Monday, February 6, 2017

"Jealous"


I'm jealous of the rain that falls upon your skin. It's closer than my hands have been
I'm jealous of the wind. That ripples through your clothes. It's closer than your shadow.
I wished you the best of all this world could give and I told you when you left me, there's nothing to forgive. But I always thought you'd come back, tell me all you found was heartbreak and misery. It's hard for me to say, I'm jealous of the way you're happy without me. 
As I sink in the sand, watch you slip through my hands. Oh, as I die here another day, 'Cause all I do is cry behind this smile...


"Labrinth"
 

Wednesday, November 16, 2016

Kereta Pagi

Seperti orang kebanyakan yang bekerja di jakarta tapi kebetulan memiliki rumah di luar Jakarta, aku harus selalu memulai hari dengan mengejar jadwal kereta untuk bekerja. Dan tentu saja antrian panjang di station sudah menunggu untuk saling berebut kursi kosong. Tapi hari ini keberuntungan sedikit berpihak padaku, aku mendapatkan tempat duduk setelah saling bedesakan dengan penumpang lain di gerbong khusus perempuan.
Kereta mulai bergerak, semua kursi penuh bahkan beberapa orang harus rela berdiri. Dan ini bahkan belum semua, kereta masih harus berhenti di beberapa station untuk menaikan penumpang lagi sebelum berhenti di tempat tujuanku. Orang yang berdiri semakin padat, beberapa orang harus berdiri saling berdempetan. Satu orang berdiri menghadapku, atau lebih tepatnya menghadap jendela dibelakangku. Aku sengaja menyibukan diri dengan buku berusaha tidak memperhatikannya. Bisa di bilang rata-rata perempuan di gerbong ini adalah penumpang yang sama setiap harinya. Kami akan bertemu saat berangkat kerja dan juga sore hari saat pulang.
Aku pernah melihatnya beberapa kali, dan ini menjadi minggu ketiga secara berturut-turut kami berdua berada di gerbong yang sama. Dia tersenyum setiap kali mata kami bertemu dan itu membuatku agak tidak nyaman, seolah dia bisa melihat menembusku.
Dia ramping dengan rambut sebahu yang sebagian dia ikat sembarang ke belakang, caranya berpakaian kombinasi yang sederhana dengan warna-warna natural dan hangat serta kacamata yang membuatnya terlihat lebih menarik. Aku terka usianya tidak jauh berbeda dariku, dan aku perhatikan dia bukan orang yang terlalu banyak bicara.
Kereta sedikit bergoyang membuat badannya condong ke depan dan kebelakang, ketika dia sedikit membungkuk, aku bisa mencium aroma samar parfumnya, aroma yang sedikit maskulin namun lebih lembut dari parfum laki-laki. Diam-diam aku menengadah untuk melihat wajahnya sekilas dan mendapatinya menunduk menatap lurus ke arahku dan tersenyum.
"Bukunya bagus?" Tanyanya,
Aku tersenyum malu-malu sambil mengangguk dan menjawab 'ya'. Setelah beberapa detik, aku memutuskan untuk mengambil inisiatif sekali dalam hidupku. Aku balas menatapnya. "Belum semua aku baca, aku baru saja membelinya." Tambahku, dan segera menunduk lagi terlalu gugup.
“The girl on the train ya?” tanyanya lagi, seolah benar-benar tertarik dengan buku yang aku baca.
Aku begitu asyik melihat bibirnya bergerak seolah terlihat lambat, dan membuatku hampir tidak memperhatikan pertanyaannya. Aku berdeham, "Yah, uh, thriller psikologi... " "Sungguh? Sepertinya menarik.” Aku tertawa gugup, menyadari sesuatu yang penting terlewatkan. Aku sedikit membetulkan letak dudukku dan mengulurkan tanganku. "Namaku Ana."
“Jill." Dia meraih tanganku dan tertawa pelan. "Kapan-kapan ceritakan isi bukunya.” Lanjutnya. "Tentu, dengan senang hati." Jawabku. Saat itu, saat kami menatap mata satu sama lain, aku bertanya-tanya apa yang dilihatnya ketika dia menatap mataku. Apakah dia hanya melihat pupil hitam dikelilingi warna coklat atau apakah dia melihat sesuatu yang lebih dari itu? Apakah dia melihat pikiran dan emosiku atau bahkan mungkin jiwaku? Kemudian dengungan suara pengumuman mengalihkan perhatian kami. Aku mendengarkan dan menyadari aku harus turun di station itu. Ketika aku melihatnya kembali, tangan kami bersalaman.
"Ah maaf aku harus turun di sini.” Kataku melepaskan genggamannya dan berdiri dengan sedikit terburu-buru, "Silakan, tentu saja.“ dia tersenyum tenang memberiku jalan untuk keluar. Aku segera keluar kereta dengan sedikit tergesa-gesa bersama penumpang yang lain.
Aku meliriknya, dan dia masih memperhatikankku dari dalam kereta yang pelan-pelan mulai bergerak kembali. Aku tahu aku tidak pernah merasa sesenang ini sebelumnya. Tau bahwa kami akan bertemu lagi di kereta yang sama. Akan ada kesempatan yang lain.

Thursday, September 1, 2016

Madeline

Café sudah mulai sepi saat aku memutuskan untuk pulang. Malam yang membeku, membuatku menggigil. Merapatkan jaket dan memasukan tanganku ke dalam saku sementara ujung bibir menjepit rokok yang baru saja kunyalakan. Di langit, lekuk-lekuk awan seperti tak sabar melompat liar. Hampir jam 2 pagi ada kelengangan di luar, hanya klakson mobil dan sirine ambulan terdengar dari kejauhan. Gedung-gedung memagar langit, orang-orang kelelahan berusaha kembali pulang. Mungkin memang sudah waktunya pulang, perjalananku masih 3 jam untuk sampai di rumah.

Masih berdiri di pinggir jalan saat aku melihatnya, dia berdiri di bawah cahaya lampu, anggun, dengan senyum yang selalu indah, gaun yang sama yang dia kenakan pada malam itu. Aku tahu itu tidak mungkin dia.

"Halo Alex..." Tiba-tiba dia bicara, terlalu shock tanpa sadar rokokku jatuh dan membakar mantel yang aku kenakan. Dia bukan sekedar khayalanku, aku bisa mendengar suaranya dengan jelas.

“Kamu…? Ini tidak mungkin kamu” menggelengkan kepala berharap ini tidak nyata.

"Mengapa tidak? Kemarilah, sentuh!" Dia mengulurkan tangannya. "Aku bukan hantu, Aku hanya terlihat basah dan kedinginan. Kenapa kamu meninggalkanku sendirian?”

"Aku tidak tahu apa yang kamu bicarakan," Aku tergagap.

"Ya, kamu tau maksudku" Aku menarik tanganku, terlalu takut untuk menyentuhnya. Mundur beberapa langkah dan hanya segera pergi dari situ yang ada di dalam pikiranku.

“Alex…” Panggilnya lagi dan aku sudah membalikan badan lari secepat mungkin meninggalkannya di sana.

Aku tau, kembali ke dermaga ini lagi adalah hal yang paling bodoh untuk dilakukan. Jangan sekalipun pernah kembali ke TKP. Begitulah biasanya pembunuh tertangkap. Jangan pernah kembali.

Aku yakin, dia sudah mati, dan seharusnya dia membusuk di dasar dermaga saat ini.

Malam itu kami bertengkar hebat dan tanpa sengaja dia terjatuh, kepalanya membentur pagar besi dengan cukup keras hingga tak sadarkan diri, atau mungkin juga mati. Aku terlalu panik untuk memeriksa denyut nadi, yang kutau darah mengalir cukup deras dari kepalanya. Malam sudah terlalu gelap ketika aku menenggelamkannya dengan jangkar yang terikat di pinggangnya. Aku yakin ketika mereka menemukannya, aku sudah pergi jauh dari sini. Tapi itu sudah tiga minggu yang lalu.

Ketika aku tiba di dermaga, aku masih melihat sisa dari tali yang aku gunakan untuk mengikat jangkar ke tubuhnya sebelum aku buang dia ke dasar dermaga. Aku duduk, kakiku menjuntai di tepi. Melihat sekeliling dan cukup yakin tak seorang pun memperhatian. Hari sudah gelap dan terlalu sepi. Aku menanggalkan semua yang aku kenakan dan hanya menyisakan celana panjang, dan senter di tangan kananku.

Aku melihat sekeliling sekali lagi dan masuk ke dalam air dingin. Menyelam lurus ke bawah sekitar lima meter mencari-cari hingga aku melihatnya di sana perempuan itu, atau lebih tepatnya sisa-sisa darinya. Lega, aku menendang dasar air untuk kembali ke atas. Terengah-engah berusaha memenuhi paru-paruku kembali dengan udara.

"Mau saya bantu naik, Alex?"

Aku ditarik ke dermaga oleh sepasang polisi yang segera memamasangkan borgol di kedua tanganku dan memutar tubuhku.

"Temui Clara, saudara kembar Madeline. Clara bercerita tentang Anda, dan ketika Madeline tidak memenghubunginya selama berhari-hari, Clara curiga dan mengira kau melakukan sesuatu padanya. Aku benar-benar minta maaf harus seperti ini. Sekarang, mari ikut kami.” Salah satu polisi itu menjelaskan.

Monday, August 1, 2016

Bersyukur

Sejujurnya tulisan Ini dibuat lebih untuk menghibur diri, biar lebih bersyukur lagi, lebih ikhlas lagi.
Seharusnya tidak perlu merasa kecewa karna pada dasarnya banyak sekali yang bisa disyukuri. Mulai dari keluarga, teman teman dan kekasih yang luar biasa. Harta benda meskipun tidak banyak dan bagus tapi semua didapat sendiri.
Hidup memang tidak selalu beruntung tapi mungkin keberuntungan bisa berbentuk apa saja. Harta yang banyak tidak selalu harus terlihat tapi bisa sesuatu yang kita rasakan... Perasaan damai, bahagia, dicintai.
Menjadi orang yang sabar dan mau berusaha pun sepertinya sudah hebat, apa lagi sudah sampai jadi orang yang ikhlas kemudian bersyukur.
Sudah seharusnya karna... Hirup,  mati, bagja, cilaka, semua sudah diatur yg kuasa. Beryukurlah masih sehat dengan raga yang lengkap, di kelilingi orang orang terdekat. Ikhaskan, kalo tidak kamu dapat berarti memang bukan hak... Tapi tetaplah berkeinginan lebih baik untuk semua hal, bila tidak sesuai harapan, ikhlaskan dan berusahalah lebih baik. Semoga bisa seperti itu ya....

Monday, July 25, 2016

Yet you find yourself begging for love, for attention, for forgiveness. 
Worse, you keep begging, always begging... and you hate yourself for it.


Scars

One day everything runs smoothly and then...
The next day everything will fall apart faster than you can put it back together...

Waktu menyembuhkan luka, tapi benarkah seperti itu? Luka menolak untuk hilang, hanya lambat laun, pikiran berusaha untuk tetap waras, menutupi luka dengan jaringan parut hingga rasa sakit pun berkurang. Tapi luka tidak pernah hilang...
© Just Floo 2012 | Blogger Template by Enny Law - Ngetik Dot Com - Nulis