Gadis ini bekerja di tempat yang sama dengan adikku lucy. Mereka memanggilnya Java, tipe workaholic yang terlalu banyak minuman kopi. Aku sedang duduk di rumah, chatting dengan salah satu temanku ketika ku lihat mobilnya berhenti di depan rumah.
Now that surprised me. Pertama-tama, aku sedang tidak mengenakan apa-apa. Aku sudah setengah jalan ke kamar mandi ketika aku menyempatkan sebentar untuk memeriksa email terlebih dulu, jadi aku hanya menjatuhkan diriku di kursi dan, tentu saja, segera komputerku dibanjiri pesan singkat. Kedua, Java bekerja shiff malam dengan adikku, sehingga dia seharusnya istirahat di rumah, tidak berada di depan rumahku pada jam 01:30 di sore hari seperti sekarang.
Aku yakin dia pasti tau bahwa lucy sedang pergi dengan pacar barunnya. Sial, kenapa dia tidak menelpon sebelumnya. Aku berbalik dan berdiri, mengenakan sepasang sandal, tersandung sudut ranjang di saat memasukan t-shirt ke dalam kepalaku. Bel pintu berbunyi, aku dengan buru-buru keluar dari kamar tidur. Aku tahu kakakku yang lain, baby, tidak ada di rumah karena aku tidak melihat toyotanya di jalan masuk.
Aku membuka pintu dan di sanalah berdiri Java, sedikit kusut seperti baru saja bangun dari tempat tidur.
"Hei, aku minta maaf karena mengganggumu, aku tidak punya telepon jadi aku tidak memberi tahu sebelum datang ke sini.."
"Lucy sedang tidak ada di rumah?"
"Ya, aku tau. Aku tidak datang ke sini untuk menemui lucy, aku datang untuk menanyakan sesuatu.."
"Ada yang salah, Java? Kau ingin aku bekerja shift untuk mu? Tetapi aku bekerja full time sekarang di kota?"
"Tidak, tidak. Bukan tentang mcdonald, happy." dia menunduk memandang kakinya dan tersipu sedikit.
"Boleh aku masuk?"
"Oh tentu, aku minta maaf." aku mempersilahkan dia masuk dan menutup pintu. Am i a dumb shit or what?
"Aku berharap jika kita mungkin bisa pergi keluar bersama malam ini. Aku mempunyai sesuatu yang harus aku bicarakan denganmu," katanya. Matanya kadang-kadang bergerak naik dan ketika dia melihat aku menatap langsung ke arahnya, dengan segera memalingkan mukannya.
Aku memberi isyarat mempersilahkan dia untuk duduk di sofa dan aku duduk bersila di sisi lain.
"Ada apa, Java kamu dalam kesulitan?"
"Tidak, tidak sama sekali. Akan butuh waktu terlalu lama untuk menjelaskannya sekarang, happy. Aku harus tidur lihat aku! Apakah antara pukul enam dan tujuh waktu tepat untuk menjemputmu?"
Aku memandangnya. Seperti yang aku katakan, dia tampak lelah. Ada sesuatu yang berbeda dengan tingkah dan matannya. Aku sudah kenal Java selama lebih dari dua tahun. Dia mulai bekerja pada shift malam lucy dan sekarang dia adalah kepala kru lucy. Aku tidak terlalu sering bertemu dengannya ketika masih kerja di mcdonalds, karena kami berbeda shift.
"Bisakah kamu memberiku sedikit petunjuk hal yang akan kita bicarakan nanti?"
"Sungguh, aku lebih suka menunggu sampai kita punya waktu untuk membahasnya aku janji itu tidak buruk. Setidaknya aku tidak berpikir itu buruk."
"Well, ok hon. Ini pasti penting sekali buatmu sampai harus jauh berkendaraan ke sini seperti ini. Lain kali kirim saja merpati pos..." dia tertawa, tawa gugup, tapi dia melihat langsung ke mataku. Mata yang bagus.
"Terima kasih, kalau begitu sampai ketemu pukul tujuh." Dia berpamitan dan keluar, hampir terjatuh saat menuruni tangga. Pasti sangat kelelahan. Pikirku. Dia melirikku sebelum masuk ke dalam mobilnya. Nice car, too. Keluaran baru pontiac lebaron convertible. Ayahnya cukup kaya, dan dia masih tinggal dengan mereka. Aku menutup pintu dan kembali ke kamar. Aneh, pikirku. Aku mempunyai sekitar lima setengah jam sampai dia kembali. Banyak waktu untuk bersiap-siap.
Matahari terbenam sekitar pukul 7 di arizona selama akhir september. Tidak ada cahaya yang tersisa, mobilnya jave memasuki halaman rumah. Sepanjang sore ini aku penasaran dengan apa yang akan dia katakan. Aku melihat tiga tetangga memeriksa melalui tirai mereka. Sial, pikirku. Aku melambai kepada mrs dolzone.
Java tampak sangat berbeda dari sebelumnya. Dia tampak hidup. Rambut cokelat membingkai wajahnya dengan lembut dan bergaya. Dia mengenakan baju biru lembut dan celana pendek. Dia tidak perlu mengganti apapun untuk mengubah image nya, bagaimana dia membawa diri sudah sangat mencerminkan karakternya.
"Hey happy! You ready?" dia berjalan menaiki tangga.
"Ya tentu saja, aku sangat tidak sabar mendengar apa yang ingin kamu bicarakan." jawabku, dan dia hanya tersenyum.
Dia berjalan kembali ke mobilnya, tanpa menatapku. Aku berjalan ke sisi penumpang dan dia menunggu untuk membuka pintu sampai aku benar-benar masuk ke dalam mobilnya. Kami mengambil rute timur yang tidak begitu padat.
"Ke canyon lake?" aku bertanya.
"Ya. Aku pikir tempat itu cukup tenang untuk bicara, jika kamu tidak keberatan."
"Tentu saja. Aku tidak keberatan," kataku. Matanya mengernyit sedikit tetapi tidak mengatakan apa-apa.
Kami melaju 15 mil route 88 ke arah danau. Canyon lake berada di pegunungan yang terletak di tonto national forest. Ada tiga danau sepanjang route 88. Yang pertama adalah Canyon Lake, Apache Lake, dan Roosevelt Lake.
Java mengendarai mobilnya menuruni bukit, menyeberang jembatan dan berbelok ke kiri segera setelah area piknik pertama. Tidak terlalu banyak orang. Dia memarkir mobilnya dan kami keluar meregangkan otot sedikit. Udara malam terasa dingin di sini di tepi danau. Kami berjalan dan menemukan bangku taman untuk diduduki. Lampu-lampu dari tempat parkir memberi cahaya keemasan menimpa air danau.
"Ok, now what's all this is about?" aku mencoba terdengar tenang. Sebenarnya, hampir mati penasaran dengan apa yang ada di pikirannya.
Matanya menunduk lagi. "Aku harap kamu tidak keberatan aku ajak keluar malam ini, sementara kakakmu tak ada di rumah."
"Tak apa, apakah ada masalah dengan lucy?"
"Tidak, aku tau aku tidak akan bertemu lucy saat datang untuk bertemu kamu."
"Jadi, untuk apa kamu ingin berbicara denganku?"
"Aku ingin mengenal kamu lebih baik, happy, kalau kamu tidak keberatan."
Aku menggigit bibir bawahku. Java adalah anak yang sangat manis. Aku hanya bisa berkata, "oh?"
"Itu saja." dia tidak memberikanku rincian
"Kenapa... Kenapa kamu tidak pernah menyebutkan hal ini sebelumnya?"
"Aku mungkin memiliki banyak kepercayaan diri di tempat kerja, happy, tapi dalam kehidupan pribadiku, aku sangat malu dan aku tidak ingin seluruh dunia tahu bahwa aku tertarik padamu. " dia segera menambahkan, "Aku tidak ingin terlihat bodoh. "
"Aku tidak pernah melihatmu keliatan bodoh Java."
"Yah, aku tidak ingin orangtuaku tau kalo aku menyukai sesama perempuan, kau tahu?"
"Apa lucy tahu tentang ini?"
"Tidak!" wajahnnya bersemu merah. "Lucy tidak tahu kalo aku .. Ok, kalo aku tertarik kepadamu."
"Aku pikir kamu harus lebih terbuka tentang perasaanmu Java apalagi dengan lucy,.. Dia bisa membantumu." di dalam hati aku menendang diriku sendiri untuk mengubah topik pembicaraan.
"Aku tidak pernah bisa melakukan itu sementara aku tinggal bersama orang tuaku, happy. Mereka tidak akan pernah mengerti akan beda masalahnya kalo aku tidak tinggal dengan mereka. Aku mempertaruhkan banyak dengan datang menemuimu, aku tahu tapi aku merasa bahwa kamu akan mengerti. "
"Kau tahu bahwa lucy dan baby harus tahu, Java. Aku tidak menyimpan rahasia dari mereka.. Tapi mereka tidak akan memberitahu siapa pun, aku pastikan itu ." Dia akhirnya berbalik menatapku dengan wajah paling lembut yang pernah aku lihat. "Jadi, tidak apa-apa jika kita sering bertemu?"
Sekarang giliran wajahku berubah merah. Aku ingin mengatakan, aku mencoba untuk mengatakan, look java… aku tidak biasanya pergi berdua. Saat melihat langsung matannya aku hanya bias berkata, "Eh, tentu."
"Kamu ingin kita berhubungan tanpa orang lain tahu?"
Dia tersipu lagi. Sialan! "Mungkin kamu dapat membuatku sedikit lebih percaya diri untuk bisa melaluinya, untuk lebih terbuka." Sekarang dia benar-benar membuatku terkejut. Aku tidak pernah berpikir ada seorang gadis yang lebih percaya diri karena berada di dekatku.
"Yah, kita punya waktu sepanjang malam Java. Apa yang ingin kamu lakukan sekarang?
"Aku ingin mengenalmu lebih baik," katanya.
I thought, ya tuhan... Anak ini. Aku tidak terbiasa dengan ini semua. Perempuan pemalu yang selalu bersemu merah ini, sikap segar dan terus terangnya.
Jadi aku bertanya, "Bagaimana tepatnya kamu ingin kita lebih mengenal satu sama lain, Java?"
Dia tidak mengatakan apa-apa pada awalnya. Lalu ia berdiri, berbalik dan duduk disampingku. Jantungku berdebar-debar. Mataku terbuka lebar. Kedua tanganku berkeringat. Aku tidak percaya ini terjadi padaku. Dan satu kecupan lembut di bibirku.
Untuk pertama kalinya dalam hidup ku, aku kehilangan kendali. Yang bisa kulakukan adalah tersenyum bodoh.
"Apakah itu sudah cukup sebagai awal happy?"
Dan aku hanya bisa berkata, "Oh ya aku pikir. Begitu." Perhatikan bagaimana aku pintar menghadapi situasi seperti ini. Aku tidak tahu apa yang harus aku katakan, atau apa yang aku rasakan jika aku harus merasa atau mengatakan sesuatu,atau apa pun itu. Dia tersenyum padaku dan hatiku berdetak lain, bukan karena dia pemalu. Aku sudah pernah jalan dengan gadis-gadis pemalu dan tenang sebelumnya. Bukan karena dia salah satu teman lucky. Aku telah beberapa kali jalan dengan teman-temannya di masa lalu. Bukan karena dia menciumku, aku telah mencium perempuan ratusan kali. Bukan karena dia selalu tersipu tidak, bukan itu, tidak sama sekali. Namun sekarang di sini duduk dengannya, aku tidak percaya gadis ini ingin bersamaku. Bahkan lebih.
Dia tersenyum padaku lagi. "Kamu tidak terlalu banyak bicara. Apakah itu pertanda baik?"
"Iya...." Dia tampak begitu lembut di bawah cahaya lampu. Aku bisa merasakan diriku gemetar.
Showing posts with label Cappuccino. Show all posts
Showing posts with label Cappuccino. Show all posts
Note II
"Samantha...
Dan kamu Alexa yang tidak mengikuti instruksiku." samantha mengenggam tangannya, dan untuk beberapa saat dia
tidak langsung melepaskannya. "Kamu seharusnya berdiri
di sana, menunggu dengan sabar, bukan nongkrong di bar." Alex baru sadar
ternyata Samantha adalah penulis catatan misterius itu.
Alex masih terdiam, mengamati dan merasa tidak menghiraukan minuman tambahan yang disimpan di depan mereka.
"Mungkin sebaiknya kita bisa minum dulu? " Samantha mendorong salah satu gelas tepat di depannya.
"Tentu
saja, terima kasih." Alex menghabiskan minumannya hanya dalam satu
tegukan dan mulai merasakan sensasi panas pada indra di dalam mulut dan
tenggorokannya. Hawa panas tidak membuat kelelawar di dalam perutnnya
berhenti mengepak, perutnya masih terasa mulas. Dia berpaling kepada
Samantha, dan dalam waktu yang bersamaan merasa terpesona oleh leher,
dan tenggorokan yang bergerak saat dia meneguk minumannya.
"Maaf, tapi aku tidak ingat pernah bertemu kamu di pesta."
Samantha
mengangguk, "Itu benar. Aku tidak berada di pesta malam itu. Aku berada di sana sebelumnya untuk bekerja, bahkan kamu sempat menilai
pekerjaanku dan meminta kartu nama yang kebetulan saat itu aku
tidak punya." Samantha memutar matanya mengejek dirinya sendiri, "Kata
Nat dia bisa memberikan satu kartu namaku nanti. Aku pikir
pertemuan ini lebih kreatif daripada hanya menelepon dan meminta kamu untuk jalan bersamaku bukan? "
"Aaahhh",
Alex tersenyum, dia mulai ingat perempuan dengan topi baseball yang
hilir mudik mendesain ruangan pesta. Dia pernah bertanya pada Nat dan
Nat bilang dia tidak yakin apakah perempuan itu straight atau gay. Jadi
saat itu dia tidak meneruskan mencari tahu.
"Jadi Nat tidak memberitahu kamu di mana aku bekerja?"
"Tidak,
tapi aku menelepon untuk meminta kamu keluar makan siang dan asistenmu
bilang kamu sedang tidak ada di tempat, jadi aku meminta alamat
darinya, dan kebetulan aku sudah tahu mobil mana yang kamu kendarai."
Ketika Samantha
menyeringai, semuanya berbinar - gigi, mata, anting - it was all too
much.
"Kamu sangat jeli rupannya." Alex berkata, terkejut dengan keterusterangan dan ketegasan perempuan yang berada di hadapannya.
"Ya..
ketika aku menghitung." Samantha menggerakan alis secara sugestif .
Dan keduannya tertawa seakan mencairkan ketegangan di antara mereka.
"Jadi," lanjut Samantha unflustered, "Apakah kamu tertarik?"
Kelelawar
yang dari tadi tidak berhenti meronta-ronta di dalam perutnya mulai
kelelahan mengepakkan sayapnnya. Minuman keras itu sudah mencapai
mereka rupannya. Alexa tersenyum, tidak yakin dia benar-benar menangkap
maksud pembicaraan Samantha.
"Dalam hal apa sebenarnya?"
"Berkencan denganku kapan-kapan?" Jawab Samantha sederhana.
Merasa berani karena pertanyaan terus terang Samantha, dia membalas, " I am out with you already, dan ya aku tertarik."
Samantha
tersenyum penuh arti, dan mengangkat alisnya yang terpahat dengan
sempurna, Dia memanggil si bartender dan memesan segelas anggur
untuknya "Hanya itu yang ingin aku dengar.", Ujarnya. Kemudian dia menyarankan mereka mencari
meja kosong.
"Mengapa kamu memintaku untuk memakai pakaian ini secara khusus?"
"Aku
ingin pastikan untuk mengenali kamu dalam gelap, dan juga karena," dia
menghirup anggurnya dan mengedipkan matanya sedikit nakal "Kamu terlihat begitu
menarik mengenakannya.".
Alex menyeringai, mengejek sambil menggeleng tidak setuju, "You are such a flirt!”
Samantha terlihat senang dengan komentar Alex , “Why, but thank you very much!”
Alex merasa perlu mengganti topic pembicaraan ke wilayah yang lebih aman, "Di mana kamu tinggal? Hobi?"
"Well
....",
Samantha menggoyangkan gelas minumannya, "Aku tinggal di Grove, tidak
memiliki hewan peliharaan karena aku jarang pulang. Sangat suka buku
sekalipun aku tidak pernah mempunyai banyak waktu
untuk membaca. Aku orang yang terlalu banyak bicara di telepon, dan
kecanduan kafein. "
“That’s all?” Alex meragukan, “No dirt?”
Samantha
tertawa, “Plenty of dirt, tapi aku akan simpan itu untuk lain waktu.
Sebenarnya, aku sudah terlalu banyak menghabiskan waktu dan energi
pada bisnisku, dan semuanya berjalan dengan baik, sehingga saat ini aku merasa dapat memiliki hidup lagi… atau semacamnya. "
"Jadi ini adalah prosedur operasi yang normal untukmu, mengirim catatan provokatif?" Alex bertanya.
Samantha
menggeleng, "Biasanya aku tidak mengejar wanita dengan begitu berani
seperti sekarang, tapi aku membuat pengecualian dalam kasusmu.
Selain itu, aku pikir kamu orang yang cukup berani."
"Oh sungguh, dan kenapa begitu?"
"Hanya
perasaan saja. kamu tahu, aku melihatmu sebelum pesta, dan hari
berikutnya aku datang lebih awal untuk membersihkan. Aku melewati
kamar anak itu dan melihatmu meringkuk di tempat tidur mobil balap
kecil itu dan Itu sangat .. ", Samantha memiringkan kepala dan memberi
Alex senyum, manis dan lembut, "Menarik." Samantha menyorongkan gelas
anggur ke samping, "Aku harus berhenti.. rasannya aku
sedang memonopoli pembicaraan. "
"Tidak
sama sekali." Hibur Alex, dia seakan tidak sadar membiarkan matanya
menjelajah kemanapun yang dia suka. Mata Samantha, pipi merah, kontras
antara bibir dan gigi lurus yang begitu rapi, telinga yang halus.
Segala sesuatu tentang wanita itu berpendar. Dia cantik, cukup cantik.
"kamu sangat cantik." Tanpa sadar alex mengakui hal ini dengan keras.
Dia meminta maaf, "Aku seharusnya tidak minum terlalu banyak!"
Samantha
tersenyum perlahan, dan menggenggam tangan Alex. "Terima kasih, aku
merasa tersanjung. Aku juga menganggap kamu sangat menarik. Apa yang
ada di pikiranmu saat menerima catatan itu? "
"Aku
pikir salah satu teman sedang membuat lelucon, tetapi kamu bisa lihat yang aku kenakan sekarang, aku tidak
yakin."
"Aku senang kamu memutuskan untuk datang."
"Aku juga."
Kelelawar
mabuk berputar dalam perutnya. Jari Samantha telah berada di antara
jemarinnya sehingga sulit untuk membedakan siapa sebenarnya yang
memegang tangan.
Samantha membuyarkan lamunan Alex "Giliranmu untuk membertahu aku semuanya."
"Apa yang benar-benar ingin kamu tahu?" Tanya Alex.
Samantha
memejamkan mata, tersenyum dan kemudian menjawab, "Aku benar-benar
ingin tahu ... semua hal yang sangat pribadi tentangmu, dan aku
lebih suka mencari tahu dari kamu secara langsung. Tapi yang paling ingin
aku tahu adalah kapan aku bisa melihatmu lagi. "
Alex
berkata dia akan menjawab pertanyaannya saat dia kembali dari toilet,
dan minta diri. Dia berhenti di tempat kartu kosong yang berada di meja
bar dan menulis catatan kecil untuk, dan tip bartender dua
puluh dolar untuk mengirimkannya segera. Kemudian dia berjalan ke pintu
keluar dan pulang.
Catatan itu berbunyi:
Samantha, sekarang kita telah saling kenal dan saya juga yakin sepertinya kita saling menyukai satu sama lain. Karena kamu sudah sangat baik terhadap saya, saya akan berterima kasih untuk minumannya dan menawarkan untuk membalas kebaikanmu di tempat saya ... Sekarang!!! 1815 Darden Rd. Pergi ke sebelah kiri taman, ujung jalan, gerbang pertama. Apartemen # 4 ~Alex
Tamat.
Note I
Aku tahu kamu akan dan ingin mengikuti petunjuk ini. Hanya malam ini kamu dapat bertemu denganku. Aku pikir kamu mungkin akan menghargai undanganku. Kita berbagi teman yang sama, dan aku yakin kita bisa berbagi banyak hal yang lainnya lagi. Dakota Club, 9:00 pm, berdirilah di depan bar. Kenakan pakaian yang pernah kamu pakai di pesta Natalie tiga minggu lalu. "S"
Alex
kembali membaca catatan itu untuk yang ke tiga kalinya, suara dengungan
mesin mobil, musik yang menggelegar. Dia melirik jam di atas dashboard, 6:00
pm. Tak ada tanda tangan, hanya inisial “S”. Dari mana orang ini tahu
tempatnya bekerja? Terlebih dia bisa tahu yang mana mobilnya. Matanya
melihat sekeliling dengan cepat. Sialan! Dia pasti sedang dikerjai!
Pikirnya. Ini pasti lelucon, dia menyimpulkan. Salah satu teman gilanya
ingin membuat dia terlihat konyol berkeliaran di bar gay. Jika dia
benar-benar muncul mereka tidak akan pernah membiarkannya hidup lagi.
Lagi pula, mana ada orang yang mau bertemu dengan orang asing hanya
berdasarkan beberapa baris kata pada sebuah catatan kecil? Pestannya
Natalie adalah pesta penggalangan dana, malam itu dia mengenakan Stella
mccartney Wool, Boyfriend Blazer, dan Blue jeans yang sengaja dia beli
di mall dekat tempat tinggalnya.
Mobilnya
berbelok memasuki tempat parkir yang terletak di basement apartment,
mencaci dirinya sendiri karena terbawa suasana. Itu adalah lelucon dan
dia hanya akan pergi keluar untuk menangkap penjahat, menjebloskan
mereka ke penjara, minum beberapa gelas bir dengan teman, dan pulang
pada jam yang biasa.
Sesampainnya
di rumah, dia mengisi perutnya dengan melahap pizza sisa makan malam
dari malam sebelumnya, mengecek rekaman pesan di telepon, memilih
beberapa surat tagihan, dan membuang sisanya sebelum mengisi bak mandi
dengan air hangat dan menambahkan gelembung ke dalamnya.
Dia menemukan setelan hitam dalam kantong pakaian bersih yang
mengingatkannya lagi pada catatan kecil tadi. Mengapa semua lelucon ini
menjadi sedikit lebih mencurigakan? Bagaimana jika memang ada seseorang
yang ingin bertemu dengannya? Dia mempertimbangkan untuk pergi dan
beranjak untuk mempersiapkan jas dan celana jins. Tapi kemudian urung
melakukannya.
"Ini
bisa menunggu." Gumamnya, yang sangat diinginkannya saat ini adalah
mandi. Air hangat berbusa segera menenangkan setiap otot dan sisa-sisa
stresnya. Alex menutup matanya dengan handuk hangat, membiarkan
pikirannya melayang kembali ke pesta malam itu. Banyak wanita, dia
minum terlalu banyak, menari hingga kakinya terluka, kemudian menari
bertelanjang kaki sampai hanya dia dan beberapa teman yang tersisa. Dia
tidur di salah satu kamar anak Natalie, dan meninggalkan rumah itu
pagi-pagi sekali. Sedikit pusing, dan sangat membutuhkan makanan dan
tidur di tempat tidurnya sendiri. Tentunya dia tidak menari sendirian
sepanjang malam, ada beberapa perempuan yang menemaninya tetapi dia
tidak dapat mengingat mereka sama sekali.
Dia
mempertimbangkan untuk menghubungi Nat, melihat apa pendapat-nya
tentang catatan pesan tadi, dan bertanya siapa saja perempuan di pesta
itu dengan nama depan atau akhir dengan hurup S. Tapi rasannya ini
tidak akan berhasil. Catatan ini dapat di buat oleh orang iseng mana
saja, dan bahkan mungkin S bukanlah hurup awal atau akhir. Benar-benar
tidak penting. Dia akan mencari tahu dengan cara lain saja. Alex
memutuskan membiarkan masalah itu sebentar, rasa kantuk mulai
menghinggapinnya. Bagaimana nyamannya tidur, tersuspensi dalam air
hangat, kepalannya terangkat tinggi di sangga bantal, membuatnnya aman
dan tidak mungkin tenggelam.
Tertidur
hingga air terasa dingin dan mengutuk dirinya sendiri saat melihat jam
dinding, tidak ada waktu untuk memilih-milih pakaian. Mengenakan
setelan hitam, menyisir rambutnya yang basah dan mengenakan sepatu
dengan tergesa-gesa. Dia melaju di jalan menuju Dakota Club yang hanya
berjarak 2 km dari tempat tinggalnya. Sebenarnya dia tau, dia mempunyai
pilihan untuk tidak datang dan membiarkan godaan itu lewat. Tetapi di
lain pihak, rasa keingintahuannya sebagai seorang detektif mendorongnya
untuk mencari tau.
Tempat
parkir tidak begitu luas, dan pada hari-hari sibuk seperti ini akan
sedikit sulit mendapatkan tempat parkir yang strategis. Tetapi
untungnya ada tempat parkir yang baru saja kosong tepat di samping
pintu keluar. Alex memutuskan untuk duduk di dalam mobil sampai jam
8:45. Sekali lagi pikirannya mengembara ke pesta malam itu,
membayangkan setiap wajah dan tetap tidak menemukan siapa pun. Meski
terlambat, terpikir olehnya untuk melihat mobil-mobil yang diparkir
atau baru datang, apakah dia bisa mengidentifikasi salah satu dari
mereka sebagai milik Miss "S" atau mobil mana saja yang nampak
familier.
Terlalu
gelap, dan sekarang dia ada di sana, tampaknya kecil kemungkinan
teman-temannya akan pergi ke pinggiran kota hanya untuk menyelipkan
catatan kecil di kaca depan mobilnya, bahkan sebagai sebuah lelucon
ketika mereka dengan mudah bisa mengangkat telepon dan mengajaknya
untuk makan malam atau minum. Para tingles dalam perutnya, dalam
sekejap tumbuh menjadi kelelawar yang cukup besar, mengepakkan sayap
mereka dan mendorong-dorong tulang rusuknya. Membuat perutnya kesemutan
dan mendadak mulas. Alex melihat jam tangannya, 10 menit. Cukup waktu
untuk pulang dan menonton program TV favorit, atau masuk ke dalam bar,
minum satu dua gelas sambil menunggu apa pun yang akan terjadi pada
pukul sembilan. Kelelawar di dalam perutnya memilih alkohol, dan dia
mengeluarkan SIM-nya, selembar uang dua puluh dolar, dan mengunci
tasnya di bagasi. Begitu sampai di dalam, dia langsung menuju toilet,
sengaja tidak melihat kiri dan kanan atau mencoba mengenali wajah-wajah
yang ada di dalam bar. Tepat jam 8:57. Alex memesan tequila, bartender
dengan cekatan menyiapkan pesanannya.
“Make that two, please.” Kata seorang perempuan yang baru saja duduk di sebelahnya.
Alex menyaksikan tangan-tangan yang terawat berhiaskan cincin berlian dan batu bertatahkan pelangi di jari manisnya.
"Anda ingin dua untuk Anda sendiri, atau dua untuk anda berdua?" Isyarat Bartender kepada mereka sebagai pasangan.
Alex
berpaling kepada perempuan tersebut untuk klarifikasi. 'Glamour' Kata
yang segera melompat ke dalam pikiran Alex saat dia mengamati teman
duduknya. Sebuah surai emas dan rambut sewarna tembaga mengilap
membingkai wajah samar-samar yang terlihat sedikit akrab. Matanya
terlihat hijau jernih saat perempuan itu menatap langsung kepadannya,
mengangkat satu alis terpahat rapi, sudut bibir yang mengkilap sedikit
tertarik ke atas dan membentuk seringai, kemudian berbicara kepada
bartender,
"Dua minuman, untuk kami berdua."
Bersambung...
Stranger III
Aku bergegas pulang,
mencuci rambut, mengenakan baju merah dan mencari celana hitam namun tidak berhasil menemukannya di mana pun. Sialan! Di mana aku meletakannya? Tak ada waktu lagi aku
memutuskan untuk mengenakan rok hitam. Tersenyum pada diriku sendiri saat berdiri
di depan cermin, stoking hitam dan sedikit make-up.Melirik jam, baru sadar sudah jam 18:45. Seharusnya sudah berangkat. Aku memutuskan untuk berjalan ke bar karena cukup dekat, hanya beberapa blok dari tempat tinggalku. Aku mungkin akan memesan minum untuk membuatku sedikit lebih santai dan menunggu Ris.
Sesampainya di bar tepat pukul 07:00, aku disambut Sue di depan counter. Aku memesan anggur putih, melirik sekeliling, satu kelompok orang di sebelah bawah bar, beberapa orang di salah satu stand dan beberapa anak perempuan di sudut agak gelap. Ada lagi sekelompok perempuan di ruang sebelah kolam renang tapi mereka semua memakai pakaian hitam atau t-shirt putih.
Duduk menunggu, senang bahwa Sue sedikit sibuk karena aku sedang tidak ingin banyak bicara. Aku ingin mengamati pintu masuk, tanpa terlihat terlalu jelas, jadi aku duduk di samping meja, melirik pintu setiap kali terbuka.
Sedikit ramai dengan aliran orang yang datang. Sebagian besar pendatang baru, laki-laki dan aku lega melihat bahwa beberapa bilik masih kosong. Akhirnya pintu terbuka dan aku melihat kemeja ungu dan jeans biru, seorang perempuan berjalan masuk. Aku tidak dapat menahan hatiku sedikit terenyah melihat tampilan maskulinnya, tinggi, rambut pendek, tato terlihat di lengan atasnya dan aku melihat lurus ke arah wajahnya.
“Kenapa
kau tidak membiarkan dia memberitahu bagaimana rupanya? " aku memarahi
diriku sendiri, terlambat.
Aku tersenyum menyambutnya dan matanya berbinar saat ia melenggang ke arahku. "Well, dia terlihat cukup senang." Pikirku dengan cara yang sedikit tidak puas.
"Hai. Aku sudah menunggumu," Aku berusaha menjaga senyuman senormal mungkin. "Kamu
ingin minum apa?" Dia sedikit terkejut, sebelum dia duduk di kursi
sebelahku.
"Bisa VB, terima kasih, sayang." Katanya kepada Sue yang tau-tau sudah ada di depan kami. Aku terkejut, aku pikir Ris menyukai anggur. Sebelum aku bisa berkomentar, pintu terbuka dan aku melirik ke samping, rasannya menjadi kebiasaan. Aku terkejut melihat Pat masuk dan berdiri persis di pintu. Cahaya remang-remang tapi aku mengenalinya, kemeja hijau itu warna ideal untuk rambutnya.
Aku sadar dia tidak bisa melihat wajahku karena cahaya dari bar di belakang kepala ku. Tapi dia melihat Ris dan aku dari atas ke bawah, dan sedikit lebih lama mengamati rok mini yang aku kenakan.
“Aha! She’s a leg person.” Pikirku sambil
tersenyum.
Matanya beralih dari kami,
saat ia melihat sekeliling. “Ada
janji dengan seseorang." aku menduga dan tiba-tiba merasa cemburu dengan
wanita yang sedang dia cari.
Aku berbalik kembali ke Ris dan berharap bahwa aku hanya sedang berimajinasi melihat lirik an penuh harapan di wajahnya.
"Jadi. Kamu sedang Menungguku sayang?" dia berkata dengan lirik yang pasti dan aku menghela napas lega, mengetahui sekarang bahwa ini bukan Ris. Aku tahu bahwa telepon dapat menyamarkan suara, tapi suara dan terutama kata-kata yang biasa digunakan terlalu berbeda dari Ris.
"Aku pikir, aku harus meminta maaf." aku memulai sopan "Aku benar-benar hendak bertemu dengan seseorang untuk pertama kalinya malam ini dan ia mengenakan atasan ungu. Jelas aku telah melakukan kesalahan."
"Kenapa! Siapa nama dia?" Bertanya dengan nada sedikit agresif.
"Kenapa? Siapa nama kamu?" Aku bertanya. Dia ragu-ragu tetapi sadar dia tidak memiliki harapan menyebutkan nama yang benar, jadi dia bilang namanya Ricky.
"Well, it was nice to meet you Ricky, tapi aku lebih baik terus mencarinya sekarang." Aku berbalik dan bejalan sampai samping pintu. Aku tahu Ricky sedikit enggan pergi, tetapi setelah ragu-ragu sedikit, dia melangkah pergi ke ruang biliar. Aku mendesah lega sekali lagi tapi aku juga merasa ketakutan, karena aku bertanya-tanya apakah Ris nyata.
Posisiku sekarang memberiku keleluasaan melihat tempat Pat yang berada lebih bawah dari bar dan Aku melihatnya mengangkat gelas dan menyesap minumannya. Dia sedikit menegang seolah-olah sadar sedang diawasi. Dia menoleh, tajam dan aku melihat ekspresi terkejut di wajahnya karena dia sadar siapa aku. Aku melihat kesenangan diganti kejutan dan dia tersenyum dan mengangguk. Aku melihat sekilas di sekitar bar dan melirik pintu, membenarkan dugaanku bahwa dia menunggu seorang teman atau lebih mungkin, kekasih. Aku tidak merasakan kepuasan mengetahui aku sudah benar dalam anggapan terakhirku bahwa dia gay. Aku hanya merasa sedikit penyesalan kesempatan yang hilang.
Sue menuangkan minuman untuk ku lagi dan kami mengobrol sebentar, basa basi sedikit untuk menghilangkan rasa frustrasi dan kekecewaanku setiap kali melihat pintu dibuka. Aku melihat Pat masih duduk sendiri dan sering melirik pintu masuk. Kencannya juga belum tiba.
Aku harus pergi ke kamar mandi, jadi aku meminta Sue untuk melihat siapa saja yang memasuki bar dengan mengenakan atasan ungu. Aku mencuci tanganku ketika Pat berjalan masuk.
"Kencannya tidak juga muncul?" aku membuka percakapan.
"Tidak." jawabnya, ada nada khawatir dalam suaranya "Aku tahu dia dengan cukup baik dan aku tahu dia
tidak mungkin tidak muncul." Aku merasakan ada rasa nyeri pada saat dia
berbicara tentang pasangan yang jelas dicintainya. Aku mencoba untuk menutupinya dengan mengatakan bahwa aku juga khawatir tentang penampilan non-kencanku.
Aku kembali ke bar dan menerima gelengan kepala dari Sue. Ketika Pat kembali, dia mengambil gelas dan minta untuk bergabung dengan ku
"Kita mungkin bisa ngobrol sementara kita menunggu," dan, setelah menerima senyum dan anggukan, dia menarik kursi dan duduk di atasnya, sedikit menyenggol lututku saat melakukannya. Hampir seperti sengatan listrik, aku bertanya-tanya bagaimana dia bisa tidak memperhatikannya tapi, ketika aku melihat wajahnya memerah, aku tau dia menyadarinya. Mataku terus melayang pada rambut merahnya saat kita berbicara tentang hal-hal tidak penting. Kadang-kadang mempertahankan kontak mata untuk sepersekian detik lebih lama dari seharusnya.
Kami berdua berhenti melihat setiap kali pintu masuk terbuka dan aku berbicara tentang politik dalam gerakan perempuan ketika aku berhenti, benar-benar lupa apa yang barusaja aku bicarakan. Aku merasa tenggelam dalam matanya dan bibirku terbuka sedikit untuk mengakomodasi pernapasan ku lebih cepat. Dia tampaknya tidak menyadari aku akan berhenti bicara - bahkan ketika matanya turun melihat mulutku. Aku merasa diriku tertarik ke arahnya, kebutuhan dalam diriku yang luar biasa.
Bibirnya hangat seperti hembusan napas saat
menyentuh bibirku. Lembut, bukan tanpa
perasaan tetapi, pada saat ini, tanpa gairah. Singkat, eksplorasi kiss -
selesai hampir sebelum mulai, tetapi aku merasa jejak bibirnya terbakar
sendiri, mengelitik.
"Bisakah kita pergi ke suatu tempat yang lebih tenang?" Pat bergumam, "Aku tidak familiar dengan daerah ini."
"Kita bisa pergi ke rumahku, cukup dekat dari sini." undangku. Dia terlihat terkejut
“Ya... Mobilku ada di luar, apa kita memakai mobilku atau berjalan?” Hatiku berdebar dengan kegembiraan saat aku menyarankan dia untuk membawaku ke sana.
Aku mencari Sue untuk
mengucapkan selamat tinggal - tapi ia tidak ada. Kami berjalan keluar dan Pat membuka
pintu mobil untukku, kemudian duduk di
depan kemudi. Dia baru saja menyalakan mesin ketika Sue melaju sampai di
mobilnya dan parkir di sebelah mobil Pat. Dia melihatku,
"Off sekarang Vee?" Tanyanya. Pat menatapku dengan heran.
"Apakah wanita
dengan atasan ungu akhirnya muncul?" aku melihat Sue melewati
Pat.
"Sayangnya tidak." Jawabku sambil menggelengkan kepala.
"Sampai nanti Vee, Bye." Dengan senyum pada kami berdua. Dia berjalan kembali ke bar. Pat mematikan mesinnya dan aku menatapnya penuh Tanya.
"Sayangnya tidak." Jawabku sambil menggelengkan kepala.
"Sampai nanti Vee, Bye." Dengan senyum pada kami berdua. Dia berjalan kembali ke bar. Pat mematikan mesinnya dan aku menatapnya penuh Tanya.
"Vee?" Tanyanya dengan nada berbeda.
"Ya?" Aku tidak sepenuhnya mengerti dengan pertanyaannya.
"Apakah kamu memiliki celana hitam?" Yang membuatku semakin kebingungan
"Yaa... aku benar-benar harus memakainya malam ini tapi tidak bisa menemukan benda sialan itu di mana-mana. Mengapa? " Tersenyum?
"Aku memiliki masalah yang sama, tetapi dalam kasusku ini bagian atasku yang seharusnya aku kenakan malam ini, mmhh.. Yang berwarna ungu, sedikit kotor. "
Aku menatapnya dengan takjub, "Ris? Tetapi Sam memanggilmu Pat? "
"Ya, aku tahu. Sam sahabat lamaku, itu adalah panggilanku waktu masih sekolah. Dan sekarang orang-orang lebih memilih memanggilku Ris."
Kami saling memandang tak mampu bicara. Tanganku terangkat, ragu-ragu, turun lagi. Mulutnya terbuka untuk berbicara, lalu menutupnya lagi. Kami berpaling dan kemudian kembali lagi dan mata kami bertemu dan dua perasaan yang sama sekali berbeda; cinta untuk orang yang dikenal dan daya tarik terhadap orang tak dikenal, menyatu dan menjadi satu. Aku mengangkat tangan sekali lagi dan, kali ini, aku membelai pipinya.
"Ris," aku memulai - secara naluriah memanggilnya dengan nama itu, "Aku mencintaimu, dengan sepenuh hati. Apakah kamu mau mengantarku pulang sehingga kita dapat lebih mengenal satu sama lain? "
"Ya..." Dia tersenyum nakal, "Sepanjang akhir pekan sudah cukup sebagai awal kan? Aku harap kamu memiliki banyak makanan di rumah, karna aku tidak mau harus keluar dan... "
Tamat
Stranger II
"Hai, Sayang," sapaku "Hanya ingin berbicara, aku merasa ingin mendengar suaramu! Tidak perlu membalas telponku, aku akan menelepon lagi malam ini seperti biasanya. Oh dan Sayang... Aku pikir kita harus bertemu sesegera mungkin."
Aku tidak merencanakan mengatakannya, tapi, setelah mengatakannya, aku senang. Mari kita selesai dengan cepat, merasakan sentuhan, bahkan bercinta. Mungkin dengan begitu aku bisa mengeluarkan wajah Pat dari pikiranku.
Aku bermimpi malam itu tidur dalam pelukan Pat. Memandang wajahnya, melihat bibirnya mendekat saat ia menundukkan kepala perlahan-lahan menyentuh bibirku. Saat bibir kita bersentuhan, aku terbangun dengan perasaan kosong, kehilangan . Menyadari itu hanya mimpi.
Aku berbaring di tempat tidur menunggu debaran dadaku kembali normal. Apa yang terbaik untukku? Bertemu Ris dan belajar mencintai wajah dan tubuhnya, tahu bahwa aku sudah mencintai apa yang ada di dalam dirinya, kepribadian, sifat, karakter? Atau mencoba melihat apakah aku bisa mengenal Pat lebih dalam, mengetahui bahwa aku sudah sangat tertarik dengan tampilan luarnya. Dilema, bahkan logikaku mengatakan untuk tidak melakukannya. "Pergilah ke arah yang menurut Anda benar -. Pergilah pada orang yang benar-benar sudah jelas menyayangimu dan membuatmu merasa nyaman." sementara di sisi lain, suara lain mendesakku "Pergilah dengan nalurimu, berani untuk mencari tau lebih jauh tentang dia, berani mengetahui apakah kamu bisa mencintainya. "
Aku bertanya-tanya apakah terlalu dini untuk menghubungi Ris. Apakah dia mengerti keinginanku mendengar suaranya, tanpa aku harus menjelaskan? Aku tahu dia akan mengerti. Aku mengenalnya dengan baik - namun... Di telepon malam sebelumnya dia terlihat sedikit enggan dengan rencana pertemuan kami, dengan alasan jadwal yang sibuk untuk tiga atau empat malam berikutnya.
Semalam dia menceritakan seorang teman yang mengira dirinya telah jatuh cinta dengan orang asing hanya setelah melihatnya beberapa kali.
"Apakah menurutmu ada yang namanya cinta pada pandangan pertama, kedua atau ketiga?" Dia bertanya, pertanyaan yang telak menohok ke ulu hati. Aku akan mencoba menjawab jujur.
"Apakah menurutmu ada yang namanya cinta pada pandangan pertama, kedua atau ketiga?" Dia bertanya, pertanyaan yang telak menohok ke ulu hati. Aku akan mencoba menjawab jujur.
"Aku tidak tahu tentang cinta tapi aku yakin akan dapat merasakan daya tarik yang kuat - daya tarik terhadap seseorang. Mungkin itu 'nafsu pada pandangan pertama! " lelucon terakhir tidak membuatnya tertawa seperti yang aku harapkan, dia hanya diam.
"Ya, kurasa kau benar." Dia mengakui dengan enggan. "Ya. dia harus mengenal orang itu lebih dulu, bukan " Dia sepertinya lebih yakin dengan saran yang akan dia berikan kepada temannya.
"Ya, kurasa kau benar." Dia mengakui dengan enggan. "Ya. dia harus mengenal orang itu lebih dulu, bukan " Dia sepertinya lebih yakin dengan saran yang akan dia berikan kepada temannya.
Aku memutuskan untuk tidak meneleponnya. Aku akan memberinya waktu sendiri. Pada jam 1 siang, aku membuat keputusan. Aku akan pergi satu kali lagi dan kemudian, begitu aku bertemu Ris, aku tidak akan mencari perempuan itu lagi. Keputusan itu membuatku bersemangat, aku berjalan cepat ke arah mobil untuk menemuinnya.
Dia tidak ada di sana ketika aku tiba, tapi tak apa aku datang sedikit terlalu cepat. Aku memesan dan mulai makan siang, tidak mencicipinya hanya merencanakan tindakanku selanjutnya. Aku akan menyapannya dan mengundang dia untuk duduk di mejaku. Mungkin aku akan mencari cara untuk ngobrol tanpa memperlihatkan ketertarikanku padanya. Menit demi menit berlalu dengan cepat saat aku membuat rencanaku, ketika aku melihat jam, sudah setelah 14:00. Dia tidak pernah seterlambat ini sebelumnya.
Aku memesan kopi lagi, setengah meyakinkan diriku sendiri bahwa aku benar-benar menginginkannya. Aku bertekad untuk tidak duduk menunggu dan berharap tapi aku tidak juga beranjak pergi sampai hampir 2:30. "Well, itu saja. Aku tidak akan kembali. Aku akan melupakannya." akhirnya aku menyerah.
Rasannya aku tidak ingin kembali ke kantor, jadi aku berjalan-jalan untuk sementara waktu, melihat toko-toko. Sedikit terkejut ketika aku bertabrakan dengan seseorang yang bergegas keluar melalui pintu. Seorang wanita, tetapi harus mengangkat kepalaku untuk melihat wajahnya dan, ketika aku melakukannya, aku sedikit mundur karena aku mendapati diriku sedang melihat wajah Pat. Dia dengan cepat meraih tanganku, mencengkeramnya mencegahku jatuh.
"Maaf, tadi tidak melihat..." tergagap aku meminta maaf.
"Tidak, itu kesalahanku. Aku tergesa-gesa keluar dari cafe "sekilas aku melihat papan nama di belakangnya saat aku menyadari bahwa itu memang sebuah cafe. Aku merasa alisku mengangkat kaget dan ia membaca pikiranku. Mukannya sedikit memerah.
"Ya, aku mencoba tempat baru sampai aku menyadari aku lebih memilih berada di cafe Octavia, jadi aku bergegas ke sana." Dia menjelaskan panjang lebar, seolah-olah dia benar-benar ingin membuatku mengerti. Aku bertanya-tanya apakah ia bergegas untuk melihatku tapi kemudian aku tiba-tiba berpikir dia telah menghindari cafe agar tidak melihatku, tetapi mengapa? Dan mengapa ia tampaknya berubah pikiran?
Aku menyadari bahwa aku sedang menatap ke matanya. Ibu jarinya mulai mengusap lembut di bagian dalam pergelangan tanganku.
"Apakah kamu baru saja dari café oktavia?" Tanyanya dengan suara yang lebih akrab dan menarik bagiku. Aku mengangguk, tak sanggup bicara karena aku bisa merasakan denyut nadiku di bawah sentuhan ibu jarinya.
"Apakah kamu ada waktu untuk minum kopi lagi?" Tanya dia dan aku seakan teringat kilas balik secara tiba-tiba Ris pernah bertanya bercanda melalui telepon menawariku secangkir kopi yang dia buat. Rasa bersalah memukulku dengan keras dan aku melepaskan tanganku.
"Tidak, maaf. aku harus buru-buru, "suaraku cepat, "Aku minta maaf lagi karna menabrak kamu. Oh, by the way aku mungkin tidak bisa mampir ke café lagi. Senang bertemu dengan kamu " menunduk menghindar dari kekecewaan di matanya. Aku mengambil beberapa langkah ke belakang kemudian menoleh ke belakang. Berbaur dengan kebingungan di wajahnya, aku melihat ada perasaan sedikit lega. Dan entah kenapa aku merasa terluka karenannya.
"Bye, Veonna" ujarnya lembut, membawa setengah kenangan; sesuatu yang akrab tapi kurang tepat. Perasaan itu memudar secepat aku berikan satu senyum singkat dan berjalan menuju mobilku.
“Well, itu saja ... Tidak lebih Pat." Aku berusaha menemukan perasaan damai dalam pikiran, tetapi itu benar-benar tidak membantu. Kataku dalam hati sekali lagi bahwa good looks dan superficial attraction tidaklah cukup. Aku teringat Ris, aku tahu aku mencintainya dan tiba-tiba merasa sangat ingin melihatnya. Aku menyibukan diri dengan pekerjaan dan selesai dalam waktu singkat. Pada 05:00 aku menelpon Ris dan mengatakan bahwa aku ingin bertemu dengannya malam ini jika memungkinkan. Dia sedikit terkejut namun kemudian berbicara tegas.
"Ya, sudah waktunya - ok terlambat sebenarnya." katannya.
Kami merencanakan untuk bertemu di sebuah gay bar kecil di dekat rumahku. Tempat yang cukup nyaman, ramah tetapi memiliki stand privasi. Aku mengatur pertemuan di bar sekitar pukul 07:30 dan aku bilang aku akan mengenakan kemeja merah dipadu celana hitam.
"Baiklah. Aku akan mengenakan atasan ungu. Aku harap bajunya bersih! Aku mungkin akan mengenakan jeans hitam. Rambutku ..... "
"Tidak! Jangan bilang apa-apa, Ris. "Selaku" Aku akan melihatmu segera. "
"Aku akan menemuimu malam ini. God… semua ini terdengar sangat aneh! Bye Vee." Suaranya lembut dan penuh janji dan hatiku berdebar cepat,
"Oh God, aku harap dia menyukaiku, dan begitu pun aku.” Doaku setelah menutup telepon.
Berasambung... ke Stranger III
Dia tidak ada di sana ketika aku tiba, tapi tak apa aku datang sedikit terlalu cepat. Aku memesan dan mulai makan siang, tidak mencicipinya hanya merencanakan tindakanku selanjutnya. Aku akan menyapannya dan mengundang dia untuk duduk di mejaku. Mungkin aku akan mencari cara untuk ngobrol tanpa memperlihatkan ketertarikanku padanya. Menit demi menit berlalu dengan cepat saat aku membuat rencanaku, ketika aku melihat jam, sudah setelah 14:00. Dia tidak pernah seterlambat ini sebelumnya.
Aku memesan kopi lagi, setengah meyakinkan diriku sendiri bahwa aku benar-benar menginginkannya. Aku bertekad untuk tidak duduk menunggu dan berharap tapi aku tidak juga beranjak pergi sampai hampir 2:30. "Well, itu saja. Aku tidak akan kembali. Aku akan melupakannya." akhirnya aku menyerah.
Rasannya aku tidak ingin kembali ke kantor, jadi aku berjalan-jalan untuk sementara waktu, melihat toko-toko. Sedikit terkejut ketika aku bertabrakan dengan seseorang yang bergegas keluar melalui pintu. Seorang wanita, tetapi harus mengangkat kepalaku untuk melihat wajahnya dan, ketika aku melakukannya, aku sedikit mundur karena aku mendapati diriku sedang melihat wajah Pat. Dia dengan cepat meraih tanganku, mencengkeramnya mencegahku jatuh.
"Maaf, tadi tidak melihat..." tergagap aku meminta maaf.
"Tidak, itu kesalahanku. Aku tergesa-gesa keluar dari cafe "sekilas aku melihat papan nama di belakangnya saat aku menyadari bahwa itu memang sebuah cafe. Aku merasa alisku mengangkat kaget dan ia membaca pikiranku. Mukannya sedikit memerah.
"Ya, aku mencoba tempat baru sampai aku menyadari aku lebih memilih berada di cafe Octavia, jadi aku bergegas ke sana." Dia menjelaskan panjang lebar, seolah-olah dia benar-benar ingin membuatku mengerti. Aku bertanya-tanya apakah ia bergegas untuk melihatku tapi kemudian aku tiba-tiba berpikir dia telah menghindari cafe agar tidak melihatku, tetapi mengapa? Dan mengapa ia tampaknya berubah pikiran?
Aku menyadari bahwa aku sedang menatap ke matanya. Ibu jarinya mulai mengusap lembut di bagian dalam pergelangan tanganku.
"Apakah kamu baru saja dari café oktavia?" Tanyanya dengan suara yang lebih akrab dan menarik bagiku. Aku mengangguk, tak sanggup bicara karena aku bisa merasakan denyut nadiku di bawah sentuhan ibu jarinya.
"Apakah kamu ada waktu untuk minum kopi lagi?" Tanya dia dan aku seakan teringat kilas balik secara tiba-tiba Ris pernah bertanya bercanda melalui telepon menawariku secangkir kopi yang dia buat. Rasa bersalah memukulku dengan keras dan aku melepaskan tanganku.
"Tidak, maaf. aku harus buru-buru, "suaraku cepat, "Aku minta maaf lagi karna menabrak kamu. Oh, by the way aku mungkin tidak bisa mampir ke café lagi. Senang bertemu dengan kamu " menunduk menghindar dari kekecewaan di matanya. Aku mengambil beberapa langkah ke belakang kemudian menoleh ke belakang. Berbaur dengan kebingungan di wajahnya, aku melihat ada perasaan sedikit lega. Dan entah kenapa aku merasa terluka karenannya.
"Bye, Veonna" ujarnya lembut, membawa setengah kenangan; sesuatu yang akrab tapi kurang tepat. Perasaan itu memudar secepat aku berikan satu senyum singkat dan berjalan menuju mobilku.
“Well, itu saja ... Tidak lebih Pat." Aku berusaha menemukan perasaan damai dalam pikiran, tetapi itu benar-benar tidak membantu. Kataku dalam hati sekali lagi bahwa good looks dan superficial attraction tidaklah cukup. Aku teringat Ris, aku tahu aku mencintainya dan tiba-tiba merasa sangat ingin melihatnya. Aku menyibukan diri dengan pekerjaan dan selesai dalam waktu singkat. Pada 05:00 aku menelpon Ris dan mengatakan bahwa aku ingin bertemu dengannya malam ini jika memungkinkan. Dia sedikit terkejut namun kemudian berbicara tegas.
"Ya, sudah waktunya - ok terlambat sebenarnya." katannya.
Kami merencanakan untuk bertemu di sebuah gay bar kecil di dekat rumahku. Tempat yang cukup nyaman, ramah tetapi memiliki stand privasi. Aku mengatur pertemuan di bar sekitar pukul 07:30 dan aku bilang aku akan mengenakan kemeja merah dipadu celana hitam.
"Baiklah. Aku akan mengenakan atasan ungu. Aku harap bajunya bersih! Aku mungkin akan mengenakan jeans hitam. Rambutku ..... "
"Tidak! Jangan bilang apa-apa, Ris. "Selaku" Aku akan melihatmu segera. "
"Aku akan menemuimu malam ini. God… semua ini terdengar sangat aneh! Bye Vee." Suaranya lembut dan penuh janji dan hatiku berdebar cepat,
"Oh God, aku harap dia menyukaiku, dan begitu pun aku.” Doaku setelah menutup telepon.
Berasambung... ke Stranger III
Stranger I
"Jadi. Kapan kita ketemu, Vee?
" Tanyanya lagi. Aku ragu, masih enggan memutuskan kapan waktu yang tepat untuk
bertemu dengannya. Aku tidak sepenuhnya bisa menjelaskan alasan kenapa aku masih ingin membatasi semua komunikasi kami hanya
sebatas sms, chat, atau telepon, bahkan setelah sekian lama.
"Aku sibuk, Ris. Pekerjaanku akhir-akhir ini agak sedikit banyak. Aku tahu kamu sama sibuknya seperti
aku minggu ini, dan aku ingin kita benar-benar memiliki banyak waktu nanti. Kamu
tidak mau kita diburu-buru waktu kan? " Bujukku. Aku tahu bahwa Ris tidak
senang dengan jawaban ini, tetapi, seperti biasa, ia selalu menerimanya dengan
cukup baik.
"Baiklah, bila kamu siap aku yakin waktunya memang tepat. Anyway… Aku harus
buru-buru sekarang sayang. Aku ada pertemuan pukul sepuluh. Call you
tonight.”
Aku tahu aku tidak sepenuhnya adil.
Dia sudah kembali tinggal di Perth selama lebih dari sebulan dan kita sudah
saling berkomunikasi secara intens selama beberapa bulan sebelumnya, namun aku
masih saja menghindari untuk bertemu. Kami semakin dekat melalui
surat-surat, dan percakapan di telepon tetapi jika kami bertemu di jalan kami
tidak akan saling menyadarinya, she’d be a perfect stranger!
Sore yang tenang di tempat kerja, aku
membiarkan diriku memikirkan masa lalu - kenangan tentang Jill. “What a
beautiful couple” semua orang akan mengatakan begitu. Satu tahun setelah coming
out, aku bertemu Jill dan aku baru saja mengakhiri sebuah hubungan yang tidak
menyenangkan. Jill adalah seorang pesolek, dia selalu mencoba mengatur semua
yang akan kita kenakan. Rambutku pirang sementara miliknya hitam, kita sama
tinggi. Aku dengan postur tubuh ramping, sementara dia lebih bulat dan penuh.
Jill tidak pernah benar-benar tertarik padaku, aku hanya sebagai aksesoris
baginya. Aku hanya berfungsi untuk menunjang penampilan dan image-nya; dua
aspek yang sangat penting dalam hidupnya. Bahkan setelah lebih dari setahun
bersama, aku tidak benar-benar banyak tau tentangnya.
Mungkin itu juga alasan mengapa aku pikir
sikapku terhadap Ris benar. Aku ingin kita saling mengenal satu sama lain
sebelum kami bertemu. Aku tidak ingin penampilan luarku mempengaruhinya. Aku
ingin dia mengenal 'Aku' di luar bingkai fisik. Dan sebaliknya aku benar-benar
tidak ingin tahu bagaimana rupanya. Sebatas penampilan secara umum dan saat dia
menceritakan lebih rinci aku menghentikannya. Dia setuju, karena waktu itu
mendekati waktu pertemuan pertama kami - dan sekarang aku takut!
Awalnnya Ris tidak menyadari
seksualitasnya, kami hanya berkenalan seperti biasa lewat dunia maya. Jejaring
sosial, telah memungkinkan banyak orang untuk saling berkenalan, bahkan dengan
orang-orang yang berada sangat jauh di belahan bumi lain. Sampai satu malam Ris
mengejutkanku dengan sebuah telpon dan sejak itu kami saling menelepon secara teratur. Kita sudah sangat terbuka, memberikan
banyak rincian harapan, mimpi dan bahkan fantasi. Berbicara, mendengarkan dan
belajar satu sama lain. Merasa telah cukup lama saling kenal, dan sekarang kami
sudah tinggal di kota yang sama selama lebih dari sebulan meski belum
benar-benar bertatap muka.
Tapi aku masih merasa khawatir, setelah kami
bertemu, hubungan ini akan berubah dalam beberapa hal. Aku tahu penampilan
bukanlah yang utama, tetapi bagaimana dengan daya tarik fisik? Ketika aku
mempertimbangkan hal-hal apa yang membuat aku tertarik secara fisik, aku
mencoret-coret kertas kosong dan tanpa sadar aku telah menulis 'Café
Octavia'.
Pikiranku melayang kembali ke minggu
sebelumnya, kunjungan pertamaku ke Café Octavia dan wanita yang kulihat di
sana. Cukup cantik tetapi juga mencolok. Ya, 'mencolok' adalah kata yang tepat
untuknya. Apa yang pertama kali tertangkap mataku adalah rambutnya. Lebat cokelat
kemerahan. Sedikit poni berantakan jatuh di wajahnya, dia punya kebiasaan
sembarangan merapikannya setiap beberapa menit. Sendirian, terpisah beberapa
meja dari tempatku duduk, sesekali meneguk cangkir kopinya yang hampir kosong
sementara mata-nya tetap konsentrasi pada kertas yang sedang dia baca. Aku terus mengamatinya. Sesuatu tentangnya
membuatku tertarik, kepalanya yang miring, jari-jari yang terus menerus menyeka
rambutnya. Dia mendongak sekali dan mendapati mataku yang melihatnya. Dia
tersenyum sekilas sebelum matannya kembali membaca kertas yang dia pegang.
Aku melihat mata hazel - tidak hijau tapi tidak coklat. Mata itu cukup lama melekat dalam ingatanku, sebagai fitur yang paling menarik. Aku terus mengingatkan diri sendiri bahwa banyak hal yang lebih penting dari sekedar keebihan fisik, namun harus ku akui selalu ada daya tarik tertentu dari eksterior wanita ini, kemasan wanita ini, terutama ketika ia berdiri saat pergi dan aku menyadari bahwa dia secara fisik cukup menarik.
Aku melihat mata hazel - tidak hijau tapi tidak coklat. Mata itu cukup lama melekat dalam ingatanku, sebagai fitur yang paling menarik. Aku terus mengingatkan diri sendiri bahwa banyak hal yang lebih penting dari sekedar keebihan fisik, namun harus ku akui selalu ada daya tarik tertentu dari eksterior wanita ini, kemasan wanita ini, terutama ketika ia berdiri saat pergi dan aku menyadari bahwa dia secara fisik cukup menarik.
Aku ingat kali ke dua aku datang ke
cafe. Saat itu dua hari setelah kunjungan pertama ku dan aku terus menerus
meyakinkan diriku sendiri bahwa aku kembali karena makanan di situ begitu enak.
Pada kesempatan kedua aku perjalanan keluar, ketika dia berjalan melewati
pintu. Kali ini kami berdua tersenyum dan perhatianku telah tertarik pada, deretan gigi
kecil putih yang berkilauan di antara bibirnya. Aku kecewa bahwa aku tidak
punya alasan, atau waktu lebih untuk tinggal dan melihat dia lebih lama.
Masih duduk di ruanganku, berharap
bisa mengeluarkan perempuan ini dari pikiranku dan hanya berkonsentrasi pada
Ris. Sebelum aku menelepon
Ris malam ini, aku mempertimbangkan apakah perlu menceritakan tentang
wanita itu atau tidak. Saat kami berbicara lewat telepon, aku mengatakan agak
sedikit merasa takut untuk bertemu, merasa belum sepenuhnya yakin. Aku bertanya
apakah dia merasakan hal yang sama.
"Tidak, Aku tidak khawatir tentang
pertemuan kita Vee Aku malah merasa bersemangat. Penasaran dan bersemangat. Aku
tahu perasaanku dan tidak akan berubah ketika aku melihatmu
nanti." nada hangat nya membuat tenggorokanku sedikit tersedak, sebelum
aku tertawa dan bertanya apakah aku sudah memperingatkan dia tentang betapa
jeleknya aku.
Keesokan harinya tepat pukul 01.20
aku berada di jalan di dalam mobilku. Mempertimbangkan untuk melihat
perempuan itu di sana lagi atau tidak. Aku tidak mengerti dorongan perasaan ini,
aku bahkan merasa sedang berselingkuh dari Ris. Sementara pikiranku penuh
dengan hal-hal tidak jelas ini, tanpa sadar aku sudah berada di luar Cafe
Octavia! "Oh baiklah, mungkin mampir sebentar saja.” Pikirku.
Aku memasuki Cafe dan ada rasa kecewa
saat aku melihat sekeliling. “Ah, mungkin lebih baik aku memesan makanan saja.”
Pikirku. Aku memilih meja dengan posisi menghadap pintu. Pelayan muncul dengan
pesananku ketika pintu terbuka dan dia berjalan masuk. Melihatku sekilas,
tersenyum dan menyapa dengan sedikit canggung.
"Hai." Dia tampak ragu pada
langkah nya - sebelum memilih meja kosong yang terletak agak jauh. Hatiku
berdebar dan aku tidak yakin apakah itu perasaan lega atau kecewa karna dia
memutuskan untuk tidak meminta duduk satu meja denganku.
Dia memesan makanan, sedikit bercanda
dengan pelayan. Aku melirik saat melihat kepalanya mulai bergerak ke arahku.
Berusaha tetap konsentrasi pada makan siangku, sedikit gugup saat dia
terang-terangan mengamatiku. "Dia mungkin bertanya-tanya mengapa dia sering
melihatku di sini atau bertanya-tanya mengapa aku tak pernah di temani
siapapun."
Kami seperti bermain game, aku akan melihatnya sampai kepalanya mulai berbalik ke arahku. Kembali melihatnya, saat
dia memalingkan muka. Dia selesai dengan makan siangnya, mengambil cangkir
kopinya, memandang lurus ke arahku dan siap untuk berdiri. "Oh Tuhan! Dia
datang! "Pikiranku panik. Di saat yang sama saat dia mendorong kursinya ke
belakang, suara laki-laki mengagetkannya.
"Pat! Hai, keberatan jika saya bergabung denganmu " aku memandangnya dengan agak sedikit kecewa sementara dia melirik ke arahku sebelum dia menoleh dengan senyum ke arah laki-laki yang baru saja memasuki cafe.
"Hai Sam. Ya tentu saja kamu bisa bergabung denganku - tapi aku harus berangkat lima menit lagi." Suaranya terdengar sedikit lebih keras. Mungkin untuk menutupi rasa malunya.
Suara mereka sedikit lebih rendah saat mereka terlibat dalam percakapan dan Pat menghabiskan kopinya. Dia menggeser kursinya ke belakang sekali lagi, saat berpamitan dengan laki-laki itu. Berjalan keluar dan melewati mejaku, aku berpaling untuk melirik ke arahnya. Dia berhenti sejenak, tersenyum dan berbicara.
"Hai, aku pernah melihatmu di sini beberapa kali. Mungkin besok kita bisa makan siang bersama besok-besok." Dia mengulurkan tangannya mengajakku bersalaman.
"Oh hai Pat, maaf tapi aku tadi tidak sengaja mendengarkan." kataku dengan senyum dan mengangguk ke arah laki-laki tadi. "Namaku Veonna dan kamu mungkin akan melihatku di sini agak lebih sering. Makanan di sini lezat. ". Cengkeramannya tegas dan sejuk.
"Senang bertemu kamu Veonna. Aku harus buru-buru sekarang - janji sore dll " tersenyum dan bergegas pergi, meninggalkanku kewalahan. Bagaimana ia bisa membuatku merasa sesenang ini? Kami hanya bertemu tiga kali. Di mana semua teoriku sekarang? Apa yang lebih penting? Mencintai 'bagian dalam' seseorang atau saat ini aku sedang jatuh hati dengan tampilan luar tanpa memikirkan seperti apa pribadinya?
Bersambung... ke Stranger II
Subscribe to:
Posts (Atom)
IT'S JUST A COFFEE SHOP Chp. 3
I stare at the mirror taped to my bedroom door. Fairy lights on. Bed unmade. Hoodie Elian would wear white. Safe. Invisible. But tonight is ...
-
I stare at the mirror taped to my bedroom door. Fairy lights on. Bed unmade. Hoodie Elian would wear white. Safe. Invisible. But tonight is ...
-
Aku bergegas pulang, mencuci rambut, mengenakan baju merah dan mencari celana hitam namun tidak berhasil menemukannya di mana pun. Sialan! ...
-
Rabu kemaren salah satu kawan menyebut nama saya jadi salah satu orang yang di kutuk juga... ternyata kutukan ini berisi 11 hal tentang s...
