You, and Coffee Latte

A : I've got to see you. 
F : No. 
A : What is this, patriotism? 
F : I don't want trouble. 
A : I'm not trouble. 
F : You're taken. 
A : We should go out on a date. 
F : Tough.
A : But You kissed me!
F : What are you, 12?

Antagonis


Namanya juga drama, ya harus ada yang sudi jadi antagonisnya... 
Biar itu bagianku...

Senja

Aku menyukai senja seperti halnya dia. Bagiku senja selalu sempurna. Kami selalu menunggu senja itu datang, bahkan sampai malam menjelang.
"Senja kali ini lebih indah dari biasanya khan Ve?" tanyanya.
Lamunan dan senyuman tanggungku terputus. Kembali aku memperhatikan senja yang merona pada genangan-genangan sisa air hujan. Dhi menyenderkan kepalanya ke pundakku “Disini rasanya waktu berjalan lambat. Kau terlalu lama pergi.” lanjutnya diiringi helaan napas gemetar. Aku bisa merasakannya. Gemuruh dalam dirinya membuat bibirnya menggigil dingin dan beku. Sementara tak terasa bibirku juga menjelma ngarai; sunyi. 

“Maaf … “ Getaran bibirku kelu.
"Ya, aku tahu… Katamu semua punya alasan. Mengapa matahari terbit di ufuk Barat dan terbenam diufuk timur. Semuanya memiliki alasan. Dan kau juga punya alasan.“ Senyumnya getir. “Ah lihat… bahkan senja sudah hampir habis. Tapi besok senja merah lagi dan, kau selalu bisa bertemu denganku di sini." Lanjutnya.
Aku hanya menatapnya, waktu berlalu dengan cepat sekaligus lambat. Sisa senja kala itu kami lewati dalam bisu.

“Hei Ve!! Sedang apa duduk sendiri di situ, ini sudah waktunya kita berangkat…” Hana menepuk pundak, “Lebih baik kita bergegas, misa pemakaman Dhi sebentar lagi.” Aku berdiri, dan sekali lagi menatap bangku kosong itu. Aku merapatkan jaket dan menghangatkan kedua tanganku dalam saku. Angin berhembus, lampu taman kota mulai menyala satu persatu.

Urang Sunda


Asa ku bangga jadi orang sunda..... hahahaha.....

#Gambar kenging nyandak tina Fb rerencanga.

The Curse

Rabu kemaren salah satu kawan menyebut nama saya jadi salah satu orang yang di kutuk juga... ternyata kutukan ini berisi 11 hal tentang saya dan 11 hal yang harus saya jawab, dan 11 pertanyaan yang harus saya buat... jadi sebenernya gak bener-bener 11 ya... klo di jumlahin malah jadi 33 biji. Haduuhh... Pagi-pagi dah dapet Per Er jugaaa... banyak pulaaa.... 

Baiklaahhh... ayo kita mulai kerjain Per Ernya... tapi sebelum nulis tuh, saya biasanya ritual dulu, ngopi dulu lah, ngerokok dulu lah, twitteran dulu lah, efbean dulu lah... hehehe... Akhirnya gak nulis-nulis. Canggih ya.... hehe... 

11 tentang Floo :
1. Saya anak pertama dari 4 bersodara, entah mungkin karena anak paling gede nih, sejak kecil saya paling sering di suruh ini itu. Mulai ambil kayu bakar di hutan sampe gembala sapi... hehehe.. gak denk. Keluarga mempercayakan banyak hal pada saya... termasuk mengurus diri sendiri. Dari zamannya saya masih SMU sampe kerja, saya ngekos (beli rumah belum mampu waktu itu).... padahal orang tua masih satu kota.
2. Saya adalah kakak yang galak, saya mungkin termasuk orang yang agak tegas untuk aturan-aturan dalam rumah, termasuk untuk urusan disiplin adik-adik saya. Padahal saya sendiri bandel juga, agak-agak sih, dikit kok... lumayan juga deh... #labil 
3. Jalan ke pedesaan, dan naik sepeda adalah cara saya menghindari kejenuhan. Karena saya sangat menyukai suasana pedesaan, dan pemandangan hijau sawahnya. Tempat seperti itu yang membuat saya selalu merasa di rumah.
4. Saya gak pilih-pilih soal makan, yang enak saya pasti makan. Masalahnya bukan makanannya, tapi saya sangat sering lupa makan. Mungkin harus ada yang berbaik hati ngingetin sering-sering...#eaaa
5. Saya emosional, sangat mudah terbawa perasaan. Moody banget... 
6. Jaman saya kecil ibu saya sering ajak nonton di bioskop, Film India pula... saking terharu liat cerita filmnnya saya sering nangis sesegukan sambil nonton... ckckck.. bikin malu.
7. Saya sangat jarang sekali membaca novel drama, dan liat film drama. Habisnya kayak liat kisah sendiri, banyak berakhir tragis... hihihi... #lebay
8. Pengeeeennn banget duduk bedua liat sunset di pantai sama pacar... #kode
9. Saya sangat suka sekali menggambar, dari jaman saya masih SD sering banget ikut lomba gambar meski yaaahh....  gak juara juga. Lukisan pertama saya masih bisa di lihat di dinding samping rumah orang tua saya hehehe..... 
10. Saya sangat menyukai Yogyakarta... hanya beberapa bulan tinggal di sana, tetapi kota ini sudah membuat saya kerasan tinggal di sana. Semua hal tentang Yogya saya suka, bahkan saya bisa berjam-jam duduk anteng memperhatikan orang bicara dengan logat jawa Yogya. Berharap suatu hari nanti bisa ke sana.
11. Dan keinginan terbesar saya adalah saya sangat berharap mesin waktu di temukan. Pengen menjelajah waktu dan memperbaiki kesalahan-kesalahan saya, termasuk kesalahan menjawab soal ujian waktu sekolah hahahahaa....

Naaahhh.... selanjutnya saya akan jawab pertanyaannya dari Wirda Weird nih :

1. Teman ideal menurut kamu, yang seperti apa?
Buat aku teman ideal itu teman yang enak di ajak ngobrol, tidak takut mengkritik kita saat kita melakukan kesalahan. Menerima kita apa adanya. Bisa di ajak gila juga... yang pasti gak bosenin deh.

2. Lebih suka baca buku cetakan atau e-book?
Bukuuuuu.... klo e-book gk bisa baca sambil tiduran atau sambil duduk di toilet... :p

3. Kalau ada pilihan untuk kerja di Gedung DPR atau di Kepresidenan, kamu pilih yang mana? Berikut alasannya.
Saya lebih milih jadi pengawal pejabat aja deh... biar keren keliatannya kayak agen CIA gitu hihihi... ribet ngurusin pemerintahan

4. Kalau kamu nyasar ke jaman batu, apa yang akan kamu lakukan setelah 2 hari nggak ketemu jalan pulang?
Saya akan menjadi manusia pertama yang mengajarkan peradaban pada mahluk-mahluk primitif jaman batu. hihihi...

5. Seandainya Gayus Tambunan itu temen kamu, apa yang akan kamu bilang waktu dia bisa dengan bebasnya punya jam khusus dengan istrinya di penjara
Saya akan bilang... "Keren kamu... duit buat nyogonya pasti banyak. Jangan lupa bagian saya kalo kmu dah keluar nanti okeh...." Hahaha....

6. Donald Bebek itu umurnya berapa sih sekarang ini, di tahun 2011 ini?
Saya waktu pertama kali baca buku Donal bebek itu jaman saya masih TEKA....  klo lahirnya sekitaran tahun 1934... paling yaahh... bisa di hitung pake kalkulator lah itu... hihihi...

7. Lebih suka mana Obelix atau Donald Bebek?
Donal bebek donk.... aku jarang baca komik Obelix

8. Seandainya kamu adalah penasihat bapak SBY, untuk menyelesaikan kasus Lumpur Lapindo, apa yang akan kalian usulkan kepada si bapak?
Saya akan bilang : "Mungkin ada bagusnya membuat sebuah kota yang bisa mengapung di atas lumpur pak... "

9. Siapa cowok/cewek paling seksi versi kamu?
Cewek dulu yaa... menurut saya yang seksi itu putih tinggi, berkaki panjang, jago maen bola volly, romantis.. eh sebentar itu khan... hehehe... hmm sebentar.... Sexy yaaa...? Selain dia, menurut saya cewek sexy itu seperti, Jodie Fosters.
10. Kenapa dangdutan identik dengan goyang jempol?
Waduh.... klo itu saya gk tau yaaa... pertanyaan sulit...
11. Kenapa kalau film India selalu ada nari-nari dibawah hujan?
Mungkin biar keliatan lebih Romantis aja... trus pas di shoot gt khan lekukannya jd lebih sexy kali...:P

Okeeehhh dan sekarang saatnya pertanyaan yang harus dijawab oleh para KORBAN KUTUKAN 11 berikutnya :

1.  Jika kamu mengalami hari yang paling menyedihkan dan perlu untuk melampiaskannya, siapa akan kamu temui?
2. Pikiran siapa yang paling ingin kamu tau, bila kamu di berikan kemampuan membaca pikiran orang?
3. Coba bayangkan jika kamu adalah seorang Duta Besar PBB. Apa yang akan kamu ingin lakukan untuk perdamaian dunia, dll pemanasan global? aih resmi bener.
4. Menurut kamu dimana tempat terbaik di dunia ini untuk berbulan madu?
5. Apa fantasi terliar kamu? Siapa yang akan kamu inginkan, sebagai bagian dari itu? 
6. Jika kamu memiliki satu miliar dolar, apa yang akan kamu lakukan dengan semua uang itu? 
7. Pilih satu di antara dua gaya bertarung yang kamu suka : Jurus bangau atau monyet mabuk? 
8. Apa yang paling kamu takuti?
9.  Jika kamu hanya mempunyai satu hari jatah hidup, apa yang ingin kamu lakukan?
10. Kamu lebih memilih Jomblo atau Single?
11. Dari semua orang yang paling dekat denganmu... siapa yang paling kamu inginkan menemanimu? 

Dan ya….  ini daftar orang-orang yang akan menerima kutukan :

10.sama 11-nya bingung..... nyusul ajaaaa....

Saya ucapkan selamat berjuang kawan... enjoy the Curse :)) yang gk ada blog atau gk bisa nulis.. tulis di Fb aja deh gpp... :P
 

Laundry

Aku melihatnya lagi hari ini, menjadikannya minggu ketiga secara berturut-turut kami berdua berada di Laundry pada waktu yang sama. 

Dia tersenyum setiap kali mata kami bertemu. Dia ramping dan berambut gelap, bukan tipeku sama sekali sebenarnya, tapi ada sesuatu tentang dirinya yang menarik perhatianku. Mungkin cara dia selalu tertawa dan tampak begitu ramah terhadap semua orang di sekelilingnya. Dia begitu hidup dan bersemangat, dan itu membuat siapapun merasa nyaman berada di dekatnya. 

Sementara menunggu cucianku selesai. Sekilas aku melirik dan mendapati dia menatapku dan tersenyum. Aku bertanya-tanya sendiri. Apakah ia pernah tertarik pada seseorang seperti aku? Tentu saja tak ada jawaban untuk pertanyaanku. Kami bahkan tidak pernah saling bertegur sapa, namun aku tidak bisa mengeluarkan dia dari pikiranku sejak minggu sore pertama kami bertemu. Dia tidak seperti yang lain, biasanya aku lebih tertarik dengan orang-orang yang tenang, kurang lebih seperti diriku. Semakin aku duduk dan berpikir tentang dirinya, semakin aku ingin tau banyak hal tentangnya. 

Sambil menunggu pakaianku dikeringkan, aku memilih duduk di kursi dan menarik keluar bukuku. Tiba-tiba dia ada di sana, duduk di kursi sebelahku.

Dia membungkuk sedikit. "Apa yang ka
mu baca?"

Suaranya tidak tinggi atau rendah tetapi
antara lembut dan menyenangkan. Ketika dia membungkuk lebih dekat , aku bisa mencium aroma samar kelopak bunga. Di latar belakang aku bisa mendengar suara mesin berputar, pengering bergemuruh dan bahkan beberapa percakapan bernada rendah di sekitarku.

Aku menutup buku itu dan menunjukkan
sampul depannya. "Ini eh, Asisten Penyihir by Anne Patchett." Menatap sekilas wajahnya dan dalam hati mengutuk kegugupan dalam suaraku.

Dia menatap lurus ke arahku dan tersenyum mempesona. "Bagus?"

Aku tersenyum menjawab dengan tenang 'ya'.


"Sungguh? Apa yang biasanya
sering kamu baca? "

Sekarang ini
adalah pembicaraan yang membuat aku merasa lebih nyaman. "Yah, aku biasanya lebih suka fiksi ilmiah. Aku tidak begitu banyak membaca horor tapi sisanya aku suka. "

Dia memiringkan kepalanya ke samping, "Bagaimana dengan non-fiksi? Apakah
kamu pernah membaca itu?"

Aku meringis, “
Tidak, aku membaca untuk menghibur diri dan berimajinasi, jika aku menginginkan realita aku akan membaca Koran atau menonton berita di TV saja.”

Dia tertawa dan aku bersumpah aku melihat matanya bersinar. "Aku pikir kau mengambarkan sesuatu yang sama percis dengan apa yang aku pikirkan."

Aku
menutup bukuku, merasa tidak berminat meneruskan. Aku memiliki dua puluh menit lagi sebelum pengering selesai dengan baju-bajuku. Tanpa melihat langsung wajahnya aku memberanikan diri bertanya. "Jadi apa pekerjaanmu?"

Dia
membetulkan letak duduknya sebelum menjawab. "Well, aku asisten editor surat kabar."

Ada sesuatu dengan wanita cerdas
dan mengerti sastra yang selalu membuatku tertarik,
tidak masalah dia Gay or Straight. Dia tampak begitu bersemangat dengan pekerjaannya. "Asisten Editor ya? Wow, itu hebat! Jadi sudah berapa lama bekerja di sana? "

"Oh, sekitar dua tahun. Aku awalnya ingin menjadi seorang wartawan, tapi kemudian
aku memutuskan ingin lebih mengontrol apa yang akan di baca. Jadi di sinilah aku, sebagai asisten Editor." Dia melambaikan tangannya di udara saat ia selesai berbicara. "Bagaimana dengan kamu, apa pekerjaanmu?"

Aku begitu asyik
melihat caranya berbicara, dan membuatku hampir tidak memperhatikan pertanyaannya. Aku berdeham, "Yah, uh, aku menjalankan sebuah toko, toko kecil di pusat kota. Kami menjual spesialis buku tua. "

Dia memiringkan kepalanya ke arahku lagi. "Sungguh
? Aku pernah ke sana beberapa kali dan aku tidak ingat pernah melihat kamu di sana. Apakah kamu baru saja mulai bekerja dalam beberapa bulan terakhir? "

Tiba-tiba
aku merasa gugup lagi. "Akan sulit melihatku di sana, karena aku bekerja pada jam tertentu. Aku hanya menggantikan karyawan yang libur atau tidak dapat bekerja untuk beberapa alasan." Aku tertawa gugup, menyadari sesuatu yang penting terlewatkan. Aku sedikit membetulkan letak dudukku dan mengulurkan tangan. "Aku kira aku harus memperkenalkan diri. Namaku Ana. "
 

"Namaku Jill. Jadi itu toko kamu? That's good." Dia meraih tanganku dan tertawa pelan. Saat itu, saat kami menatap mata satu sama lain, aku merasakan sesuatu. Kuat dan sekaligus halus. Aku bertanya-tanya apa yang dilihatnya ketika dia menatap mataku. Apakah dia hanya melihat pupil hitam dikelilingi warna biru atau apakah dia melihat sesuatu yang lebih dari itu? Apakah dia melihat pikiran dan emosiku  atau bahkan mungkin jiwaku? Kemudian dengungan mesin pengering, mengalihkan perhatian kami. Aku memelihat jam dan menyadari pakaian-pakaianku selesai di keringkan. Ketika aku melihatnya kembali, tangan kami masih saling menggenggam.

"Apakah Anda ingin ..."

"Bagaimana kalau ..."

Kami tertawa karena kami mulai berbicara pada waktu yang sama. Aku mengangguk malu-malu "Silakan."

Dia tersenyum
. "Apakah kamu mau pergi untuk minum kopi?"

Aku merasa leg
a, karena dia meminta sesuatu yang sama percis dengan yang aku pikirkan. Aku tahu aku tidak pernah merasa sesenang ini sebelumnya. "Tentu, dengan senang hati."
Kembali melirik pengeringku. "Aku harus menyelesaikan ini terlebih dahulu. Kamu tidak keberatan menunggu?".

Sekali lagi dengan senyum. "Tidak, tidak sama sekali."

Aku setengah jalan
kearah mesin pengering ketika aku teringat sesuatu. Aku berbalik dan mendapatinya sudah menatapku. "Eh Jill, bagaiman dengan pakaian-pakaian kamu?".

Dia menatapku dan menunjuk
kearah keranjang dekat pintu. Ada sekeranjang pakaian terlipat rapi. Ketika aku menatapnya dengan bingung dia benar-benar tersipu. "Aku selesai tepat sebelum aku duduk dan berbicara dengan kamu." Kami saling memandang dan aku mengerti.

Setelah
aku selesai dengan cuciku dan berjalan menuju kendaraan kami masing-masing, dia menghampiriku di pintu mobil. "Bagaimana kalo di Bean Café?" Ketika aku mengangguk, dia melanjutkan, "Kamu mau mengikuti mobilku ke sana?".

Aku menatap mata hijau yang jelas dan tahu bahwa aku
tertarik padanya. "Tentu, kamu memimpin dan aku akan mengikutimu dari belakang." Dia tersenyum dan berbalik, namun dengan cepat berbalik lagi dan melangkah mendekat.

Ketika
aku menatap matanya lagi aku melihat sesuatu yang baru dan aku tahu hal yang sama bersinar di mataku sendiri. Aku melihat ketertarikan yang sama. Perlahan dia mendekat sampai ujung jari kami bersentuhan. Dia tersenyum tenang. "Aku  akan melihat kamu dalam beberapa menit lagi khan?"

Aku hanya tersenyum. "Kau memimpin dan aku akan mengikuti." Dan itulah akhir dari awal kami.

Café Girl

Aku duduk di sofa nyaman yang terletak di sudut café. Berpura-pura menyibukan diri dengan membaca buku. Namun dalam kenyataannya, aku menatapnya. Dia duduk hanya beberapa meter dariku, di sofa yang tepat menghadap jendela.

Beberapa orang mengatakan: "Dia terlihat seperti malaikat." Atau, sesuatu seperti itu. Tapi, ketika melihatnya, aku melihat api. Dia memiliki rambut merah panjang yang tergerai di bahunya. Aku rasa, aku belum pernah melihat dia dengan ekor kuda sebelumnya. Meski aku yakin gaya rambut yang lain akan tetap terlihat bagus pada dirinya. Matanya sebagian besar tertutup dengan eye shadow gelap, tapi warna ini justru membuat mata birunya terlihat lebih indah. Bersinar seperti bulan di malam hari. Dia tidak pernah memakai lipstik dan dia tidak membutuhkannya, bibirnya merah alami, terlihat begitu menggoda. 

Siapa namanya? Untuk waktu yang cukup lama, aku hanya menatapnya dan berpikir: Apa nama yang cocok untuknya? Nancy? Nicky? Laura? Atau mungkin Monique? Sampai suatu hari aku mendengar teman-temannya memanggilnya Jackie. Aku kira namanya Jacqueline. Nama ini dengan tepat menggambarkan kecantikannya yang sempurna. 

Karena nama ini, aku tidak bisa tidur di malam hari. Aku berbaring di tempat tidurku dan ketika memejamkan mata, aku melihat wajahnya, mata birunya, senyumnya. Dia dalam mimpiku, hanya di sana, aku benar-benar bahagia. Hanya ada dia mencintaiku, dia membutuhkan aku, dia menciumku. Hanya di dalam mimpi, dia milikku. Hanya ada aku dan dia. Tanpa teman berisik nya, tanpa masalah kita, tanpa seluruh dunia. Hanya kami berdua. Kadang-kadang kita menari. Aku memeluknya dan menghirup aroma tubuhnya. Aroma kulit lembut. Dan hanya dalam mimpiku, aku bisa menyentuhnya. Dan kulitnya terasa seperti bunga pada ujung jariku. Begitu lembut dan indah. Sayang bahwa itu semua hanya mimpi. Kadang-kadang ketika perasaanku tak tertahankan, aku ingin melupakan semua ketakutanku dan pergi menghampirinya, mengatakan padanya apa yang aku rasakan, mengajaknya berkencan.

Kemudian aku berdiri dan berjalan mendekatinya. Beberapa langkah jarakku darinya,  dia memperhatikanku, sepertinya dia sudah tahu aku akan mengatakan sesuatu. Itu membuatku semakin gugup, dan membuat langkahku pun melambat bahkan terlalu lambat. Seorang pelayan cafe mengalihkan pandangannya dariku, dia lupa aku. Dan aku tau, bahwa aku kehilangan kesempatan berbicara dengannya kali ini. Hal seperti ini sering terjadi, tapi aku yakin - suatu hari nanti aku akan memiliki cukup keberanian dan aku benar-benar akan berbicara dengannya dan menceritakan apa yang aku rasakan. 

Aku sering bertanya pada diri sendiri: apakah dia tahu siapa aku? Apakah dia tahu namaku? Apakah dia mengenali aku ketika kita kebetulan naik di bus yang sama? Apa yang dia pikirkan tentang aku? Apakah dia seperti aku? Atau mungkin dia membenciku? Mungkin dia sudah tahu apa yang aku rasakan padanya dan dia mengira aku menjijikkan? Aku tidak berpikir aku akan pernah mendapatkan jawaban atas pertanyaan ini, tapi mungkin lebih baik begitu. Aku masih menatapnya. Sekarang dia menyalakan sebatang rokok. Bahkan ketika dia merokok dia tampak begitu cantik. Aku ingin tahu apa hobinya? Mungkin dia suka menari? Dia memiliki sosok yang sempurna untuk itu. Atau mungkin dia suka melukis? Sepertiku. Mungkin dia suka menggambar orang dengan wajah yang berbeda? Atau mungkin dia suka menyanyi? Aku yakin dia punya seribu talenta yang aku tidak tahu. 

Dia memalingkan wajahnya ke arahku dan sekarang dia menatapku juga. Dia melakukan itu karena dia bisa merasakan tatapan mataku di wajahnya. Dia menatapku seolah-olah dia bisa mendengar pikiranku. Aku berharap bisa mengambil gambar dia sekarang, jadi aku selamanya bisa tetap melihat kecantikan seperti ini dan tidak pernah melupakannya. Aku masih menatapnya dan dia tersenyum. Dia tersenyum padaku. Ini adalah pertama kalinya, seolah mengatakan: "Saya tahu, saya tahu segalanya..." Memberiku lebih banyak keberanian dan aku berdiri, mengambil buku-bukuku dan berjalan ke arahnya. Tapi apa yang akan aku katakan padanya? Haruskah aku langsung menceritakan apa yang aku rasakan? Sekarang aku begitu dekat dan dia masih menatapku. Dia tahu sekarang bahwa aku datang mendekatinya dan di matanya aku melihat kebingungan. Aku pikir aku tahu apa yang dia pikirkan: "Mengapa gadis ini menghampiriku, aku bahkan tidak kenal dia?." Atau sesuatu seperti itu. 

Aku sudah membuka mulut tapi urung mengatakan apa-apa, karena di belakangnya, ada perempuan lain. Tangan menutupi matanya dan dia tertawa. Tertawa penuh kebahagiaan dan berbalik melihatnya. Lalu dia memeluknya, mencium dan mengatakan bahwa dia mencintainya. Aku bahkan tidak berhenti berjalan, aku lurus melewatinya. Ini bukan untuk pertama kalinya, tapi aku merasa begitu buruk. Ingin menangis, tapi aku hanya menyeka poni dari mataku dan berjalan ke arah pintu keluar. Aku tahu, aku tidak akan pernah bersamanya. Dia tidak akan pernah memelukku atau menciumku, atau mengatakan bahwa dia mencintaiku, karena dia mencintainya. Tetapi aku tidak perduli, aku masih akan terus memikirkan dia. Karena dia adalah yang pertama bagiku.

Palung Kerinduan


Dan di palung kerinduan, mataku nanar kehilangan jarak pandang. Ini tak mungkin diteruskan. Entas dari ini, atau mati tenggelam.

Degup di Dadamu


Aku ingin diam di dadamu, mendengar degup yang berbisik: "Janganlah kau menepi sebelum kita terikat dalam satu janji". Senandung yang selalu kau nyanyikan dalam diam, perlahan, pelan. Sesungguhnya aku mendengar dalam hingar kerinduan.

IT'S JUST A COFFEE SHOP Chp. 3

I stare at the mirror taped to my bedroom door. Fairy lights on. Bed unmade. Hoodie Elian would wear white. Safe. Invisible. But tonight is ...