Skip to main content

WHAT REMAINS [WAS BLEIBT]

Bayangan di Bawah Lampu Jalan

Kafe telah sepi saat aku beranjak pergi. Malam itu terasa membeku hingga ke tulang. Di luar kawasan Speicherstadt, angin menusuk tajam. Aku merapatkan jaket wol hitam, tangan terbenam di saku, rokok setengah habis masih terjepit di bibir. Di atas sana, awan kelabu bergejolak liar di atas deretan atap bata merah. Hampir pukul dua pagi.
Keheningan ganjil menyelimuti jalanan. Hanya samar klakson kapal feri dari kejauhan, dan lengkingan sirine yang memantul di celah kanal. Dinding-dinding gudang menjulang tinggi, membatasi langit. Dari arah Reeperbahn, orang-orang yang kelelahan melangkah pulang. Dan aku — masih harus menempuh perjalanan tiga jam menuju rumah di Cuxhaven.
Aku terpaku di tepi kanal ketika ia muncul. Berdiri tepat di bawah pantulan lampu jalan, mengenakan mantel wol berwarna cokelat pasir — persis seperti yang ia pakai malam terakhir kami bertemu. Dan di sana, senyum yang begitu kuingat, terasa hangat meski hanya dalam ingatan. Mustahil itu dia.
"Halo, Alex…"
Suaranya terdengar begitu nyata dan jernih. Rokok di bibirku terlepas, jatuh dan membakar ujung mantelku; aku menepuknya dengan panik. Ini bukan bayangan. Aku mendengar suaranya, melihat napasnya mengepul putih di udara yang membeku.
Seketika, kepalaku terlempar kembali tiga bulan silam — ke malam pertama kali senyum itu menyapaku.

Malam Bersalju di Stasiun

Salju menyelimuti Stasiun Pusat Hamburg. Papan jadwal berkedip tak menentu. Aku tertinggal kereta terakhir menuju Cuxhaven — semata karena keliru membaca jam. Di peron yang sama, berdiri seorang pemuda. Mantel cokelat pasirnya tampak agak kebesaran, tas kanvas berisi lukisan tersampir di bahu. Ia mengumpat pelan dalam bahasa Jerman, lalu menoleh padaku.
"Ketinggalan juga?" tanyanya dalam bahasa Inggris, melirik tiket yang kucengkeram kusut.
Itu Julian. Mahasiswa seni di Universitas HafenCity.
Dua jam hingga kereta berikutnya tiba. Ia mengajakku meninggalkan ruang tunggu yang pengap dan berdesakan — menuju Speicherstadt, ke kafe kecil yang sama dengan yang baru saja kutinggalkan. Ia memesan dua cokelat panas, lalu melepaskan syalnya dan melingkarkannya di leherku, menyadari jaket tipisku tak sanggup menahan dingin.
"Jika kau masih menggigil di Hamburg," bisiknya, ujung jarinya yang dingin menyentuh punggung tanganku di atas meja kayu tua, "berarti kau belum pernah benar-benar merasakan dinginnya kota ini." Sentuhan pertama kami — singkat, canggung, namun penuh kesengajaan.
Dan mantel cokelat pasir itu — kehangatan pertama yang pernah ia berikan padaku.

Janji yang Dilanggar

Beberapa bulan sebelumnya. Pemanas ruangan di tempat tinggal Julian rusak. Badai besar melanda kota. Ia menginap di lotengku. Kami berbaring di depan perapian, terbalut selimut tipis, tubuhnya menggigil hanya mengenakan kemeja putih longgar.
"Berjanjilah padaku, Alex…" bisiknya, wajah begitu dekat denganku. "Jika kelak aku hilang — jangan pernah mencariku di dasar kanal. Cari aku di stasiun. Aku pasti sedang menunggumu pulang."
Aku tertawa saat itu, menarik selimut lebih tinggi. "Kau konyol sekali. Bukankah aku yang selalu terlambat? Dan kaulah yang selalu datang tepat waktu?"
Ia tersenyum — senyum yang sejak saat itu tak pernah lepas dari ingatanku.
Sebuah janji sederhana. Yang dengan tanganku sendiri telah kuingkari.

Malam Itu

Tiga minggu lalu. Kami bertengkar hebat di loteng itu. Ia bicara tentang kesepian, tentang waktuku yang tak lagi untuknya. Suasana memanas. Aku mendorongnya — terlalu keras. Ia terhuyung ke belakang — kepalanya membentur pagar besi balkon dengan bunyi yang begitu mengerikan. Darah mulai membasahi papan lantai yang dulu pernah kami tempati bersama. Panik menguasai diriku. Aku tak sempat memeriksa napasnya. Aku menyeret tubuhnya ke dermaga, mengikatkan jangkar kecil di pinggangnya, lalu mendorongnya perlahan masuk ke dalam air yang gelap. Ketika ditemukan nanti, aku sudah pergi jauh.

Kembali

Malam ini — ditarik kembali oleh rasa bersalah yang tak kutahan — aku berdiri lagi di tepi air. Jangan pernah kembali ke tempat kejadian perkara, begitu kata cerita-cerita detektif. Namun aku tetap datang.
Aku melepaskan pakaian tebalku, menyisakan kemeja dan celana, membawa senter kecil, lalu melangkah masuk. Menyelam sedalam lima meter menembus air keruh — di sanalah ia terbaring. Mantelnya hilang terbawa arus, namun kemeja hitam dan celana jinnya masih melekat pada jangkar yang kuikatkan dulu. Rambut pirangnya terurai melayang seperti rumput laut.
Sebuah rasa lega yang keliru menyergap. Rahasiaku masih aman.
Aku menendang naik ke permukaan, napas tersengal — dan melihat mereka. Dua orang petugas polisi berdiri di dermaga. Di samping mereka, seorang pria mengenakan mantel cokelat pasir. Wajahnya persis sama. Namun matanya kini menatapku penuh kebencian yang tenang namun mendalam.
"Lukas," ujar petugas sambil memborgol tanganku yang sedingin air kanal. "Saudara kembar Julian. Datang dari Berlin. Ia melaporkan hilangnya kakaknya — dan menceritakan pertengkaran kalian. Kami telah menunggumu dua malam. Pembunuh selalu kembali ke tempat kejadian."
Lukas melangkah mendekat. "Aku sungguh — sungguh berharap aku keliru."
Dari kejauhan, sirine mulai terdengar mendekat.
Kali ini — datang untukku.

Comments

Popular posts from this blog

Stranger III

Aku bergegas pulang, mencuci rambut, mengenakan baju merah dan mencari celana hitam namun tidak berhasil menemukannya di mana pun. Sialan! Di mana aku meletakannya? Tak ada waktu lagi aku memutuskan untuk mengenakan rok hitam. Tersenyum pada diriku sendiri saat berdiri di depan cermin, stoking hitam dan sedikit make-up. Melirik jam, baru sadar sudah jam 18:45. Seharusnya sudah berangkat. Aku memutuskan untuk berjalan ke bar karena cukup dekat, hanya beberapa blok dari tempat tinggalku. Aku mungkin akan memesan minum untuk membuatku sedikit lebih santai dan menunggu Ris. Sesampainya di bar tepat pukul 07:00, aku disambut Sue di depan counter. Aku memesan anggur putih, melirik sekeliling, satu kelompok orang di sebelah bawah bar, beberapa orang di salah satu stand dan beberapa anak perempuan di sudut agak gelap. Ada lagi sekelompok perempuan di ruang sebelah kolam renang tapi mereka semua memakai pakaian hitam atau t-shirt putih. Duduk menunggu, senang bahwa Sue sedikit sibuk k...

The Curse

Rabu kemaren salah satu kawan menyebut nama saya jadi salah satu orang yang di kutuk juga... ternyata kutukan ini berisi 11 hal tentang saya dan 11 hal yang harus saya jawab, dan 11 pertanyaan yang harus saya buat... jadi sebenernya gak bener-bener 11 ya... klo di jumlahin malah jadi 33 biji. Haduuhh... Pagi-pagi dah dapet Per Er jugaaa... banyak pulaaa....  Baiklaahhh... ayo kita mulai kerjain Per Er nya... tapi sebelum nulis tuh, saya biasanya ritual dulu, ngopi dulu lah, ngerokok dulu lah, twitteran dulu lah, efbean dulu lah... hehehe... Akhirnya gak nulis-nulis. Canggih ya.... hehe...  11 tentang Floo : 1. Saya anak pertama dari 4 bersodara, entah mungkin karena anak paling gede nih, sejak kecil saya paling sering di suruh ini itu. Mulai ambil kayu bakar di hutan sampe gembala sapi... hehehe.. gak denk. Keluarga mempercayakan banyak hal pada saya... termasuk mengurus diri sendiri. Dari zamannya saya masih SMU sampe kerja, saya ngekos (beli rumah belum mampu w...

Am I a lesbian?

At some point every lesbian asks herself the question: Am I a lesbian? But many heterosexual and bisexual women ask themselves the same question and come away with a different answer. So, how do you know if you are a lesbian or if you're just curious? If I only had a dollar for every time I've been asked this question, I would be a rich woman today! Struggling with one's sexual attractions is very common and not just with young people. I hear just as often from women who have been married 20 years or more. But at young age, relax and give yourself time to explore your feelings... I know many of you are looking for cut and dried ways to determine your sexual orientation. Perhaps a quiz you can take. If only it were that easy!! Unfortunately, determining your sexual orientation is not that simple. It is something that will take time and self-reflection to determine. Talking to a therapist or a lesbian coming out group may help. Some women identify as lesbian after having feel...