Wednesday, November 6, 2013

Grief

They say grief occurs in five stages. First, there's denial, followed by anger. Then comes bargaining, depression, and acceptance. But grief is a merciless master. Just when you think you're free, you realize you never stood a chance.

Wednesday, September 11, 2013


Terkadang, seekor keledai pun tidak benar-benar sadar dia itu sangat dungu...

Sunday, August 4, 2013

Java

Gadis ini bekerja di tempat yang sama dengan adikku lucy. Mereka memanggilnya Java, tipe workaholic yang terlalu banyak minuman kopi. Aku sedang duduk di rumah, chatting dengan salah satu temanku ketika ku lihat mobilnya berhenti di depan rumah. 
Now that surprised me. Pertama-tama, aku sedang tidak mengenakan apa-apa. Aku sudah setengah jalan ke kamar mandi ketika aku menyempatkan sebentar untuk memeriksa email terlebih dulu, jadi aku hanya menjatuhkan diriku di kursi dan, tentu saja, segera komputerku dibanjiri pesan singkat. Kedua, Java bekerja shiff malam dengan adikku, sehingga dia seharusnya istirahat di rumah, tidak berada di depan rumahku pada jam 01:30 di sore hari seperti sekarang. 
Aku yakin dia pasti tau bahwa lucy sedang pergi dengan pacar barunnya. Sial, kenapa dia tidak menelpon sebelumnya. Aku berbalik dan berdiri, mengenakan sepasang sandal, tersandung sudut ranjang di saat memasukan t-shirt ke dalam kepalaku. Bel pintu berbunyi, aku dengan buru-buru keluar dari kamar tidur. Aku tahu kakakku yang lain, baby, tidak ada di rumah karena aku tidak melihat toyotanya di jalan masuk. Aku membuka pintu dan di sanalah berdiri Java, sedikit kusut seperti baru saja bangun dari tempat tidur. 

"Hei, aku minta maaf karena mengganggumu, aku tidak punya telepon jadi aku tidak memberi tahu sebelum datang ke sini.." 

"Lucy sedang tidak ada di rumah?" 

"Ya, aku tau. Aku tidak datang ke sini untuk menemui lucy, aku datang untuk menanyakan sesuatu.." 

"Ada yang salah, Java? Kau ingin aku bekerja shift untuk mu? Tetapi aku bekerja full time sekarang di kota?" 

"Tidak, tidak. Bukan tentang mcdonald, happy." dia menunduk memandang kakinya dan tersipu sedikit. 
"Boleh aku masuk?" 

"Oh tentu, aku minta maaf." aku mempersilahkan dia masuk dan menutup pintu. Am i a dumb shit or what? 

"Aku berharap jika kita mungkin bisa pergi keluar bersama malam ini. Aku mempunyai sesuatu yang harus aku bicarakan denganmu," katanya. Matanya kadang-kadang bergerak naik dan ketika dia melihat aku menatap langsung ke arahnya, dengan segera memalingkan mukannya. Aku memberi isyarat mempersilahkan dia untuk duduk di sofa dan aku duduk bersila di sisi lain. 

"Ada apa, Java kamu dalam kesulitan?" 

"Tidak, tidak sama sekali. Akan butuh waktu terlalu lama untuk menjelaskannya sekarang, happy. Aku harus tidur lihat aku! Apakah antara pukul enam dan tujuh waktu tepat untuk menjemputmu?" 

Aku memandangnya. Seperti yang aku katakan, dia tampak lelah. Ada sesuatu yang berbeda dengan tingkah dan matannya. Aku sudah kenal Java selama lebih dari dua tahun. Dia mulai bekerja pada shift malam lucy dan sekarang dia adalah kepala kru lucy. Aku tidak terlalu sering bertemu dengannya ketika masih kerja di mcdonalds, karena kami berbeda shift. 

"Bisakah kamu memberiku sedikit petunjuk hal yang akan kita bicarakan nanti?" 

"Sungguh, aku lebih suka menunggu sampai kita punya waktu untuk membahasnya aku janji itu tidak buruk. Setidaknya aku tidak berpikir itu buruk." 

"Well, ok hon. Ini pasti penting sekali buatmu sampai harus jauh berkendaraan ke sini seperti ini. Lain kali kirim saja merpati pos..." dia tertawa, tawa gugup, tapi dia melihat langsung ke mataku. Mata yang bagus. 

"Terima kasih, kalau begitu sampai ketemu pukul tujuh." Dia berpamitan dan keluar, hampir terjatuh saat menuruni tangga. Pasti sangat kelelahan. Pikirku. Dia melirikku sebelum masuk ke dalam mobilnya. Nice car, too. Keluaran baru pontiac lebaron convertible. Ayahnya cukup kaya, dan dia masih tinggal dengan mereka. Aku menutup pintu dan kembali ke kamar. Aneh, pikirku. Aku mempunyai sekitar lima setengah jam sampai dia kembali. Banyak waktu untuk bersiap-siap. 

Matahari terbenam sekitar pukul 7 di arizona selama akhir september. Tidak ada cahaya yang tersisa, mobilnya jave memasuki halaman rumah. Sepanjang sore ini aku penasaran dengan apa yang akan dia katakan. Aku melihat tiga tetangga memeriksa melalui tirai mereka. Sial, pikirku. Aku melambai kepada mrs dolzone. Java tampak sangat berbeda dari sebelumnya. Dia tampak hidup. Rambut cokelat membingkai wajahnya dengan lembut dan bergaya. Dia mengenakan baju biru lembut dan celana pendek. Dia tidak perlu mengganti apapun untuk mengubah image nya, bagaimana dia membawa diri sudah sangat mencerminkan karakternya. 

"Hey happy! You ready?" dia berjalan menaiki tangga. 

"Ya tentu saja, aku sangat tidak sabar mendengar apa yang ingin kamu bicarakan." jawabku, dan dia hanya tersenyum. Dia berjalan kembali ke mobilnya, tanpa menatapku. Aku berjalan ke sisi penumpang dan dia menunggu untuk membuka pintu sampai aku benar-benar masuk ke dalam mobilnya. Kami mengambil rute timur yang tidak begitu padat. 

"Ke canyon lake?" aku bertanya. 

"Ya. Aku pikir tempat itu cukup tenang untuk bicara, jika kamu tidak keberatan." 

"Tentu saja. Aku tidak keberatan," kataku. Matanya mengernyit sedikit tetapi tidak mengatakan apa-apa. Kami melaju 15 mil route 88 ke arah danau. Canyon lake berada di pegunungan yang terletak di tonto national forest. Ada tiga danau sepanjang route 88. Yang pertama adalah Canyon Lake, Apache Lake, dan Roosevelt Lake. 

Java mengendarai mobilnya menuruni bukit, menyeberang jembatan dan berbelok ke kiri segera setelah area piknik pertama. Tidak terlalu banyak orang. Dia memarkir mobilnya dan kami keluar meregangkan otot sedikit. Udara malam terasa dingin di sini di tepi danau. Kami berjalan dan menemukan bangku taman untuk diduduki. Lampu-lampu dari tempat parkir memberi cahaya keemasan menimpa air danau. 

"Ok, now what's all this is about?" aku mencoba terdengar tenang. Sebenarnya, hampir mati penasaran dengan apa yang ada di pikirannya. 

Matanya menunduk lagi. "Aku harap kamu tidak keberatan aku ajak keluar malam ini, sementara kakakmu tak ada di rumah." 

"Tak apa, apakah ada masalah dengan lucy?" 

"Tidak, aku tau aku tidak akan bertemu lucy saat datang untuk bertemu kamu." 

"Jadi, untuk apa kamu ingin berbicara denganku?" 

"Aku ingin mengenal kamu lebih baik, happy, kalau kamu tidak keberatan." Aku menggigit bibir bawahku. Java adalah anak yang sangat manis. Aku hanya bisa berkata, "oh?" 

"Itu saja." dia tidak memberikanku rincian 

"Kenapa... Kenapa kamu tidak pernah menyebutkan hal ini sebelumnya?" 

"Aku mungkin memiliki banyak kepercayaan diri di tempat kerja, happy, tapi dalam kehidupan pribadiku, aku sangat malu dan aku tidak ingin seluruh dunia tahu bahwa aku tertarik padamu. " dia segera menambahkan, "Aku tidak ingin terlihat bodoh. " 

"Aku tidak pernah melihatmu keliatan bodoh Java." 

"Yah, aku tidak ingin orangtuaku tau kalo aku menyukai sesama perempuan, kau tahu?" 

"Apa lucy tahu tentang ini?" 

"Tidak!" wajahnnya bersemu merah. "Lucy tidak tahu kalo aku .. Ok, kalo aku tertarik kepadamu." 

"Aku pikir kamu harus lebih terbuka tentang perasaanmu Java apalagi dengan lucy,.. Dia bisa membantumu." di dalam hati aku menendang diriku sendiri untuk mengubah topik pembicaraan. 

"Aku tidak pernah bisa melakukan itu sementara aku tinggal bersama orang tuaku, happy. Mereka tidak akan pernah mengerti akan beda masalahnya kalo aku tidak tinggal dengan mereka. Aku mempertaruhkan banyak dengan datang menemuimu, aku tahu tapi aku merasa bahwa kamu akan mengerti. " 

"Kau tahu bahwa lucy dan baby harus tahu, Java. Aku tidak menyimpan rahasia dari mereka.. Tapi mereka tidak akan memberitahu siapa pun, aku pastikan itu ." Dia akhirnya berbalik menatapku dengan wajah paling lembut yang pernah aku lihat. "Jadi, tidak apa-apa jika kita sering bertemu?" 

Sekarang giliran wajahku berubah merah. Aku ingin mengatakan, aku mencoba untuk mengatakan, look java… aku tidak biasanya pergi berdua. Saat melihat langsung matannya aku hanya bias berkata, "Eh, tentu." 

"Kamu ingin kita berhubungan tanpa orang lain tahu?" Dia tersipu lagi. Sialan! "Mungkin kamu dapat membuatku sedikit lebih percaya diri untuk bisa melaluinya, untuk lebih terbuka." Sekarang dia benar-benar membuatku terkejut. Aku tidak pernah berpikir ada seorang gadis yang lebih percaya diri karena berada di dekatku. 

"Yah, kita punya waktu sepanjang malam Java. Apa yang ingin kamu lakukan sekarang? 

"Aku ingin mengenalmu lebih baik," katanya. I thought, ya tuhan... Anak ini. Aku tidak terbiasa dengan ini semua. Perempuan pemalu yang selalu bersemu merah ini, sikap segar dan terus terangnya. Jadi aku bertanya, "Bagaimana tepatnya kamu ingin kita lebih mengenal satu sama lain, Java?" 

Dia tidak mengatakan apa-apa pada awalnya. Lalu ia berdiri, berbalik dan duduk disampingku. Jantungku berdebar-debar. Mataku terbuka lebar. Kedua tanganku berkeringat. Aku tidak percaya ini terjadi padaku. Dan satu kecupan lembut di bibirku. Untuk pertama kalinya dalam hidup ku, aku kehilangan kendali. Yang bisa kulakukan adalah tersenyum bodoh. 

"Apakah itu sudah cukup sebagai awal happy?" Dan aku hanya bisa berkata, "Oh ya aku pikir. Begitu." Perhatikan bagaimana aku pintar menghadapi situasi seperti ini. Aku tidak tahu apa yang harus aku katakan, atau apa yang aku rasakan jika aku harus merasa atau mengatakan sesuatu,atau apa pun itu. Dia tersenyum padaku dan hatiku berdetak lain, bukan karena dia pemalu. Aku sudah pernah jalan dengan gadis-gadis pemalu dan tenang sebelumnya. Bukan karena dia salah satu teman lucky. Aku telah beberapa kali jalan dengan teman-temannya di masa lalu. Bukan karena dia menciumku, aku telah mencium perempuan ratusan kali. Bukan karena dia selalu tersipu tidak, bukan itu, tidak sama sekali. Namun sekarang di sini duduk dengannya, aku tidak percaya gadis ini ingin bersamaku. Bahkan lebih. 

Dia tersenyum padaku lagi. "Kamu tidak terlalu banyak bicara. Apakah itu pertanda baik?" 

"Iya...." Dia tampak begitu lembut di bawah cahaya lampu. Aku bisa merasakan diriku gemetar.

Yogyakarta


Jogja tempat rangkaian sejarah, kisah, dan kenangan yang saling berkelindan di tiap ruas jalan. Bertahun sejak pertama kalinya menginjak kota ini... tidak banyak berubah. Dan selalu setiap kali pulang, ada yang tertinggal, ada yang hilang, ada yang melekat dalam ingatan, kenangan lama dan baru.
Kali ini saya menyusuri jalan malioboro tidak sendiri, ada tangan yang menggenggam bahkan sesekali memeluk diselingi candaan ringan. di sekitar kami orang-orang berdesak-desakan di sepanjang Jalan. Berdiri di trotoar bahkan meluber hingga badan jalan. Suasana begitu gaduh dan riuh. Tawa renyah saling beradu dengan jerit klakson mobil, suara alunan gamelan kaset dan teriakan pedagang yang menjajakan dagangannya berbaur menjadi satu.
Aneka cinderamata buatan, hiasan rotan, perak, kerajinan bambu, wayang kulit, blangkon, miniatur kendaraan tradisional, asesoris, hingga gantungan kunci semua di tawarkan. Kami berdua sesekali mencoba melihat-lihat. 

Berkeliling dengan becak adalah pilihan kami menikmati kota jogja sambil merasakan suasana yang lebih santai. Alun-alun selatan tempat beringin kembar juga tidak lupa kami datangi. Mencoba membuat satu keinginan dan menutup mata sambil melewatinnya. Menikmati makan malam yang romantis di warung lesehan sembari mendengarkan pengamen jalanan mendendangkan lagu "Yogyakarta" milik Kla Project. Aku bahkan berulang-ulang meminta lagu lain dari penyanyi yang sama. Sesekali mengajak ngobrol pengamennya saat dia istirahat menyanyika lagu-lagu yang kami pesan.
Pesona kota ini tak pernah pudar oleh jaman. Seperti kalimat awal yang ada dalam sajak Melodia karya Umbu Landu Paranggi "Cintalah yang membuat diriku betah sesekali bertahan", kenangan dan kecintaan banyak orang terhadap kota ini lah yang membuat eksotisme kota jogja terus berpendar hingga kini memaksa siapapun untuk terus kembali ke kesana.


~Yogyakarta, 2 Maret 2013



a simple hello


You started out with a simple hello. And we have cherished many simple moments since then. Even a simple hello can lead to something sweet. It leads me to you...

Wednesday, July 24, 2013

Coklat

Aku memanggilnya coklat, bukan karena dia terlihat begitu lezat seperti coklat, atau berkulit gelap seperti coklat, tetapi karena hampir setiap menit dia tidak pernah berhenti memasukan coklat-coklat ke dalam mulutnya. Usianya sekitar 26 tahun, gadis berkulit putih dan cukup cantik untuk seseorang yang memiliki berat badan dua kali lipat lebih besar dariku. Tidak heran dengan kebiasaanya itu, dia terlihat berbeda dari perempuan lain di kantor. 
Entah sejak kapan aku mulai suka melihat dia menikmati coklatnya, kelopak matanya meredup saat rasa susu di dalam coklat meleleh dan membanjiri mulutnya. Dia selalu terlihat begitu menikmati setiap gigitannya. Aku selalu mengamati perempuan itu meneliti wajahnya di tiap sudut. Juga waktu ia mengusap mulut dengan tisu. Untuk beberapa orang, sekali kau dilukai, kau akan mampu melihat luka orang lain. Dan wajah itu seperti membuka diri, lapis demi lapis. 

 *** 
Aku berjalan ke arah toilet saat tanpa sengaja bertabrakan dengannya, dan kertas-kertas yang dia pegang pun berhamburan. 
 “Ah Maaf.” kataku sambil membantunya memunguti berkas-berkas yang berceceran, aku melihat matanya sembab seperti habis menangis. “Kamu baik-baik saja?” tanyaku. 
“Iya terimakasih, aku tidak apa-apa.” Jawabnya, dia pun melangkah pergi tanpa berkata apa-apa lagi. Aku yakin ada sesuatu yang tidak beres hingga dia keluar dari toilet dengan terburu-buru seperti itu. Saat aku memasuki toilet ada dua karyawan kantor sedang berbicara lumayan keras untuk di bilang berbisik.
“Ah mungkin dia tidak suka laki-laki. Buktinya tidak sekalipun aku melihat dia dekat dengan cowok di kantor.” kata salah satu perempuan, sambil menaburkan bedak di pipinya. 
“Jangan-jangan dia sukanya sama perempuan.” Timpal salah satu temannya sambil cekikikan. Sekarang aku mengerti kenapa dia bersikap begitu. 
Setelah hari itu, aku tidak pernah melihatnya kembali ke kantor. Bahkan sampai berhari-hari dia tak pernah muncul lagi, beberapa dari pegawai lain bilang dia berhenti bekerja. Mungkin aku pun akan bersikap sama bila ada orang yang membicarakan aku sedemikian rupa. Hanya saja tak ada hal yang begitu menonjol dariku hingga orang perlu memperhatikan setiap gerak dan tindakanku di kantor. 

  *** 
Cafe tak terlalu penuh, dan di depanku ada coffe latte dengan busa tipis sampai ke bibir cangkir. Sementara di luar, malam bertambah gelap langit dipenuhi gumpalan awan pucat. Samar ketukan-ketukan drum dan trompet, jazz berimprovisasi tiada henti. Begitu banyak suara, seolah muncul dari balik kepala. Sebuah gema, dalam disonansi yang retak mengendap, seolah masuk semakin dalam ke lorong malam. 
Kopiku tinggal setengah, saat pelayan café menaruh secangkir coklat hangat di mejaku. 
“Maaf, sepertinya aku tidak memesan coklat hangat.” Kataku keheranan.
“Ini dari perempuan yang ada di sudut sebelah sana.” Jawabnya sambil menunjuk ke salah satu sudut cafe. Perempuan duduk sendiri, di sudut yang agak redup. “Dan juga ada note untuk anda.” Lanjutnya. 

Kamu terlihat selalu menyukai coklat 
Terimakasih untuk hari itu. 

~Luna… 

Lalu kulihat lagi perempuan itu. Terlihat cantik dengan satu senyum dibingkai wajah bulat.

Tuesday, July 23, 2013

Sleep

Sleep Sleep precious Sleep my love, Sleep until nothing’s left. Sleep until the world is gone. Sleep until it’s cold. Sleep until the world is black.
Sshh… don’t speak, You’re too weak. Just close those tired sore eyes and sleep. Dream of a better world, dream of a bright future, dream of the perfect life, dream of what will never be.
Sleep soundly... 
Sleep peacefully...
Sleep deeply...
Sleep forever..
Nothing can hurt you , no one can get you. You’re safe now, just close your eyes and sleep. Sleep my love, Sleep my sweet, Sleep darling love, Sleep... I’ll be with you soon, wait for me hust sleep For now.

Obrolan


Setelah lama tak jumpa, aku dan kawan lama bertemu di sebuah cafe di sudut kota. Sobatku itu tak berubah semenjak kami lulus SMU. Tetap ceria dan sedikit usil, tapi juga masih kritis, dan idealis seperti yang aku kenal. Dia satu-satunya yang tau benar tentang aku, dan dia juga orang yang lebih mengerti situasiku. Kami duduk berdua diantara salah satu meja yang tersusun rapi di tepi balkon café
"Kamu baik-baik saja?" Tanyanya tidak lama setelah kami duduk dan memesan minuman.
"Iya... tidak... "
"Kenapa?"
"ini tentang aku, dia, kami tepatnya. Aku tau kami tidak selalu bisa bertemu, tapi yang menggangguku biasannya dia selalu ada untukku."
"Seperti jaring pengaman?" Dia menimpali.
"Ya, aku rasa seperti itu, lebih bahkan. Sekarang dia entah di mana, dan itu menakutkan."
"Boleh aku memberimu nasihat? Alasan seseorang ketakutan saat jaring pengamannya hilang, adalah karena dia mulai meragukan diri mereka sendiri. Dia pikir mereka tidak bisa melakukan apapun karena seseorang yang membuatnya selalu merasa aman, dan melindung tidak ada lagi."
"Kamu terlalu menjiwai analogi jaring ini."
"Seperti saat seseorang mengatakan kalo kamu terjatuh, maka..."
"Jangan bilang ...akan ku tangkap."
"Percis... hubungan jangka panjang, mustahil tanpa melewati hal-hal seperti ini. Dan itu wajar, tinggal bagaimana kalian bisa saling mengobati luka setelahnya."
"Kamu bicara terlalu banyak kamu tau...."
"Hahaha... baiklah... Pikirkan baik-baik apapun itu. Kan kamu sendiri yang sering ngutip tulisan bang Toga, 'bahwa kekasih sejati sekalipun, tak selalu bisa menyediakan semua yang kamu inginkan. Tentang memahami, jika dia tak menyayangimu seperti yang kau inginkan, bukan berarti dia tak mencintaimu dengan segala yang dia punya.' Inget kan kata-kata itu? Sekarang berbalik kamu yang baca dan pahami sendiri."
"Hehe... iya."
"Sudahlah, makin kurus kamu nanti." Kelakarnya, dan aku hanya tertawa kecil. 
Sisa malam itu kami habiskan dengan bicara tentang waktu kami dulu, sekolah, kawan-kawan yang tidak ada lagi kabarnya, rencana reuni yang tidak kunjung kejadian. Membuatku rindu masa-masa dulu.
"Kangen jaman dulu boleh, tapi itu sudah lewat. Yang bisa kamu lakukan adalah pertahankan yang kamu miliki sekarang, cintai dan jaga dengan baik-baik. Pertaruhkan semuanya, jangan menyia-nyiakan kesempatan berbahagia, dengan terus-menerus terpusat pada diri sendiri." kawanku ini menutupnya dengan panjang lebar.
Alunan musik memenuhi tiap sudut kafe, kami diam sesaat. Aku dengan semua hal yang memenuhi kepalaku beberapa hari ini, dan dia mencoba menghabiskan minumannya. Aku mengambil telpon genggamku dan mencoba menelpon
"We're sorry the number you are calling can not receive calls at this time Please call again later."



Thursday, July 18, 2013

Change

Ketika kita sering mengatakan hal-hal seperti 'orang tidak akan pernah berubah', itu membuat beberapa orang berteriak protes. Karena perubahan secara harfiah adalah satu-satunya yang konstan dalam semua ilmu pengetahuan. Energi, materi, selalu berubah. Terlahir, tumbuh, mati.
Cara kita berpegang teguh pada hal-hal tertentu dan bukannya membiarkan mereka berubah menjadi diri mereka sendiri. Cara kita berpegang teguh pada kenangan lama, bukannya membentuk sebuah kenangan baru. Cara kita bersikeras percaya, meskipun setiap indikasi ilmiah mengatakan bahwa apa pun dalam hidup ini adalah permanen.
Perubahan adalah konstan, bagaimana kita melalui setiap step perubahan itu terserah kita. Hal ini akan terasa seperti sebuah kematian. Atau bisa terasa seperti kesempatan kedua dalam hidup.
Jika kita membuka jari-jari kita, mengendurkan genggaman, maka akan terasa seperti letupan adrenalin. Seperti setiap saat, kita dapat memiliki kesempatan lain dalam hidup. Seperti setiap saat, kita bisa dilahirkan sekali lagi.

Tuesday, June 18, 2013

Decisions

Did you ever think about how big of an effect such a simple decision can make? Decisions are building blocks of life, and every decision has an impact, whether It be big or small. 
People, in general, never really take the time to think decisions through. They choose split second, and at that moment you think you made the right choice... until something changes.

Alicia Keys - New Day




Party people say, party people say
Ay, it's a new day, it's a new day
The world's getting ready, everybody ready, yeah
For a new day, for a new day
Celebrate and say, ay, ay, ay, ay

It's alright to feel however you want to
There's no limitation no
Fill up your life, let me see your hands up one time
We celebrate mine, cause I ain't gonna get no more
So we can do this all night
One time, everybody say ay ay oh

There's a feeling that I got that I can't give up
Feeling in my heart that I can't get over
I know that it's coming like the sun come up
Tell me do you feel like say, everybody say

Party people say, party people say
Ay, it's a new day, it's a new day
The world's they getting ready, everybody ready, yeah
For a new day, for a new day
Celebrate and say, ay, ay, ay, ay

Take a look in my eyes, can't you see i'm ready
Come along, let's get it, eh
If you wanna touch the sky, hands in the air one time
All night, no doubt it
I'mma live it loud like there's only one life
Have to live it up, one life, have to live it up

There's a feeling that I got that I can't give up
Feeling in my heart that I can't get over
I know that it's coming like the sun come up
Tell me do you feel like say, everybody say

Party people say, party people say
Ay, it's a new day, it's a new day
While they getting ready, everybody ready, yeah
For a new day, for a new day
Celebrate and say, ay, ay, ay, ay

Eyes on the wall
It's now or never at all
I'm gonna give it my all
Whether I rise or fall
I'm gonna give it my all

Party people say, party people say
Ay, it's a new day, it's a new day
While they getting ready, everybody ready, yeah
For a new day, for a new day
Celebrate and say...

Monday, June 17, 2013


Darkness scares us. 
We yearn for the comfort of light as it provides shape and form... 
Allowing us to recognize, to define what's before us. 
But what is it we're afraid of, really? 
Not the darkness itself... 
But the truth we know hides within.

Saturday, June 8, 2013

You have more friends than you know


Mmm... Ohhh
We feel, we hear, your pain, your fear
But we're here, to say, who you are, is okay

And you don't have to go through this on your own
You're not alone

You have more friends than you know
Some who surround you
Some you are destined to meet
You'll have more love in your life

Don't let go, give it time
Take it slow
Those who love you the most, may need more time to grow

It's gonna be okay 
You have more friends than you know
Be brave, be strong,
You are loved, you belong

Some day soon 
 you will see (You will see)
You're exactly

Who you're supposed to be
And you don't have to go through this on your own You're not
alone You have more friends than you know
Some who surround you
Some you are destined to meet
You'll have more love in your life
Don't let go

Give it time 
 Take it slow
 Those who love you the most, (may need more time to grow)
It's gonna be okay You have more friends than you know

Be who you are learn to forgive
It's not about who you love, but how you live
Ooooh!
(You have more) friends than you know 
 Some who surround you 
 Some you are destined to meet
You'll have more (More!) love in your life
Don't let go, give it time
Take it slow
Marley and Blaine Those who love you the most, (may need more time to grow)

It's gonna be okay (Marley: It's gonna be okay)
You have more friends than you know
It's gonna be okay

Membiarkan pikiran seperti mati rasa, seperti lupa, Amnesia

Thursday, May 23, 2013

Engagement

Engagement can be a commitment to love... Or a declaration of war. 
One must enter every battle without hesitation, willing to fully engage the enemy... 
Till death do you part.
 
Jangan menjadi bisu, setelah lidah kehilangan ludah seusai cinta menghilang patah. 

Jangan.... 




@greenziezt

Monday, April 29, 2013

Union

 
From the moment we're born, we're drawn to form a union with others. An abiding drive to connect, to love, to belong. 
In a perfect union, we find the strength we cannot find in ourselves. But the strength of the union cannot be known... Until it is tested.

Monday, April 15, 2013

Funny Thing about Life


Here's the funny thing about life, though. 
It's actually a lot like a game. 
It's all about just putting in the time and finding your strengths. 
And if you screw up, you start over.

Revenge 2

To believe that a life is meant for a single purpose, one must also believe in a common fate. Father to daughter, brother to sister, mother to child. 
Blood ties can be as unyielding as they are eternal. But it is our bonds of choice, that truly light the road we trave, Love versus hatred, Loyalty against betrayal. 
A person's true destiny can only be revealed at the end of his journey, and the story I have to tell...  is far from over. 


Thursday, April 11, 2013

Satu Senja Di Yogjakarta

By : Dian


Saya juga masih ingat senyum malu-malu si mahasiswi yang duduk di sebrang meja kami ketika si pacar hendak menyuapkan makanan kemulutnya. Dia tak menduga hingga beberapa saat dia sempat ragu, sebelum kemudian membuka mulut untuk menyambut sumpit dengan wajah merona merah dan wajah si lelaki pun tak kalah merah...

Sedangkan di meja saya...
Sempat tidak ada percakapan diantara kami, kami hanya saling melihat dan mengangguk ketika menganggap makanan yang kami coba enak.
Namun, sesekali dia menyeka sudut bibir saya yang berlepotan sisa makanan dengan ujung jarinya.

Saya tau mereka semua berbunga-bunga. Sama saja seperti saya ketika jatuh cinta. Bahkan sampai hari ini  :)

Buncah..

Tuesday, March 26, 2013

@Leo_Rising

"Sometimes #Leo hate getting close to people because they think eventually everyone walk out of their life no matter how close they were."

"Sometimes when #Leo give up on someone, it's not because #Leo don't care anymore but because #Leo realize you don't."


Aneh... terkadang memang benar seperti itu...

Monday, February 25, 2013

Mengalir

Hidup mengalir seperti air, misteri yang membawa kita entah ke mana kata seseorang, tapi kenapa saya lebih suka menjadi ikan ketimbang daun kering mengambang pasrah diantarkan ke selokan... Bukannya kelewat menyedihkan seandainya kita tidak mampu memilih ke arah mana kita akan pergi... Masih untung jika pada akhirnya selokan berakhir di laut yang biru, yang sejuk, yang sayu... Bagaimana jika alirannya malah mengantar kita ke rawa-rawa suram...?

Wednesday, February 20, 2013

00.07


I am this secondary water source, filled with mud and something the government thought was the equivalent of a knockknock joke.
When you drink all that I am, there is a satisfying feeling in the pit of your stomach, somewhat like an ulcer, and all the frivolity inside of me tremors with purpose.
Unfortunately, as the sun decides to pack up, and as the day begins to lock the deadbolt, I feel as though
I am exactly what I am - And I am, consequently, no stronger for it.
© Just Floo 2012 | Blogger Template by Enny Law - Ngetik Dot Com - Nulis