anak saja yang mengenakan kostum Halloween, melainkan seluruh keluarganya. Kompak berseram ria, dengan membawa keranjang permen dan mengetuk setiap pintu yang mereka lewati. 
Aku seperti biasa, selalu menyukai duduk disebuah Bar terbuka dengan secangkir Cappucino dan menikmati pemusik jalanan yang bermain tepat di depan café. Pemusik satu ini keren, aku rasa dia memainkan alat musik sejenis Siter kalo di Jawa tapi yang ini aku rasa mereka berasal dari Iran. Lain hari ketika aku kebetulan lewat aku liat dia memainkan sebuah mini harpa. 
Alunan musik yang dimainkan seakan mengerti benar suasana hatiku, alunan melodi yang menghanyutkan seakan iramannya me-sugesti diri untuk Larut melebur. Tanpa sadar aku sedikit menggeser kursiku mendekat. Aku mengamati sambil mengingat-ingat nama alat musik yang dia mainkan, rasanya aku pernah membacanya entah di mana. 
Waktu menunjukan jam 11 dan aku rasa udara hangat berangsur-angsur membeku. Sang musisi pun bersiap mengemasi peralatannya. Aku sempatkan untuk memberikan penghargaan atas permainan musiknya malam ini, dan bergegas pulang sendiri kembali menyusuri jalan yang penuh dengan daun dan angin musim gugur yang menusuk.

Tuesday, November 15, 2011

Satu Hari Di Musim Dingin

Venice, satu hari di musim dingin ketika seseorang dari masa lalu kembali. Kami berdua adalah teman sebaya, bahkan dulu kami pernah saling jatuh cinta. 
Hari ini dia tampil dalam balutan mantel bulu palsu, skinny jeans gelap dan sepatu boots rancangan louboutins. Kulitnya pucat seolah tidak pernah terkena sinar matahari, matanya memancarkan kelembutan yang terlihat begitu anggun dan matang.
Dia mengajar matematika di sebuah sekolah di suatu tempat di Alaska dan alasannya kembali ke sini adalah untuk menghadiri sebuah seminar matematika. Kami selalu makan malam bersama dan pergi ke salah satu seminar matematika-Nya, seminar tentang sesuatu yang di sebut Fermat’s Last Theorem. 
"Ini tentang koneksi, bukan," bisikku padanya saat aku mencoba untuk memahami apa yang dosen katakan. Dia mengangguk. 
"Bisakah kamu memberi aku penjelasan sederhana?" Dia menggelengkan kepalanya. Tidak ada penjelasan sederhana untuk sebuah Puzzle yang telah di kerjakan beberapa pemikir matematika terbaik selama lebih dari 300 tahun. 
Hari sudah menjelang malam ketika kami keluar dari gedung seminar. Di jalanan terlihat orang-orang yang bergegas. Dari bawaannya kelihatan bahwa mereka adalah orang kantoran. Kita terus bergerak. Dan akhirnya menemukan sebuah cafe klasik di sudut kota, Cafe yang terletak antara dua gedung bernuansa abad pertengahan.
"Aku selalu suka kota ini,” katanya ketika kita duduk di sofa hangat, sewarna langit senja.
"Ya, aku kira kamu selalu cocok di mana pun. " sahutku, dan dia tersenyum.
"Iya, kota ini selalu penuh dengan nuansa masa lalu, keindahan setting-nya, arsitektur dan karya seni nya. Saat musim panas warna kota seperti merah karat. Penuh nostalgia."
Kami begitu hanyut di antara aroma kopi dan alunan musik kental bernuansa jazz, Obrolan ringan tentang tempatnya tinggal sekarang, dan dengan wajah merona dia mengatakan bahwa dia telah jatuh cinta dengan seorang wanita di Alaska.  Kurasa aliran darah mengalir cepat menjalar ke dadaku. Entah perasaan apa. Ada rasa kehilangan, mungkin juga cemburu.
Salju mulai turun ketika kami berpelukan dan mengucapkan selamat tinggal. Dia terbang kembali ke Alaska, di mana seorang wanita menunggu dan mencintainya. Pergi jauh meninggalan keluarga dan sahabat demi cinta. Aku pikir mungkin aku juga akan melakukan hal yang sama, bila nanti ada yang benar-benar mecintaiku, dan aku pun mencintainya.

Friday, November 11, 2011

Pictures of the month


Sexy Pictures of  Love about the hot and passionate moments, the sexy encounters, the longing and yearning for love, the cuddles and the romances , all explained in beautiful and sexy Pictures. Pictures about desiring each other and making love.

Thursday, November 10, 2011

Perempuan Yang Jatuh Cinta


“Lihat!.” Malam menunjuk ke arah gadis yang berdiri di ambang jendela...
Senja penasaran, ikut memerhatikan.
"Apa yang harus aku lakukan...? Ya tuhan apa yang harus aku lakukan...?." Lirih gadis itu berulang.
“Siapa dia?” Senja bertanya.
Senyum terkulum, “Hanya perempuan yang jatuh cinta." katanya. Sementara gadis di jendela masih tetap sama. Berdiri dalam resah, berdoa, bertanya.
"Hanya?", Mata bereka bersitatap. Ada secuil kekecewaan.
"Dia perempuan yang jatuh cinta. "
"Apakah jatuh cinta itu sakit, dia tidak terlihat bahagia?" Mata Senja menyipit.
"Dia jatuh cinta pada sesuatu yang tak bisa dia miliki. Dia jatuh cinta pada Pagi." Malam berhenti sampai di sini. Seakan mencari-cari kata yang tepat untuk melanjutkan kisahnya.
"Lalu?", Senja selalu tak sabar.
"Seperti yang kamu tau, tak ada yang bisa mengekalkan Pagi. Dia selalu mengecup dalam diam kemudian hilang. Begitu selalu, datang ketika selaksa warna merah merekah di ufuk timur dan pergi saat mentari semakin tinggi. Dia tidak perduli betapa si gadis begitu rindu menunggu." Malam menghela napas, menatap selembar daun melayang kemudian sentuh tanah.
"Dia tahu, Pagi tak ditakdirkan menjadi miliknya. Kini setiap malam, saat matahari bergerak pelan menyentuh bumi. Gadis ini berdoa. Meminta, dia tidak ingin lagi jatuh cinta."
Malam diam, kata-katanya menjelma gerimis berbisik seperti tangis.
"Bolehkah kita jatuh cinta?" Senja bertanya, tak ada jawaban. Langit semakin kelam, hitam sewarna malam.

Wednesday, November 9, 2011

Sendiri




Klo ada yang tanya apa yang mau sekali aku lakukan saat ini, aku akan jawab,


"Aku mau meninggalkan dan membiarkan diriku sendiri sementara."

Monday, October 31, 2011

Letter From You



Oktober, 31, 2011

Dear my love
Sudah jam 1 malam di sini, sedari sore aku hanya berbaring memangku laptopku. Memandang keluar jendela daun yang mulai menguning dan berwarna jingga pertanda musim gugur hampir usai. Sekarang gelap menjadi terlalu cepat, matahari seakan buru-buru berselimut awan. Entahlah dear
Hadir galau resah di pembaringan sendiri, sambil lalu menyaksikan debat di EU Parlement dengan soal default nya Yunani. Tapi tetap tidak bisa memfokuskan pikiranku. Terlalu lama aku menikmati gelap dalam sendiri, entahlah tiba-tiba ketakutan tentang sunyi itu menyergapku. Kamu tahu dear aku terlalu takut dan selalu takut.
I am not what it seem to be
Just me dear
Just me
Thank you for listening, even I dont know whether you will notice or not this note. I just need to speak out my mind.
The cold of autumn breeze smashing my bone. 

 ~DmD


My Dear...
Kamu tau, aku merasa tidak sendiri setiap kali kita saling berbicara. Memang sendiri, tapi bukan berarti sepi. Kita membicarakan banyak hal. Kita mempertanyakan banyak tanya. Apakah kau mengerti? Sepi bukan berarti kamu benar-benar sendiri, selalu ada aku, teman-teman yang mau mendengarkan.
Berceritalah seperti dulu, ceritakan tentang daun-daun yang menguning, tentang bulan perak sepotong menggantung di langit, tentang kecipak air yang terdengar di sepanjang Canale-canale, stasiun-stasiun kereta, lampu-lampu temaram yang menyinari kubah-kubah gereja dan  bangunan kuno sampai jembatan. Ceritakan tentang keriangan canda tawa dan alunan musik klasik yang datang dari cafe-cafe tua. Bawa aku berpetualang ke sana.
Dan saat kamu rindu rumah, akan kuceritakan tentang sawah-sawah, tentang gunung-gunung, lembah, sungai kecil di belakang rumah, tentang anak-anak gembala yang menggiring ternak. Kau tak akan merasa begitu jauh untuk pulang.
Berbagilah, jangan terlalu lama menenggelamkan diri diantara kertas-kertas dan tugas yang tak ada habisnya. Sesekali naiklah ke permukaan hirup udara segar, nikmati hangat sapaan kawan. Hidup pun perlu di nikmati, tidak selalu harus hitam dan putih. Banyak warna di sini hampir seperti pelangi.

Aku selalu di sini... dan rindu obrolan malam kita.


With Love...#hug

Sunday, October 30, 2011

First Time


"Aku tidak yakin kita harus melakukan ini."

"Jangan konyol. Tidak ada yang bisa melihat kita. "

"Ini bukan berarti aku tidak bisa melakukannya! Bagaimana jika ini mengubah segalanya? "

"Tidak ada yang akan berubah: kita saling mencintai, kan?. Jadi percayalah padaku."

"Benar! Tapi - "

"Shhhhh, sudah waktunya."

Bulan di puncak bukit. Ada keheningan yang ganjil, dunia diam menahan napas. Punggungnya sobek, bulu-bulu terbang, taring memanjang, dia mentransformasi diri.
Dia mematikan otaknya. Menghela napas dalam-dalam, menghirup aroma darah dalam tubuh manusia disekitarnya.


Sebuah lolongan pilu memecah malam... saatnya memulai perburuan pertama...

Saturday, October 29, 2011

Saxophone Tua

Kamu tau, semalam aku memimpikanmu. Dalam mimpiku, aku adalah pengamen jalanan sementara dirimu adalah saxophone yang menggelayut di leherku. Kita berdiri di sudut alun-alun, tepat di seberang kafe di mana sebelumnya kita nikmati sisa malam. Warna senja pekat mulai merayap, bibir kita tak henti menyatu untuk saling mencumbu, mengalunkan harmoni yang menyayat bagai sembilu, menemani manusia-manusia yang berlalu lalang datang dan pergi. 

Baru dini hari saat semua orang terlelap kita berhenti sejenak. Kembali ke ruang lembab yang berukuran 3x3, kamar kos murahan dengan ranjang kayu yang lapuk dilumat rayap. Aku tak begitu banyak mempunyai banyak barang seperti halnya tempat lain yang lebih layak disebut rumah. Bahkan akhir-akhir ini pemilik kos mulai cerewet, aku terlambat membayar uang sewa selama dua bulan. Tidak banyak uang yang kita dapatkan setiap malam, hanya cukup untuk sekedar membeli satu potong roti dan secangkir kopi. 

Kita memang hidup di jaman yang salah. Orang-orang kini tak berminat lagi mendengarkan musik jalanan seperti kita. Mereka lebih menyukai opera sabun yang biasa ditayangkan di kotak busuk penebar mimpi bernama televisi. Hampir semua ceritanya berakhir bahagia kemudian ditutup dengan musik ceria yang membahana. Seharusnya mereka tau hidup yang sebenarnya tak seperti itu. 

Mungkin memang aku yang tak berbakat untuk kehidupan ini. Bahkan kematian sepertinya menjadi tamu yang selalu aku tunggu. Bagaimana tidak setelah kau memutuskan bunuh diri di jembatan yang membelah kota, mungkin itu lah satu-satunya cara yang paling bisa di terima. Namun sayang hidup tak selalu berpihak padaku bahkan setelah gagal mengiris nadi dengan pisau berkarat, kematian terlalu enggan mendekat. 

Tunggu lah dengan sabar, aku merasa waktu mulai pergi dariku dan meninggalkan jejak-jejaknya di tubuhku. Kita nikmati saja malam yang selalu terlalu kelam, di luar hanya ada mendung yang diam, tak ada hujan. 

Saxophone makin mendayu, terdengar syahdu...

Saturday, October 22, 2011

Hmm...

Hati-hati saat menjelekkan orang lain. Mungkin saja dia membicarakanmu dalam kebaikan. Malu sama Tuhan...    

^_^

Pernahkah?

Pernahkah aku menyakitimu, membuatmu merasa tidak nyaman, mengusikmu secara sadar dan sengaja?
Atau bahkan menggangu kehidupanmu sekarang... 

Mungkin salahku hanya menjadi 'Mantan pacar' kekasihmu. 
Aku memang sedikit tidak nyaman dengan kemesraan kalian yang terlihat secara jelas, tapi itu tidak cukup membuatku sanggup membenci orang lain. Aku tidak pernah membenci siapapun, tidak juga kamu.. kamu adalah kekasihnya sekarang.. bukankah saat dia bahagia aku pun ikut bahagia?
Cerita kami sudah selesai jauh hari sebelum dia bertemu denganmu. Mungkin memang selalu ada yang tersisa, tapi itu tidak lagi rasa yang sama. Jangan membenciku karna masa lalu, aku tidak pernah bisa merubahnya.

Bisa kah kau membiarkanku sendiri, tidak mengusik hidupku, anggap saja aku kasat mata... sekarang aku sudah memiliki kebahagiaanku sendiri bila itu membuatmu lebih tenang.

Tak pernah ada benci dalam hatiku, yang membuatku sedih hanyalah kenapa aku begitu di benci...


Monday, October 10, 2011

It’s all in my head

And maybe it’s true, I’m falling for you. Maybe there’s a chance that you’re stuck on me, too. 

So maybe I’m wrong, it’s all in my head, but maybe we’re afraid of words we both haven’t said.

Saturday, September 24, 2011

The Vampire

Aku berdiri di ruang gelap sebuah menara. Ruangan yg hanya berisi peti mati, tutupnya terbuka. Berada di sini sekarang adalah bodoh tetapi sudah telambat. Aku mendengar langkah kaki, lambat dan semakin dekat mendaki tangga spiral. 
Satu-satunya cara melarikan diri adalah dengan melewati mereka. Aku melihat ke peti mati, kemudian tangga. Aku bisa melihat cahaya lilin, seperti penyiksaku, berkedip redup. 
Tak ada pilihan lain lagi, seperti binatang aku merangkak ke dalam peti matiku dan menutupnya. Perasaan takut mengalir di antara nadi2 yg telah beku menelusup ke jantungku yg sdh lama berhenti berdetak.
aku menunggu...

Wednesday, August 24, 2011

It's Just Coffe

Jika lima tahun yang lalu seseorang mengatakan bahwa bekerja paruh waktu di sebuah coffee shop adalah masa depanku, mungkin aku akan memilih mendaftar wajib militer untuk menghindarinya. Atau menjual semua barang milikku, membeli ransel yang bagus, dan menghilang ke arah matahari terbenam hanya berbekal paspor dan atlas dunia. Namun, setelah empat tahun masa kuliah, di sinilah aku, gadis berupah minim di sebuah coffe shop dua blok jauhnya dari kampus lamaku. 

“Life couldn't get much more depressing,” gumamku. 


Café René tempatku bekerja saat ini adalah café yang terletak di sebuah bangunan abad pertengahan di St. Mary’s Lane, dengan interior klasik dan sederhana. Bagian depan dari café tidak lebih dari sebuah pintu yang mengarah ke serambi yang kemudian lurus ke sebuah konter kecil. Langit-langit yang berpanel rendah disangga balok kayu besar, dikombinasikan dengan rak-rak yang memuat koleksi buku-buku lama. Sofa nyaman di beberapa sudut, alunan jazz menyeruak di setiap sudut ruang, dan bau apek khas yang tampaknya semakin menambah karakter khusus sebuah café klasik.

Aku dengan malas memisahkan buku-buku berdasarkan katalog dan judul: fiction, romance, history, saat bel di atas pintu depan berdenting pelan, hampir tak terdengar dari tempat aku duduk. Di pintu masuk aku mendapati seorang wanita berjalan ke arah konter. Pada hari yang sepi seperti sekarang ini, satu pelanggan bisa membebaskanku dari pekerjaan monoton yang sangat membosankan. Aku meluruskan celemek, merapikan lipatan baju, dan memastikan nota serta menu ada di tangan.

"Good evening! Selamat datang di Café René. Apa yang bisa saya sajikan untuk Anda malam ini?” sapaku dengan kata-kata yang sudah sangat ku hapal.

Seperti kebanyakan orang yang cukup sopan, dia tersenyum ke arahku, memamerkan serangkaian gigi putih sempurna, bahkan sepertinya dokter gigi pun akan menyorakinya. Dia selalu datang pada jam yang hampir sama, meminta kopi yang sama, duduk di meja yang sama lalu berkutat dengan bukunya sampai larut malam. Terkadang hanya duduk diam, menyeruput kopi, dan mengamati sekeliling café sebelum akhirnya pergi lagi. Di lain waktu dia datang dengan beberapa orang dan asik berceloteh. Aku selalu mengamatinya, menikmati setiap kali dia berbicara, atau melihatnya berjalan memasuki café, perubahan cepat dari ekspresi di wajahnya, dan bagaimana dia tampak tertawa dan tersenyum.Tetapi
malam ini, tidak seperti biasanya dia lebih memilih duduk di meja konter. 


"Kopi saja, thanks. Hitam, aku butuh sedikit kafein malam ini," jawabnya.

Sementara ia berbicara, aku mengamati sosok di depanku dengan cermat. Kuterka ia hanya lebih tua beberapa tahun dariku. Caranya berpakaian, kombinasi yang sederhana dengan warna-warna natural dan hangat membuatnya terlihat menarik. Aku berani bertaruh bahwa dia memiliki beberapa baju-baju mahal di lemarinya, yang barangkali tak mampu kubeli dengan 6 bulan gaji di sini. 


"Baik.” Jawabku. Dengan segera aku mengisi cangkir dengan kopi dari salah satu termos besar di rak belakang. Dia menunggu dengan tenang sampai aku menyerahkan kopi panas di depannya. 


“Apa ada lagi yang Anda butuhkan?" Tanyaku ramah. Dia memiringkan kepala sedikit dan menyipitkan matanya dengan cara yang tiba-tiba membuatku gugup.

"Sepertinya belum ada, terima kasih.” Jawabnya.


Dia mulai mencicipi kopinya dan mendesah puas, seolah-olah satu tegukan kopi tadi mulai mencair sepanjang tulang-tulangnya. Satu tegukan lagi, dan kali ini lebih lama, yang lagi-lagi diikuti oleh helaan napas yang dalam. Sepertinya orang ini benar-benar menikmati kopinya.
Hanya beberapa detik singkat, atau mungkin lebih, telah berlalu dalam diam. Dan aku mengambil evaluasi dengan tenang dari keseluruhan penampilan wanita ini. Wajahku memerah ketika dia mengangkat wajahnya lagi dan memergoki aku sedang mengamatinya. Dia hanya tersenyum, tampaknya tidak tersinggung dengan kekurangajaranku.
Dia mulai menyesap kopinya lagi, tetapi kali ini menjaga matanya tetap tertuju padaku. Oke, itu membuatku agak sedikit gugup.

"Jadi… Amelia. Apakah memang selalu setenang ini?" Tanyanya tiba-tiba.


"Maaf?" tanyaku dengan nada bingung dan kaget. Dia pasti melihat name tag yang terpampang jelas di dadaku. "Tidak, tidak, hanya pada jam-jam tertentu saja. Dan ini musim panas, hampir semua orang menghabiskan liburan musim panas mereka di luar kota." Jawabku tergagap. 


"Bagus, itu melegakan. Kau tahu, aku sangat jarang menghabiskan waktu di café yang terlalu ramai sebelumnya, tapi aku pikir tempat ini mungkin cukup nyaman dan sepi." Dia berhenti, tersenyum sekarang sedikit nakal dan seperti mencoba menerka apa yang aku pikirkan.

Jeda yang lain, kali ini terasa aneh bagiku, canggung, untuk beberapa hal aku tidak begitu yakin. Aku mulai merasa sedikit bingung, seolah-olah meskipun dia berbicara dengan sangat jelas, ada semacam kode rahasia yang aku kenal. Entah kenapa aku selalu suka caranya bertanya. Ah, tapi tidak juga. Aku selalu suka saat dia bicara. Hmmm, tapi bukan juga sebenarnya. Aku hanya suka setiap dia ada. Meski dia tak bicara, tak bertanya, bahkan tak melakukan apa-apa.


“Yah… tenang, tetapi terkadang sangat membosankan jika tidak ada seorang pun yang bisa kita ajak bicara.” Ujarku hampir seperti bicara pada diri sendiri.

Kali ini dia tertawa, lalu dia berdiri dari kursinya, mengeluarkan beberapa dollar dari dompet dan mulai mengambil tas serta kunci mobilnya. Kurasa ia memutuskan sudah waktunya untuk pergi.

"Sudah mau pergi?" Tanyaku, dan bahkan aku bisa mendengar nada kecewa dalam suaraku. 


"Yap, aku harus mengejar jadwal keberangkatan pesawat dan itu tinggal 30 menit lagi, jadi lebih baik aku segera berangkat," katanya. Mulutku sedikit melengkung hampir seperti orang yang merajuk. Dia melangkah ke arah pintu keluar, kemudian membalikan badan saat aku hendak membuka mulut.

 
"Have a nice night! Ngomong-ngomong, aku Alice," katanya. "Apakah kamu biasa bekerja pada malam hari?" 


"Hampir setiap hari, dari pukul lima sampai tutup. Senang bertemu denganmu, Alice! " 

"Senang bertemu denganmu juga, dan aku yakin kita akan bertemu lagi, segera," katanya, kemudian berbalik dan berjalan kembali ke arah pintu utama. Aku menatapnya hingga dia menghilang di balik pintu keluar. Diikuti gemerincing samar lonceng di atas pintu saat Alice melangkah kembali ke jalan dan keluar dari café.

Dia benar-benar sudah pergi, sekarang aku tidak tau apa yang harus aku lakukan dengan diriku sendiri. Aku melihat sekeliling, meja-meja kosong, alunan jazz, dan ruangan café tempatku bekerja. Segalanya tampak kembali menjadi kusam dan kosong.


Ada sesuatu tentang dirinya, something... Attractive? Magnetic? Sesuatu yang bisa mengisi ruang dengan cara yang tidak dapat dijelaskan dengan geometri sederhana. Dia seolah mampu mengisinya dengan kehangatan. Sesuatu yang sulit untuk dijelaskan. Dan aku mendapati diriku sendiri kembali mengingat percakapan singkat kami. Untungnya, aku berhasil membuat dia lebih banyak berbicara. Sehingga aku tidak perlu banyak melakukan hal-hal konyol.


Entah mungkin hanya perasaanku saja, ada jeda saat dia berbicara hanya untuk melihatku, mengukur reaksiku, atau sesuatu yang lebih, meskipun aku tidak yakin apa itu. Mungkin untuk orang normal akan dengan mudah mengetahuinya, tetapi untuk orang yang tidak begitu peka sepertiku, butuh waktu beberapa saat untuk menyadarinya. Lain kali saat dia datang, aku memutuskan akan lebih perhatian. Ajukan lebih banyak pertanyaan, mencoba mengenalnya lebih baik. Ini membuatku frustasi, aku tidak yakin kapan dia akan datang lagi. 


Di luar café malam makin hening, cahaya membercak di ruas-ruas jendela. Sesekali terdengar dari kejauhan decit rem, klakson, mobil, warna pucat merayap di lekuk bangunan-bangunan tua, dan siluet orang lalu-lalang tak bersuara. Sudah waktunya menutup café dan membersihkan semuanya.
+035624811356…
Call me when you have some free time!

~Alice

Secarik kertas yang kutemukan terselip di bawah cangkir kopi kosong.


Hmm… Well, sepertinya memang akan ada kesempatan yang lain.
© Just Floo 2012 | Blogger Template by Enny Law - Ngetik Dot Com - Nulis