Skip to main content

Senja

Aku menyukai senja seperti halnya dia. Bagiku senja selalu sempurna. Kami selalu menunggu senja itu datang, bahkan sampai malam menjelang.
"Senja kali ini lebih indah dari biasanya khan Ve?" tanyanya.
Lamunan dan senyuman tanggungku terputus. Kembali aku memperhatikan senja yang merona pada genangan-genangan sisa air hujan. Dhi menyenderkan kepalanya ke pundakku “Disini rasanya waktu berjalan lambat. Kau terlalu lama pergi.” lanjutnya diiringi helaan napas gemetar. Aku bisa merasakannya. Gemuruh dalam dirinya membuat bibirnya menggigil dingin dan beku. Sementara tak terasa bibirku juga menjelma ngarai; sunyi. 

“Maaf … “ Getaran bibirku kelu.
"Ya, aku tahu… Katamu semua punya alasan. Mengapa matahari terbit di ufuk Barat dan terbenam diufuk timur. Semuanya memiliki alasan. Dan kau juga punya alasan.“ Senyumnya getir. “Ah lihat… bahkan senja sudah hampir habis. Tapi besok senja merah lagi dan, kau selalu bisa bertemu denganku di sini." Lanjutnya.
Aku hanya menatapnya, waktu berlalu dengan cepat sekaligus lambat. Sisa senja kala itu kami lewati dalam bisu.

“Hei Ve!! Sedang apa duduk sendiri di situ, ini sudah waktunya kita berangkat…” Hana menepuk pundak, “Lebih baik kita bergegas, misa pemakaman Dhi sebentar lagi.” Aku berdiri, dan sekali lagi menatap bangku kosong itu. Aku merapatkan jaket dan menghangatkan kedua tanganku dalam saku. Angin berhembus, lampu taman kota mulai menyala satu persatu.

Comments

Anonymous said…
Dear my Dear,

Dejavu dan air mataku dipagi yang bersalju tipis.
Senjaku sudah lama pergi dan hanya gelap pekat yang menyergap.
floo said…
Dear my dear... senja selalu ada, bahkan mungkin di kotamu jauh lebih lama.

Popular posts from this blog

Stranger III

Aku bergegas pulang, mencuci rambut, mengenakan baju merah dan mencari celana hitam namun tidak berhasil menemukannya di mana pun. Sialan! Di mana aku meletakannya? Tak ada waktu lagi aku memutuskan untuk mengenakan rok hitam. Tersenyum pada diriku sendiri saat berdiri di depan cermin, stoking hitam dan sedikit make-up. Melirik jam, baru sadar sudah jam 18:45. Seharusnya sudah berangkat. Aku memutuskan untuk berjalan ke bar karena cukup dekat, hanya beberapa blok dari tempat tinggalku. Aku mungkin akan memesan minum untuk membuatku sedikit lebih santai dan menunggu Ris. Sesampainya di bar tepat pukul 07:00, aku disambut Sue di depan counter. Aku memesan anggur putih, melirik sekeliling, satu kelompok orang di sebelah bawah bar, beberapa orang di salah satu stand dan beberapa anak perempuan di sudut agak gelap. Ada lagi sekelompok perempuan di ruang sebelah kolam renang tapi mereka semua memakai pakaian hitam atau t-shirt putih. Duduk menunggu, senang bahwa Sue sedikit sibuk k...

The Curse

Rabu kemaren salah satu kawan menyebut nama saya jadi salah satu orang yang di kutuk juga... ternyata kutukan ini berisi 11 hal tentang saya dan 11 hal yang harus saya jawab, dan 11 pertanyaan yang harus saya buat... jadi sebenernya gak bener-bener 11 ya... klo di jumlahin malah jadi 33 biji. Haduuhh... Pagi-pagi dah dapet Per Er jugaaa... banyak pulaaa....  Baiklaahhh... ayo kita mulai kerjain Per Er nya... tapi sebelum nulis tuh, saya biasanya ritual dulu, ngopi dulu lah, ngerokok dulu lah, twitteran dulu lah, efbean dulu lah... hehehe... Akhirnya gak nulis-nulis. Canggih ya.... hehe...  11 tentang Floo : 1. Saya anak pertama dari 4 bersodara, entah mungkin karena anak paling gede nih, sejak kecil saya paling sering di suruh ini itu. Mulai ambil kayu bakar di hutan sampe gembala sapi... hehehe.. gak denk. Keluarga mempercayakan banyak hal pada saya... termasuk mengurus diri sendiri. Dari zamannya saya masih SMU sampe kerja, saya ngekos (beli rumah belum mampu w...

Saat Mereka Saling Mencintai

Mereka saling mencintai selama bertahun-tahun, terkadang bertengkar, untuk alasan-alasan yang sangat kekanak-kanakan, sangat sepele, dan juga sangat konyol. Namun mereka tetap bersama, entah karena cinta atau kebiasaan, yang kita, orang luar, tidak tahu. Terkadang orang-orang yang terlibat bahkan tidak tahu betapa mereka saling mencintai, jadi bagaimana orang luar seperti kita bisa memahami masalah-masalah abstrak seperti itu? la mencintainya lebih dari yang bisa dilihatnya, dan ia mencintainya lebih dari yang bisa ditunjukkannya. Mereka selalu berselisih, berdebat, dan merajuk. Setiap kali, ia menanyakan pertanyaan yang sudah tak asing lagi, "Apakah kau benar-benar mencintaiku?" Mereka berdua saling mencintai, bukan karena kepribadian mereka berbeda, melainkan karena mereka menyadari bahwa mereka terlalu mirip: keras kepala dan konservatif. Setiap kali mereka bertengkar, mereka diam, mungkin seminggu, mungkin sebulan. Mereka saling mencintai dengan cara yang berbeda, seolah ...