Love someone


you know you love someone when you want them to be happy even if their happiness means that you're not part of it...

Everybody...

Everybody has problems. Everybody has bad times. Do we sacrifice all the good times because of them?

Lg gak waras


Twinkle twinkle lazy stars,

kitna soyega uth ja yaar,

up above the world so high,

Sun has risen in the sky,

uth ke jaldi pele chai,

then call me and say hi.. Huahahahaha *mulai gak waras

What Have You Done

She was underwater In the shadows
Was it there, was it not?

I stepped back
A veil in front of my eyes
The water was still and so was she

I dove in with so little breath

In truth I knew
I was too late for death
I had one chance
I grasped her arm and floated upwards

Wanting to stay below in the warm forgiving waters
What have you done
I screamed to the stars

Then over to the shallow edge

She was face down

Smaller and more vulnerable than in life

Her curls wet around her ears and neck

Her dear profile at peace at last

A finger in her throat sounded a click

Her body still and blue
Is this what death looks like?
My love was supposed to protect her It didn’t
My love was supposed to heal her It didn’t
You had said don’t leave me

And I begged you not to leave me

We did.

leave the past in the past, the future in the future, and enjoy the present of the present

life is full of hardships, millions of reasons to cry, loads of things to make us upset..sometims due to some reasons are really upset and think all the bad of our life…but don’t forget that this is our life..why we are always suffering due to things which happend in the past..due to this we destroy the time to enjoy our present..but if out try to forget…at least you will be happy in your future..past is past..never forget it…

Augush Rush

Salah satu film favoriteku adalah film ini, bukan hanya ceritanya yang bagus tapi music yang ada didalam film ini bisa membuatmu merinding mendengarnya. Film yang sangat mengharukan, aku menangis saat akhir cerita. Jadi tidak ada salahnya bila aku ceritakan sedikit tentang film ini.
Louis Connelly (John Rhys Meyers) adalah gitaris muda asal Irlandia yang sedang meniti karir sebagai anak band di New York. Namun cinta memang tidak berkasta dan bersuku, Louis dalam sebuah kesempatan, terlibat cinta kilat dengan dengan pemain cello bernama Lyla Novacek (Keri Russell) yang berasal dari keluarga konservatif yang ambisius. Namun hubungan mereka berakhir begitu saja, meski Louis masih jatuh cinta pada Lyla. Hasil hubungan keduanya melahirkan anak laki-laki bernama Evan Taylor (Freddie Highmore). Saat terlahir ke dunia, Evan ternyata diserahkan untuk diadopsi sang kakek yang tidak ingin karir Lyla terhambat.


Evan kemudian tumbuh menjadi anak panti asuhan. Dia terobsesi menemukan orangtuanya. Evan kemudian bertemu dengan pengamen cilik yang mengantarkan dirinya bertemu dengan Wizard (Robin Williams). Wizard lah yang menemukan bakat terpendam Evan di bidang musik. Wizard juga yang mengajarkan bahwa musik bisa mempertemukan orang. Hal ini kemudian dimanfaatkan Wizard untuk mendapatkan uang. Evan awalnya tidak keberatan disuruh mengamen karena ingin menemukan orangtuanya melalui musik.
Evan pun diberi nama panggung August Rush. Namun pihak panti asuhan kemudian melaporkan Wizard pada polisi sehingga Wizard dan anak-anak didiknya terpisah, termasuk Evan. Evan beruntung karena justru akhirnya terdampar di sekolah musik bergengsi, Julliard. Di sekolah itulah, August Rush maskin menguatkan tekadnya untuk memperdengarkan musiknya di depan umum agar bertemu dengan orangtuanya.

The Notes :
Film ini sama sekali bukan film musical. Film August Rush adalah film drama romantis yang berlatar musik apik dan keren yang digarap penata musik kelas Oscar Hans Zimmer. Musik yang dimainkan menjadi bagian penting dalam film ini. Beberapa bagian dalam film ini memperdengarkan score lagu yang utuh dan menyenangkan untuk dinikmati. Beberapa lagu di film ini berjenis gospel, sesuai dengan latar cerita saat August Rush menumpang tidur dip anti asuhan milik gereja.
Lagu yang paling menarik adalah lagu August Rhapsody yang komposisinya ditulis Mark Mancina dan memperdengarkan dominasi suara gitar yang tidak dipetik melainkan suara gitar yang dipukul. Dalam film ini, August Rush memang diceritakan menguasai alat musik gitar untuk pertama kali. Film berlatar musik seperti ini memang bukan hal baru. Film Music of the Heart, Sister Act, dan film Dangerous Mind’s memunyai sebuah benang merah yang sama yaitu musik bisa melembutkan hati manusia.

Meski bergenre drama romantis, namun film ini bukanlah sebuah film drama klise yang realistis atau malah over-realistis. Film ini lebih menyentuh jiwa penonton melalui musik, bukan melalui cerita drama romantis yang mendayu-dayu. Namun seperti juga sebuah film drama lainnya, banyak sekali kebetulan-kebetulan yang terjadi di dalam film ini. Aktor cilik Freddie Highmore bermain cemerlang dalam film ini.

Kehadiran Robin Williams yang berperan sebagai tokoh antagonis Wizard juga perlu mendapat acungan jempol. Peran klise dan kurang berkarakter justru diperlihatkan John Rhys Meyers yang aktingnya tidak berubah dan begitu-begitu saja sejak ikut ambil bagian dalam film Bend It Like Beckham dan Match Point. Tadinya peran Louis Connelly diproyeksikan sutradara Kirsten Sheridan untuk James Morrison, musisi pendatang baru berbakat yang tentu saja bisa memainkan alat musik. Namun sayang, James Morrison menolak peran ini dengan alasan hendak berkonsentrasi pada karir musiknya. Peran Wizard dalam film ini akan mengingatkan kita pada tokoh raja copet yang menguasai anak-anak kecil di film Oliver Twist.

Love is kind.

The easiest thing I ever done was fall in love with her. Finding the right person is not really a matter of finding.
It is more of a suprize then a search because if you are looking for the "one" you may find more
disappointment than love. So my advice is enjoy the ride and don't let your goal of being loved influence you to fall for the wrong pair of arms.
Be patient and have fun.
When its the right person you will know...
Life is short and love is precious.
Don't fall for anyone that will make you anything less than happy.


Love someone that will improve your life.


Always remember that love is kind.

Leaving the past behind and moving forward...?


Take a second out to think about this: in your life you search and search for the right person for you. Every time you break up with someone you get one step closer to that person. You should look at moving on as getting closer to meeting the one. unknown
Quietly forgiving and moving on is a gift to yourself.
Very often a change of self is needed more than a change of scene. Arthur Christopher Benson
When one door of happiness closes, another opens, but often we look so long at the closed door that we do not see the one that has been opened for us. Helen Keller

Letting go doesn't mean giving up... it means moving on. It is one of the hardest things a person can do. Starting at birth, we grasp on to anything we can get our hands on, and hold on as if we will cease to exist when we let go. We feel that letting go is giving up, quitting, and that as we all know is cowardly. But as we grow older we are forced to change our way of thinking. We are forced to realize that letting go means accepting things that cannot be. It means maturing and moving on, no matter how hard you have to fight yourself to do so." Unknown

Any change, any loss, does not make us victims. Others can shake you, surprise you, disappoint you, but they can't prevent you from acting, from taking the situation you're presented with and moving on. No matter where you are in life, no matter what your situation, you can always do something. You always have a choice and the choice can be power. Blaine

“Never let go of hope. One day you will see that it all has finally come together. What you have always wished for has finally come to be. You will look back and laugh at what has passed and you will ask yourself... 'How did I get through all of that?” Unknown
Readjusting is a painful process, but most of us need it at one time or another. Arthur Christopher Benson

Loyalty to a petrified opinion never yet broke a chain or freed a human soul. Mark Twain

He who cannot change the very fabric of his thought will never be able to change reality. Anwar Sadat

The most significant change in a person's life is a change of attitude. Right attitudes produce right actions. Willam J. Johnston

When you start to abandoning your old beliefs or values... you may be stuck at the threshold for two or three years. Before moving on, you have to clear away your cherished beliefs. Dick Raymond
Courage is not the absence of fear, but simply moving on with dignity despite that fear. Pat Riley

It isn't uncommon for people to hang on to what seems like a relationship with no future just because they had a great past in the early stages. Unknown

“If you want to live a happy life, tie it to a goal, not to people or things.” Albert Einstein
"He that never changes his opinions, never corrects his mistakes, will never be wiser on the morrow than he is today. " Tryon Edwards
To be able to move on, one has to learn to forgive not only the person (or people) who have done one wrong but also oneself. Eugenia Tripputi

Has this world been so kind to you that you should leave with regret? There are better things ahead than any we leave behind. C. S. Lewis

When you are through changing, you are through. Bruce Barton

What you have become is the price you paid to get what you used to want. Mignon McLaughlin,
The Neurotic's Notebook, 1960
When we are no longer able to change a situation, we are challenged to change ourselves. Victor Frankl
Leave the past behind as there is no future in it. Unknown

You are responsible for your life. You can't keep blaming somebody else for your dysfunction. Life is really about moving on. Oprah Winfrey

Worry compounds the futility of being trapped on a dead-end street. Thinking opens new avenues. Cullen Hightower
“We can't solve problems by using the same kind of thinking we used when we created them.” Albert Einstein

Pasupati

“Coba lihat,” teriakanmu seketika memisahkan kepalaku dari lamunan yang tengah aku ciptakan bersama jendela dan atap bangunan menjulang yang nyaris sejajar dengan tinggi kita, “ bulannya sangat indah.”
Kuikuti arah telunjukmu, menatap sesuatu yang kau sebut indah itu. Jujur, aku lebih suka bulan sabit, jauh lebih cantik.
“Kau bayangkan, seandainya malam benar-benar menelan alam dengan hitam…” Oh, aku tahu sesuatu yang lebih pasti. Ielah suaramu yang hilang ditelan bebunyian kendaraan yang berlalu-lalang di belakang kita.
Bagaimanapun, kita tidak sedang berada di kafe temaram atau longue yang sangat nyaman. Kau tahu, aku sempat frustrasi saat pertama kali kau mengajakku ke tempat ini.
Dalam mimpi sekalipun, aku tak pernah berani memikirkan diriku duduk pada pembatas sisi jalan layang sambil berbincang dengan seseorang atau hanya sekadar menikmati malam. Terlalu berbahaya untukku.
“Kebisingan dan sedikit ketegangan di sini akan memberimu kedamaian dalam bentuk lain,” meski kutahu kau hanya berusaha mengatasi ketakutanku waktu itu, “percayalah.” Ya, aku percaya, bersamamu segalanya akan baik-baik saja.
Rasa percaya diriku kian bertambah ketika kulihat sepasang sejoli duduk mesra di atas sepeda motor yang ditepikan beberapa meter dari keberadaan kita, bahkan juga beberapa meter dari keberadaan mereka. Tiba-tiba aku teringat perkataan temanku tentang jalan layang yang menghubungkan Pasteur – Surapati ini.

“Di sini tempat orang pacaran kan?” pertanyaanku terdengar sangat norak di telingaku sendiri.

“Apa?” kau berteriak sambil mencondongkan telingamu ke mulutku.

Oh, terima kasih, Makhluk-makhluk beroda yang mendesau bising. Lain kali aku akan berusaha lebih baik lagi dalam membuat pertanyaan. Dan aku perlu sedikit penyesuaian teknik vokal untuk dapat memproduksi suara yang baik saat berbincang—tepatnya berteriak.

Tetapi, ada saatnya kita tidak harus berteriak. Kau memberitahu, “Pertama, ketika jalanan lengang; kedua, ketika jalanan ramai dan kita hanya perlu berbicara tanpa ingin didengar siapa pun namun tetap mendambakan keberadaan seseorang di samping kita.” Terima kasih, kau berhasil membuatku bingung untuk yang kedua itu.

“Ayolah, kau pasti lelah menulis diary, dan merasa semakin gila setiap berbicara dengan dirimu sendiri di depan cermin,” paparmu sebelum akhirnya kau mendemonstrasikan metode yang lebih baik dari kedua hal itu.

Kau menoleh, memastikan sekelompok kendaraan lewat secara bersamaan. Kemudian kau berkata-kata seolah aku mendengarnya. Aku hanya memandangi wajah dan gerakan bibirmu yang ajaibnya berbunyi WHUZZZ, BRMMM, NGEEENG, TIDIIID atau bahkan BLAR!!!

“Ah, lega,” ucapmu setelah selesai. Aku mulai paham, lalu berkesimpulan: inti dari metode yang kau maksudkan adalah mengungkapkan sesuatu yang kau anggap sangat pribadi dan rahasia kepada seseorang tanpa perlu kehilangan arti kerahasiaannya. Menarik. Hei, ternyata tidak semua pasangan yang datang ke tempat ini hanya untuk berpacaran.

“Sekarang giliranmu,” kau menantangku.

Aku? Ah, orang bodoh sepertiku bukanlah penganut spontanisme yang baik. Pada malam-malam berikutnya, aku baru menemukan banyak materi rahasia yang selama ini hanya bergaung double stereo di ruang kedap suara dalam dadaku saja. Dari mulai masalah perceraian kedua orang tuaku, adikku yang menderita syndroma down, pengalaman seksual pertamaku yang mengerikan, kebohongan kecil dan besar yang pernah kubuat, hal-hal paling konyol dan memalukan yang pernah kulakukan, hingga penyakit-penyakit menjijikan yang sempat menyerang daerah paling sensitif di tubuhku. Wow, tak kusangka aku se-ekstrovert itu.

“Kau tahu, hanya ketika bersamamu aku merasa menjadi seseorang yang berbeda dalam versi aku yang sebenarnya. Maksudku, kaulah yang membantuku menemukan sisi yang lebih aku dari diriku sendiri.”

Pada malam kesekian itu, kau menatapku dengan ekspresi sedikit bingung saat mendengar sepenggal pengakuanku. Volume suaraku mengecil karena bising kendaraan kembali hadir.

“Biasanya, ketika kita jatuh cinta, kita jusrtru merasa gamang dengan diri kita sendiri,” dan suaraku benar-benar menghilang ketika kukatakan, “tetapi, jatuh cinta padamu sangat berbeda; begitu sederhana namun istimewa.”

Sekali lagi aku berterima kasih pada makhluk beroda di belakang kita. Betapapun aku belum siap dengan reaksimu ketika mengetahui perasaanku yang sebenarnya.

Dari sekian keuntungan yang kudapatkan, ada masanya di mana aku merasa dirugikan bising kendaraan itu. Ialah ketika aku ingin benar-benar mendengar apa yang tengah kau ucapkan. Siapa tahu kita memendam perasaan yang sama, mengucapkan kata-kata yang bermakna serupa: aku jatuh cinta padamu.

Kau tahu, aku selalu mendamba kemampuan infrasonic setiap kau berbicara tanpa suara. Menatap wajahmu dan membaca gerak bibirmu hanya hiburan pengganti atas keingintahuanku akan banyak hal tentang dirimu. Dan kurasa, mengetahui hobi, makanan dan musik favoritmu, juga hal-hal yang tidak kausukai, sudah lebih dari cukup untuk status kita yang tak lebih dari sepasang kenalan yang dipertemukan sebuah situs pertemanan. Kau pernah bilang, “aku tidak suka diselidiki”. Baiklah, kuikuti permainanmu. Dan lama-lama aku justru melupakan keinginan itu karena ternyata menatap wajahmu dan membaca gerak bibirmu jauh lebih menyenangkan.

Dan malam ini, aku terbuai dengan ekspresi riang wajahmu dan gerakan mulutmu yang berkali-kali membentuk kata “bulan”. Seluruh potensi inderaku selalu tertuju penuh padamu tatkala itu. Sesekali kau menatapku, lalu kembali menatap langit dalam waktu yang lebih lama. Sejauh ini aku berhasil berpura-pura tidak sedang memandangimu hingga, “… bagaimana menurutmu?”

Serta-merta kau alihkan pandanganmu secara tak terduga, menangkap-basah aku yang tengah khusyuk memandangimu. Mata kita saling memerangkap. Dan ada mesiu tak nampak yang menembus ke dalam jantungku. Aku beku dan nyaris tak berdetak lagi jika napasmu tak lekas kau tiupkan lewat kecupan yang hangat dan dalam.

Oh, aku meledak dalam rasa canggung sekaligus senang yang luar biasa. Persetan dengan apa pun. Persetan dengan siapa pun. Malam ini menjadi milik kita berdua. Sayup kudengar bunyi klakson, desau mesin kendaraan, dan decit ban di belakang, lalu menghilang seiring deru napas kita yang saling memburu kencang. Dinginnya angin malam yang menusuk berhasil kau halau. Kita tidak hanya sekadar berada pada ketinggian yang liar, melainkan benar-benar MELAYANG. Baru saja aku tahu jawabannya. Semoga aku tidak salah.

“Kau tahu, ini ciuman terindah dalam hidupku.” Aku tak percaya telah mengucapkannya dan kau benar-benar mendengarnya.

Tersipu, aku membalik tubuhku dan turun ke jalan menuju sepeda motormu, kemudian menutup wajahku dengan helm full-face milikmu. Aku sungguh merah. Oh, mimpi apa aku kemarin malam. Dan semoga malam ini aku tidak sedang bermimpi lagi.

Sejujurnya aku tak ingin perjalanan kita berakhir. Aku masih ingin duduk menatap langit di pembatas jalan layang—jembatan Pasupati. Aku masih ingin memeluk punggungmu dan menemanimu menyelinap di antara celah kendaraan di depan kita. Aku masih ingin merasakan ketegangan yang luar biasa saat sepeda motormu meluncur gila pada permukaan aspal yang dingin. Aku masih ingin bersamamu tanpa batas waktu.

“Sudah sampai, Tuan Puteri,” kau merajuk saat sepeda motormu berhenti di depan pagar rumahku. “Hei, aku tahu kau tidak benar-benar tidur. Turun dan masuklah.”

Andai kau tahu bahwa aku takut kehilanganmu.

“Kau tidak perduli kalau aku terus berdiri sampai pagi di depan rumahku sendiri?” Hei, sejak kapan aku bersikap manja padamu?

“Hm, baiklah.”

Kau membuka helm kemudian menemaniku menekan bel dan menunggu si Bibi membukakan pintu. Cukup lama, sepertinya seisi penghuni rumah sudah terlelap. Dan saat menunggu itulah kau membisikkan tiga-kata-itu sebelum menciumku lagi.

“Eh, si Eneng baru pulang?”

Oh, syukurlah kita sudah saling melepaskan saat si Bibi membukakan pintu.

“Masuk atuh, Neng, nggak baik kalau kelihatan tetangga.”

“Aku pulang dulu ya,” kau pun berpamitan.

“Wah, tunggu,” tahan si Bibi. “Nggak baik lho, anak perempuan naik motor tengah malam.”

“Ah, Bi, jangan khawatir. Temanku yang satu ini sudah ahlinya kalau soal naik motor. Cowok-cowok saja kalah ngebut.” Aku tersenyum bangga padamu. Dan kau membalasnya dengan anggukan canggung.

“Tapi ini kan sudah pagi, Neng. Apa tidak sebaiknya temen Eneng tidur di sini saja?”

Tidur di sini? Hm, ide bagus. Kurasa, kau pun sependapat denganku.


Sumber Tulisan : Kemudian.com

Parfume Movie

Aku telah membaca novel Parfum beberapa tahun ke belakang dan filmnya tahun lalu. Sekalipun dah agak lama rasanya gak terlalu basi kalo aku ceritain dikit tentang film ini. Mungkin kamu berpikir bahwa dari sebuah parfume kamu tidak akan bisa menghubungkannya dengan film. Salah satu alasannya adalah bahwa keduanya memberikan semacam dua sensasi yang berbeda. Parfum adalah sensasi yang berbau. Film adalah sensasi yang didengar dan visual - gambar dan suara. Hampir mustahil menghubungkan kedua pengalaman indrawi dapat disatukan.Film ini bercerita tentang seorang anak Jean-Baptiste Grenouille (Ben Whishaw), seorang anak laki-laki yang lahir dengan pencium rasa yang sangat tajam dan menjadi terobsesi berbagai macam bau, berlatar abad 18. bertempat di Paris. Lahir di kota yang penuh belatung-pasar ikan, Grenouille yang ditinggalkan oleh ibunya di tempat pembuangan ikan yg berbau busuk, gak jelas siapa ayahnya dan seorang ibu yang bekerja sebagai pembersih ikan (film ini tidak terlalu banyak bercerita tentang latar belakang keluarganya). Dimasukan ke sebuah panti asuhan Dickensian, dia di asingkan oleh anak-anak lain. Dijual ke tempat penyamakan kulit.
Kemudian dia bertemu dengan seorang ahli pembuat wangi-wangian Italia Giuseppe Baldini (Dustin Hoffman), yang terkesan dengan keahlian yang dimiliki Grenouille dalam menemukan wangi-wangian secara alami. Bekerja di tempat tersebut semakin membuat Grenouille benar-benar terobsesi dengan berbagai macam wangi, ia menjadi tergila-gila dengan membuat parfum yang sempurna sehingga ia memutuskan untuk melakukan perjalanan ke Grasse, kota yang penuh dengan berbagai hal yang sempurna dan indah yaitu sari perempuan muda. Di kota ini dia mulai mecari berbagai macam wangi yang di ambil dari berbagai macam perempuan, dengan cara membunuh perempuan-perempuan tersebut terlebih dahulu. Kejadian itu membuat kota gempar dan mencekam dengan rangkaian pembunuhan-pembunuhan misterius tersebut. Tetapi tetap saja pencarian atas parfume yang sempurna masih saja ada satu yang kurang. Sampai dia bertemu dengan Laura (Rachel Hurd-Wood), anak perempuan Antoine Richis (Alan Rickman).
Grenouille akhirnya tertangkap basah dan diketahui sebagai pembunuh dari 13 perempuan. Diberbagai tempat diteriakan untuk melindungi anak perempuan mereka, sampai Antoine Richis (Alan Rickman).mengasingkan anak perempuannya di tempat yang sangat terpencil.
Dengan bebekal pemciumannya yang tajam Grenouille akhirnya tetap saja dapaat menemukan Laura (Rachel Hurd-Wood). Dan mengambil sari dari perempuan tersebut sebagai formula terakhir untuk menyelesaikan karyanya yang mengerikan. dan saat itu pun dia tertangkap dan dijebloskan ke penjara untuk diadili sesegera mungkin.
Parfum yang mewah, terkadang mengerikan, bahkan dengan menciumnya sampah dan penyakit yang paling busukpun akan terlihat indah, dia gunakan parfume itu untuk melepaskan diri dan kembali kekota kelahirannya. Disana akhirnya dia tewas menjadi santapan orang-orang yang haus akan wangi dan keindahan.
I have to say, I liked it... For sure, walau pun sebenarnya filmnya tidak sebaik bukunya.
Di satu sisi sulit untuk memvisualisasikan bau dan di sisi lain tidak semuanya dapat ditampilkan selama film.
Tetapi bagi aku, film ini memang bagus... cukup bagus. Dan permainan aktornya pun sangat bagus Mereka memainkan peran mereka benar-benar baik dan sesuai dengan Grenouille, saya benar-benar berpikir bahwa dia adalah Grenouille yang dijelaskan dalam buku tersebut.
Satu-satunya hal "negatif" yang saya dapat katakan tentang itu, adalah bahwa di dalam buku dia digambarkan sebagai orang jelek, tetapi Ben Wishow tidak jelek. Tetapi bagi saya, yang tidak benar-benar peduli. Jadi, semuanya harus saya katakan, bahwa film ini tidak sebaik buku (yang kebanyakan kasus), tetapi meskipun saya berpikir bahwa ini adalah film yang dibuat benar-benar baik.

IT'S JUST A COFFEE SHOP Chp. 3

I stare at the mirror taped to my bedroom door. Fairy lights on. Bed unmade. Hoodie Elian would wear white. Safe. Invisible. But tonight is ...