Monday, August 1, 2016

Bersyukur

Sejujurnya tulisan Ini dibuat lebih untuk menghibur diri, biar lebih bersyukur lagi, lebih ikhlas lagi.
Seharusnya tidak perlu merasa kecewa karna pada dasarnya banyak sekali yang bisa disyukuri. Mulai dari keluarga, teman teman dan kekasih yang luar biasa. Harta benda meskipun tidak banyak dan bagus tapi semua didapat sendiri.
Hidup memang tidak selalu beruntung tapi mungkin keberuntungan bisa berbentuk apa saja. Harta yang banyak tidak selalu harus terlihat tapi bisa sesuatu yang kita rasakan... Perasaan damai, bahagia, dicintai.
Menjadi orang yang sabar dan mau berusaha pun sepertinya sudah hebat, apa lagi sudah sampai jadi orang yang ikhlas kemudian bersyukur.
Sudah seharusnya karna... Hirup,  mati, bagja, cilaka, semua sudah diatur yg kuasa. Beryukurlah masih sehat dengan raga yang lengkap, di kelilingi orang orang terdekat. Ikhaskan, kalo tidak kamu dapat berarti memang bukan hak... Tapi tetaplah berkeinginan lebih baik untuk semua hal, bila tidak sesuai harapan, ikhlaskan dan berusahalah lebih baik. Semoga bisa seperti itu ya....

Friday, July 29, 2016

My Favorite Cafe Girl


Dengan hati-hati Alice memarkir mobilnya di tempat kosong di sisi jalan, dia baru saja membeli RAV yang bisa dibilang setengah baru lebih dari sebulan lalu , masih ada perasaan yang menyenangkan saat berjalan keluar dan melihatnya terparkir. Untuk seseorang yang berada pada satu titik telah memiliki semuanya, rasanya menyenangkan tahu bahwa segala sesuatu akhirnya berjalan persis ke arah yang dia mau. Sekarang, jika dia sekali saja bisa sukses dalam kehidupan cintanya , dia mungkin akhirnya benar-benar bisa mati bahagia. 
Dia memarkir paralel mobilnya dengan mulus, menarik tasnya dari kursi penumpang dan melangkah keluar, sandalnya berkeletak saat dia mengunci pintu dan berjalan ke trotoar. Jalanan terlihat kosong hanya beberapa orang saja yang berlalu lalang tanpa menyadari kehadirannya. Tanggal tua untuk berbelanja, dan dengan matahari yang sudah tenggelam di antara gedung-gedung tinggi, kebanyakan orang bergegas pulang untuk makan malam dan menonton berita pukul sepuluh. Dia melewati sudut dan melangkah menyusuri trotoar, matanya menyipit menyesuaikan diri dengan lampu jalan. Sebagian besar jendela terlihat gelap, namun ada cahaya yang berasal dari jendela sebuah café menyinari trotoar dengan riang, semacam oasis diantara jalanan sepi yang muram. 
Denga tas yang tersandang canggung di bahunya Alice mulai berjalan kearah café itu. Ada perasaan aneh menggeliat di dalam perutnya, sesuatu yang mirip dengan… kecemasan, perasaan yang sama seperti ketika pergi pada kencan pertama! Bagaimana bisa terjadi? Itu karena Anna, pelayan  yang bekerja di sini telah menarik perhatiannya dua hari yang lalu. Berhenti untuk minum coffee setelah hari yang panjang di tempat kerja (sesuatu yang biasanya dia lakukan di starbucks seperempat mil dari sini), dia telah mendapati dirinya diam-diam terpesona dengan perempuan muda yang membawakan pesanannya. Untuk pertama kalinya, mungkin di selama hidupnya dia merasa begitu penasaran apakah perempuan itu tertarik kepadanya atau tidak. Dan rasa penasaran membuatnya gila! 
Sekali lagi dia berpikir kembali ke pertemuan singkat mereka dua malam yang lalu, mengulangi setiap nuansa ekspresi perempuan itu dan nada dengan rincian obsesif - seperti yang telah ia lakukan berulang kali selama dua hari terakhir. Percakapan pendek mereka, biasa, dan sebagian besar tidak berbahaya. Tetapi Anna tentu saja bicara dengan cara yang sama dengan banyak pelanggan yang lain. Tidak ada yang istimewa tentang hal itu sama sekali, sungguh.
Thank god i didn't tell any of my friends about this. Pikirnya.
Namun... Ketika ia membuka matanya dan mendapati Anna menatapnya dengan intensitas terang-terangan seperti itu, hampir tidak ada keraguan dalam pikirannya bahwa wania ini tertarik padanya. Tatapannya seolah mengandung listrik, seperti ada volt rendah mengalir di bawah permukaan kulitnya. Sekarang, satu tatapan bisa berarti banyak hal. Mungkin sesuatu yang mengerikan, atau bahkan memalukan. Dia masih berdiri di luar café seperti seorang pengecut atau lebih parah lagi penguntit aneh. Apa ini hanya penasaran biasa? Atau rasa kopinya memang begitu enak sampai dia berulang kali kembali lg ke sini.  
Screw it, gumamnya geram. Bel berdentang sedikit lebih keras saat dia mendorong pintu berlahan dan berjalan memasuki cafe, dia meyakinkan dirinya bahwa dia di sini hanya untuk kopi dan internet sampai perempuan itu… Anna menatapnya dari balik counter. 
Alice tersenyum seraya meraih kursi kosong terdekat dan duduk tidak jauh dari tempat Anna berdiri dibalik counter. gadis itu tersenyum gugup dan menanyakan apa yang akan alice pesan. Bertekad agar terliat lebih santai karna tentu saja ini bukan pertama kalinya ia tertarik pada seorang gadis cantik, demi Tuhan. 
Matanya diam-diam mengamati perempuan di belakang meja itu selama beberapa detik sebelum menjawab. Anna berpakaian sama seperti yang terakhir Alice lihat, kasual, celana jeans yang tampak nyaman dan kemeja polo putih dengan tag nama dan logo cafe itu, sedikit terlihat kontras dengan lengannya yang kecokelatan. Rambutnya diikat menyerupai ekor kuda yang berkesan terburu-buru. 
Wajahnya yang kekanakan dan gelisah terlihat menarik... Dan Alice bukan satu-satunya yang berpikir begitu. Seperti hiburan, dia menyaksikan seorang pemuda yang mungkin menghabiskan sebagian besar hari-harinya di dalam gym. Memesan minuman, dan kemudian mulai mencoba menggodanya. Pertama tertawa terbahak-bahak dengan leluconnya sendiri. Namun dua pelanggan di belakangnya dengan tidak sabar sedikit membentak, sampai akhirnya pemuda itu meraih latte, dan pergi dengan wajah cemberut. Alice tak dapat menahan tawanya melihat semua itu.
Dia memutuskan untuk menunggu sampai kopinya benar-benar habis sebelum meminta di isi kembali. Selama beberapa menit berikutnya dia fokus sepenuhnya pada laptop, memilah-milah e-mail dan memindahkan beberapa foto pekerjaan ke file untuk diarsipkan. Dia mendongak untuk memeriksa keadaan sekitarnya ketika menyadari tiba-tiba café itu terasa lebih tenang, Café ini sudah benar-benar kosong, hanya ada Anna di belakang meja. Yang, kebetulan, menatapnya dengan intensitas dan ekspresi yang sama yang dia lihat dua hari yang lalu. 
"Apa anda ingin menambah kopinya lagi?" suaranya sedikit gugup seperti menutupi rasa malu karna tertangkap basah mengamatinya dengan diam-diam.  Woah… pikir alice. Wajah itu benar-benar bisa membuat seseorang jatuh hati dengan begitu keras. 
"yes please…," katanya, lalu terbatuk sedikit seolah kata yang keluar membuatnya sedikit tersedak. "Sepertinya sedikit sibuk malam ini? "Alice berusaha membuka obrolan. Anna mengangguk pelan, melirik sekeliling café dengan ekspresi lelah, seakan menyadari untuk pertama kalinya orang-orang sudah pergi. 
"Oh, yah sedikit lebih sibuk dari pada biasanya. Kami tadi membuat sedikit pertunjukan music dan baru saja selesai ketika Anda berjalan masuk, "kata Anna, melambaikan tangannya ke arah pengaturan platform dan-podium yang sebelumnya tidak alice perhatikan. Sebagian besar kursi dan meja telah sedikit di susun ulang. "Sebagian besar orang-orang ini mungkin akan kembali hanya di jam-jam tertentu, dan saat mereka pergi tempat ini akan tenang seperti biasa lagi," lanjutnya sambil tersenyum. Hah. Dia sedang sibuk menerima pesanan dari beberapa pelanggan yang berbeda, namun dia masih melihat ketika kedatanganku? Itu sedikit... Menjanjikan. 
Pikiran liar menyebabkan sedikit perasaan hangat menyusup ke dadanya, dan ia berjuang untuk menekannya, mengingatkan dirinya lagi bahwa ia telah memutuskan untuk tidak naksir perempuan ini. Sayang sekali dia terkenal karena ketidak mampuannya mengikuti akal sehat.
"Yah… tenang, tetapi terkadang sangat membosankan jika tidak ada seorang pun yang bisa kita ajak bicara." Anna tersenyum pahit. Alice sedikit tertawa, menggelengkan kepala tragis. Mereka berbagi senyum untuk sesaat, dan kemudian Alice ingat cangkir kopinya kosong. 
"Berbicara tentang rasa bosan ," katanya, meraih cangkir dan sedikit mengangkatnya, "Ini sudah terlalu lama sejak saya meneguk sisa kopi terakhir. Apa kamu tidak keberatan mengisinya lagi sebelum saya pergi? " 
"Tentu saja," kata Anna, meraih cangkir bahkan sebelum Alice menyodorkannya. "Kopi yang sama seperti sebelumnya?" Tanyanya sambil melirik lewat bahunya. 
"Yes pleace..", alice menjawab dengan segera. Anna berbalik kembali dan bau kopi yang dituangkan menyeruak memenuhi ruangan. Alice memaksa dirinya untuk tidak melihat punggung dan postur tubuh munggilnya. Dan ... Bagian tengkuk putih dengan rambut-rambut halus berantakan yang seolah mengundangnya. Oke, baik, berusaha untuk tidak melihatnya bukanlah hal yang mudah. Untungnya, kedua matanya patuh dan pikiran sedikit nakal telah dimasukkan kembali ke tempat yang tepat pada saat Anna kembali. 
"Nah," katanya, menyerahkan cangkir yang sekarang penuh kembali. Alice mengucapkan terima kasih dan menyesapnya sedikit, berusaha merencanakan alasan yang masuk akal untuk mengajaknya bicara, tetapi terkejut menemukan bahwa Anna terdiam memperhatikannya. 
Alice meneguk kopinya dan berusaha tetap fokus menjaga kegembiraan agar tidak kentara dengan jelas di wajahnya. Sekarang Anna berdiri di hadapannya, tiba-tiba sadar akan kekacauan di depannya, komputer, dan berbagai barang-barang yang tersebar di seluruh meja kecil, membuat penuh setiap inci ruang yang tersedia. Sedikit malu, dia bergumam cepat "Sorry about the mess" Alice mulai memasukan kembali barang-barangnya ke dalam tas.
"Jadi anda bisakah menceritakan apa yang sedang anda kerjakan?" Alice mengerjap, dari pertama kali mereka bertemu, Alice merasa dia sudah mengoceh dan bicara banyak selama ini . Salah satu dari beberapa hal yang dia sesali dari pertemuan mereka. Anna telah menjadi pendengar yang baik, tapi alice merencanakan untuk menutup mulut besarnya kali ini dan membiarkan perempuan ini berbicara
Alice membalikan komputernya sehingga Anna bisa melihat dari tempatnya berdiri. Side-by-side begitu dekat sehingga mereka berdua bisa melihat layar komputer, Alice mulai memperlihatkan beberapa sampel dari karyanya, memilih proyek dan tempat-tempat yang mungkin Anna kenali, serta beberapa yang menjadi favoritnya. Merasa lebih percaya diri dan santai saat berbicara - Alice sebenarnya cukup ahli dalam pekerjaannya, dan Anna adalah pendengar yang sangat baik - foto dan percakapan mulai mengalir begitu saja. 
"Wow," kata Anna, kepala menunduk dekat pada layar dan mata abu-abunya lekat memperhatikan gambar-gambar yang ditunjukan Alice. "Ini benar-benar, Hebat!" Katanya, sambil melirik alice sekilas. "Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikanya?"
"
Mungkin sekitar beberapa minggu," jawab Alice, sedikit melamun.
Selama percakapan dia berhasil
focus sepenuhnya  pada layar dan gambar beberapa yang diakerjakanya. Tapi sekarang, saat ia bersandar dan mengambil waktu sejenak untuk menarik napas, ia mendapati dirinya terganggu oleh hal-hal lain ... Rambut Anna, beberapa helai rambut keluar dari ikatan ekor kudanya, sedikit berantakan jatuh ke lehernya. Cahaya putih dari komputer menyinari wajah lembut dan terlihat antusias. Wajahnya hanya terpisah beberapa cm darinya, dan Alice hampir bisa merasakan Anna begitu dekat di sampingnya, seperti aliran panas listrik di sepanjang sisi kanan seluruh tubuhnya. Alice sedikit merinding saat lengan mereka hampir bersentuhan, dia mengepalkan tangannya membentuk sebuah tinju untuk menahan sensasi itu.
"
Kamu benar!" Katanya, sambil memperhatikan sekeliling caffee. "Disini hampir setenang kuburan ...  Kerumunan orang akhirnya mulai hilang."
"Terima kasih Tuhan," Anna
berseru dengan kesungguhan yang mengejutkan, kemudian tiba-tiba wajahnya memerah dan tampak malu dengan ledakan kejujurannya.
Alice tertawa,
menyukai kepolosannya yang tampaknya tidak memiliki filter antara otak dan mulutnya, yang membuatnya mengatakan apa yang benar-benar dia pikirkan hampir setiap kali dia bicara. Alice mulai merasa bahwa Anna sebenarnya cukup riang dan lucu, sebuah fakta yang tidak segera jelas terlihat  dari tampilan luarnya yang pemalu dan kikuk. Mereka telah duduk dan berbicara selama lebih dari setengah jam, namun ia berhasil untuk tidak membocorkan fakta tentang dirinya - bahkan dia tidak hanya sekedar lewat.
Sebuah tangan
datang entah dari mana dan menepuk bahu kiri Anna, membuat mereka berdua  melompat dengan rasa kaget yang terlihat jelas di wajah mereka. Itu adalah perempuan tua yang bekerja di ujung meja, datang untuk mengingatkan Anna bahwa mereka akan tutup tiga puluh menit. Dia mengangguk dan mengucapkan terima kasih kepada perempuan itu (yang namanya ternyata Heidi), saat perhatiannya kembali ke Alice, dia seperti seseorang yang baru saja terbangun secara tiba-tiba dari lamunan.
Alice membayangkan bahwa wajahnya sendiri tampak
terlihat sama, dia terlalu fokus memperhatikannya hingga seolah dunia di sekitar mereka benar-benar diblokir dan dilupakan.
Alice m
elirik arlojinya dan terkejut melihat betapa banyak waktu berlalu. Sudah waktunya untuk pergi, tapi bagaimana mengakhirinya? Pikirannya segera beralih ke semua hal-hal yang biasa dikatakan di akhir kencan pertama  “I had a great time”, “We should do this again”, “How about we go back to my place after this.....?”
Nah, yang terakhir pasti keluar. Dan, kalau dipikir-pikir lagi, tidak benar-benar pantas untuk situasi saat ini.
"Aku senang
anda datang malam ini," kata Anna, memecah keheningan yang canggung. "Disini akan menjadi sangat membosankan tanpa Anda." Lanjutnya dengan pipi bersemu merah.
"Aku juga," katanya, merasa sedikit mual
dan berusaha menahan dorongan untuk mengajaknya berkencan, suatu tindakan yang mungkin akan menjadi bencana. "... Aku senang telah datang. Tempat ini bagus, dan saya benar-benar menikmati percakapan kita. Aku harap aku tidak membuat kamu bosan! "
"Tidak, tidak sama sekali," kata Anna, tersenyum. Anna berbicara dengan kejujuran
yang sederhana, nada suaranya terus terang tanpa sedikit pun sindiran. Tetapi dia masih tidak yakin apakah Anna tertarik padanya.
Alice mengatakan selamat tinggal dan mulai mengumpulkan barang-barangnya. Dengan
sedikit mengintip dari balik bahunya dan berjalan menuju pintu depan, merasa seolah-olah ditarik tanpa daya untuk melawan. 

"Oh, tunggu," Anna memanggil ragu, menunggu Alice berbalik. "Datanglah lagi. " Senyum malu-malunya membuat jantung berhenti, dan seperti yang terjadi saat pertama kali mereka bertemu, Alice merasa ada listrik panas yang lurus langsung dari mata abu-abunya.

And just like that, hope springs eternal. She was so screwed.

Monday, July 25, 2016

Yet you find yourself begging for love, for attention, for forgiveness. 
Worse, you keep begging, always begging... and you hate yourself for it.


Scars

One day everything runs smoothly and then...
The next day everything will fall apart faster than you can put it back together...

Waktu menyembuhkan luka, tapi benarkah seperti itu? Luka menolak untuk hilang, hanya lambat laun, pikiran berusaha untuk tetap waras, menutupi luka dengan jaringan parut hingga rasa sakit pun berkurang. Tapi luka tidak pernah hilang...

Thursday, April 28, 2016

Rumitnya Pikiran Perempuan

Pada akhirnya cinta adalah rasa percaya bahwa seseorang akan terus membahagiakanmu tanpa kamu merengek memintanya. Sesederhana itu... tapi kenyataannya tidak benar-benar sederhana.
Saat seorang anak merengek meminta coklat, karna dia begitu menginginkan coklat. Beda halnya saat perempuan merengek minta di perhatikan, karna dia begitu menginginkan di cintai. Perhatian yang d tunjukan membuatnya seolah dia di butuhkan.
'Saya Merasa depresi, saya butuh perhatian lebih, kata-kata menenangkan bahwa semuanya akan baik-baik saja, kamu sangat sayang dan akan selalu ada menjaga saya. Tolong mengertilah saya membutuhkan kamu.'
Satu kalimat panjang yang di singkat menjadi rengekan tak jelas, marah, emosi dan tangisan. Lucunya perempuan merasa ingin di mengerti sekalipun tanpa bicara apa-apa. Sayangnya semakin merengek, semakin mungkin di tinggal pergi. Kebanyakan pasangan menerimanya dengan perasaan tidak suka, merasa terganggu, ikut emosi, merasa tak ada masalah, dituntut, diminta selalu perhatian seolah dia tidak punya masalah lain yang harus dipikirkan. Yang satu ingin dimengerti begitu juga pasangannya, dua pikiran dua keinginan. Lalu apa intinya berpasangan, ada saat salah satunya membutuhkan. Menjadi tempat pulang dan tempat mencari ketenangan. Mencintai itu memberi... tp orang tidak selalu bisa memberi. 
Rumitnya pikiran perempuan beranggapan semua pasangannya bisa telepati. Tapi mungkin pasangan yang benar-benar mengenalmu, biasanya mereka mengerti bahkan saat kamu tidak mengatakan sepatah katapun.

Tuesday, March 8, 2016

Namanya Dinda

‘Kita sebagai masyarakat harus sedikit lebih waspada dengan menyebarnya.’ Salah satu pembaca berita berapi-api bicara di tv. 
 
Akhir-akhir ini semua media meributkan LGBT, dari mulai psikolog, ulama, penulis,bahkan ibu rumah tangga seolah mendadak berubah menjadi ahli yg lebih tau dari yang lain. Meresahkan mungkin untuk beberapa orang yang secara langsung terpengaruh ada juga tidak perlu repot ambil pusing memikirkannya. Yang aku lihat saat ini bukannya membuatku terganggu, tapi malah sedikit terkenang, penasaran, membuatku mengingat belasan tahun yang lalu.
 
Saat itu aku hanyalah anak kecil berumur 17 tahun yang selalu bisa mempertahankan peringkat 5 di kelas meskipun tidak bisa di bilang cukup hebat tapi lumayan untuk anak yang tidak pernah punya catatan, kadang membolos dan ketiduran di kelas, aku selalu bisa bertahan di saat-saat genting ujian dan lulus dengan hasil yang tidak terlalu buruk. Dulu tidak mengenal internet, social media bahkan mungkin belum ada. Aku menjalani masa remaja tidak berbeda dengan yang lain, mungkin hanya sedikit tomboy tapi tidak sampai berpenampilan seperti laki-laki. Semuanya sangat biasa, tapi entah apa, namun saat itu aku selalu merasa berbeda dengan teman-teman perempuanku yang lain. Aku hanya membebaskan diriku dengan segala kemungkinan bisa menyukai siapapun. Saat kau pernah merasa jatuh hati, kau akan tau saat kau jatuh hati, namun saat itu aku belum merasakannya, bahkan mungkin bila diingat lagi sekarang aku tidak merasakannya sampai belasan tahun kemudian.
 
Lalu di pertengahan tahun muncullah anak baru ini, Dinda anak pindahan dari Jakarta, penampilannya biasa saja cukup feminim kalo dibandingkan denganku. Ceria banyak tertawa, dia bisa dengan mudah akrab berkumpul dan jalan dengan semuanya. Terkadang kita bisa ngobrol lama di mana saja, sesekali pergi nonton beramai-ramai, atau hanya diam di rumahnya. Sampai suatu hari tinggalah aku dan dia berdua, hujan lebat di luar membuatku tidak bisa pulang. Di tengah obrolan kami, tiba-tiba dia terdiam.
 
‘Gimana rasanya di cium perempuan?’ Gumamnya, sambil melihatku. Entah bertanya padaku atau pada dirinya sendiri aku tidak yakin. Aku hanya diam sesaat, melihatnya di sebelahku kemudian aku menciumnya. Kita tidak sedang jatuh cinta dan akupun tidak sedang menyukainya dengan cara berbeda.
 
‘Lebih enak di cium laki-laki ya.’ Katanya sambil melihat keluar. Aku hanya tersenyum kecil sambil mengusap sudut bibir. Kami berdua diam, entah apa yang dia pikirkan tapi aku tidak mencoba bertanya. Mungkin rasanya akan berbeda bila aku menciumnya sekarang. 
 
Di sekolah, kita tidak membicarakan tentang ciuman itu, bahkan mungkin dia sedikit lebih banyak diam dan akupun tidak berusaha membuka obrolan. Mungkin setelah beberapa hari kami baru bisa beramai-ramai ngobrol nongkrong seperti biasa, seolah satu ciuman itu tidak pernah terjadi. Kami menghabiskan sisa tahun sekolah bersama-sama. Kemudian saat semuanya lulus, dia pulang ke Jakarta dan aku pergi kekota lain melanjutkan sekolah. Aku menjalani kehidupku dan berhubungan dengan beberapa perempuan, namun 19 tahun berlalu tanpa tau dia seperti apa dan dimana.
 
Kemudian hari ini, saat aku duduk di depan tv aku kembali memikirkan dia, apakah dia melihat semua berita tentang LGBT ini atau membacanya entah di mana, dia teringat ciuman kami. Apa yang dia pikirkan saat menontonnya, apakah dia juga mengingatku? Bertanya-tanya bahkan sedikit geli mengingat yang kami lakukan dulu. Semua pertanyaan yg tak akan ada  jawaban. Sepertinya aku merindukan teman lamaku. Ya hanya itu saja.
 
‘Baby…’ Satu pesan singkat di layar handphone mengalihkan lamunanku.
‘Ya sayang… kamu sibuk baby? aku rindu.’ Balasku.
© Just Floo 2012 | Blogger Template by Enny Law - Ngetik Dot Com - Nulis