Aku bergegas pulang,
mencuci rambut, mengenakan baju merah dan mencari celana hitam namun tidak berhasil menemukannya di mana pun. Sialan! Di mana aku meletakannya? Tak ada waktu lagi aku
memutuskan untuk mengenakan rok hitam. Tersenyum pada diriku sendiri saat berdiri
di depan cermin, stoking hitam dan sedikit make-up.
Melirik jam, baru sadar sudah jam 18:45. Seharusnya sudah berangkat. Aku memutuskan untuk berjalan ke bar karena cukup dekat,
hanya beberapa blok dari tempat tinggalku. Aku mungkin akan memesan minum untuk membuatku
sedikit lebih santai dan menunggu Ris.
Sesampainya di bar tepat pukul 07:00, aku disambut Sue di depan counter. Aku memesan
anggur putih, melirik sekeliling, satu kelompok orang di sebelah bawah
bar, beberapa orang di salah satu stand dan beberapa anak perempuan di sudut agak
gelap. Ada lagi
sekelompok perempuan di ruang sebelah kolam renang tapi mereka semua memakai pakaian
hitam atau t-shirt putih.
Duduk menunggu, senang bahwa Sue sedikit sibuk karena aku sedang tidak
ingin banyak bicara. Aku ingin mengamati pintu masuk, tanpa terlihat terlalu
jelas, jadi aku duduk di samping meja, melirik pintu setiap kali terbuka.
Sedikit ramai dengan aliran orang yang datang. Sebagian besar pendatang baru, laki-laki
dan aku lega melihat bahwa beberapa bilik masih kosong. Akhirnya pintu terbuka
dan aku melihat kemeja ungu dan jeans biru, seorang perempuan berjalan masuk. Aku
tidak dapat menahan hatiku sedikit terenyah melihat tampilan maskulinnya, tinggi, rambut
pendek, tato terlihat di lengan atasnya dan aku melihat lurus ke arah wajahnya.
“Kenapa
kau tidak membiarkan dia memberitahu bagaimana rupanya? " aku memarahi
diriku sendiri, terlambat.
Aku tersenyum menyambutnya dan matanya berbinar saat ia melenggang ke arahku. "Well, dia terlihat cukup senang." Pikirku dengan cara yang sedikit tidak
puas.
"Hai. Aku sudah menunggumu," Aku berusaha menjaga senyuman senormal mungkin. "Kamu
ingin minum apa?" Dia sedikit terkejut, sebelum dia duduk di kursi
sebelahku.
"Bisa VB, terima kasih, sayang." Katanya kepada Sue yang tau-tau
sudah ada di depan kami. Aku terkejut, aku pikir Ris menyukai anggur. Sebelum aku
bisa berkomentar, pintu terbuka dan aku melirik ke samping, rasannya menjadi kebiasaan.
Aku terkejut melihat Pat masuk dan berdiri persis di pintu. Cahaya remang-remang
tapi aku mengenalinya, kemeja hijau itu warna ideal untuk rambutnya.
Aku sadar dia tidak bisa melihat wajahku karena cahaya dari bar di belakang
kepala ku. Tapi dia melihat Ris dan aku dari atas ke bawah, dan sedikit lebih
lama mengamati rok mini yang aku kenakan.
“Aha! She’s a leg person.” Pikirku sambil
tersenyum.
Matanya beralih dari kami,
saat ia melihat sekeliling. “Ada
janji dengan seseorang." aku menduga dan tiba-tiba merasa cemburu dengan
wanita yang sedang dia cari.
Aku berbalik kembali ke Ris dan berharap bahwa aku hanya sedang berimajinasi
melihat lirik an penuh harapan di
wajahnya.
"Jadi. Kamu sedang Menungguku sayang?" dia berkata dengan lirik yang
pasti dan aku menghela napas lega, mengetahui sekarang bahwa ini bukan Ris. Aku
tahu bahwa telepon dapat menyamarkan suara, tapi suara dan terutama kata-kata
yang biasa digunakan terlalu berbeda dari Ris.
"Aku pikir, aku harus meminta maaf." aku memulai sopan "Aku
benar-benar hendak bertemu dengan seseorang untuk pertama kalinya malam ini dan
ia mengenakan atasan ungu. Jelas aku telah melakukan kesalahan."
"Kenapa! Siapa nama dia?" Bertanya dengan nada sedikit agresif.
"Kenapa? Siapa nama kamu?" Aku bertanya. Dia
ragu-ragu tetapi sadar dia tidak memiliki harapan menyebutkan nama yang benar, jadi dia bilang namanya Ricky.
"Well, it was nice to meet you Ricky, tapi aku lebih baik terus mencarinya
sekarang." Aku berbalik dan bejalan sampai samping pintu. Aku tahu
Ricky sedikit enggan pergi, tetapi setelah ragu-ragu sedikit, dia melangkah pergi
ke ruang biliar. Aku mendesah lega sekali lagi tapi aku juga merasa ketakutan,
karena aku bertanya-tanya apakah Ris nyata.
Posisiku sekarang memberiku keleluasaan melihat tempat Pat yang berada lebih
bawah dari bar dan Aku melihatnya mengangkat gelas dan menyesap minumannya. Dia
sedikit menegang seolah-olah sadar sedang diawasi. Dia menoleh, tajam dan aku melihat
ekspresi terkejut di wajahnya karena dia sadar siapa aku. Aku melihat
kesenangan diganti kejutan dan dia tersenyum dan mengangguk. Aku melihat
sekilas di sekitar bar dan melirik pintu, membenarkan dugaanku bahwa dia menunggu
seorang teman atau lebih mungkin, kekasih. Aku tidak merasakan kepuasan
mengetahui aku sudah benar dalam anggapan terakhirku bahwa dia gay. Aku hanya
merasa sedikit penyesalan kesempatan yang hilang.
Sue menuangkan minuman untuk ku lagi dan kami mengobrol sebentar, basa basi
sedikit untuk menghilangkan rasa frustrasi dan kekecewaanku setiap kali melihat pintu dibuka. Aku
melihat Pat masih duduk sendiri dan sering melirik pintu masuk. Kencannya juga belum
tiba.
Aku harus pergi ke kamar mandi, jadi aku meminta Sue untuk melihat siapa saja
yang memasuki bar dengan mengenakan atasan ungu. Aku mencuci tanganku ketika Pat
berjalan masuk.
"Kencannya tidak juga muncul?" aku membuka percakapan.
"Tidak." jawabnya, ada nada khawatir dalam suaranya "Aku tahu dia dengan cukup baik dan aku tahu dia
tidak mungkin tidak muncul." Aku merasakan ada rasa nyeri pada saat dia
berbicara tentang pasangan yang jelas dicintainya. Aku mencoba untuk menutupinya dengan mengatakan bahwa aku juga khawatir tentang penampilan non-kencanku.
Aku kembali ke bar dan menerima gelengan kepala dari Sue. Ketika Pat kembali,
dia mengambil gelas dan minta untuk bergabung dengan ku
"Kita mungkin bisa ngobrol
sementara kita menunggu," dan, setelah menerima senyum dan anggukan, dia menarik
kursi dan duduk di atasnya, sedikit menyenggol lututku saat melakukannya. Hampir
seperti sengatan listrik, aku bertanya-tanya bagaimana dia bisa tidak
memperhatikannya tapi, ketika aku melihat wajahnya memerah, aku tau dia
menyadarinya. Mataku terus melayang pada rambut merahnya saat kita berbicara
tentang hal-hal tidak penting. Kadang-kadang mempertahankan kontak mata untuk
sepersekian detik lebih lama dari seharusnya.
Kami berdua berhenti melihat setiap kali pintu masuk terbuka dan aku berbicara
tentang politik dalam gerakan perempuan ketika aku berhenti, benar-benar lupa
apa yang barusaja aku bicarakan. Aku merasa tenggelam dalam matanya dan bibirku
terbuka sedikit untuk mengakomodasi pernapasan ku lebih cepat. Dia tampaknya
tidak menyadari aku akan berhenti bicara - bahkan ketika matanya turun melihat mulutku.
Aku merasa diriku tertarik ke arahnya, kebutuhan dalam diriku yang luar biasa.
Bibirnya hangat seperti hembusan napas saat
menyentuh bibirku. Lembut, bukan tanpa
perasaan tetapi, pada saat ini, tanpa gairah. Singkat, eksplorasi kiss -
selesai hampir sebelum mulai, tetapi aku merasa jejak bibirnya terbakar
sendiri, mengelitik.
"Bisakah kita pergi ke suatu tempat yang lebih
tenang?" Pat bergumam, "Aku tidak familiar dengan daerah ini."
"Kita
bisa pergi ke rumahku, cukup dekat dari sini." undangku. Dia
terlihat terkejut
“Ya... Mobilku ada di luar, apa kita
memakai mobilku atau berjalan?” Hatiku berdebar dengan
kegembiraan saat aku menyarankan dia
untuk membawaku ke sana.
Aku mencari Sue untuk
mengucapkan selamat tinggal - tapi ia tidak ada. Kami berjalan keluar dan Pat membuka
pintu mobil untukku, kemudian duduk di
depan kemudi. Dia baru saja menyalakan mesin ketika Sue melaju sampai di
mobilnya dan parkir di sebelah mobil Pat. Dia melihatku,
"Off sekarang Vee?" Tanyanya. Pat
menatapku dengan heran.
"Apakah wanita
dengan atasan ungu akhirnya muncul?" aku melihat Sue melewati
Pat.
"Sayangnya tidak." Jawabku sambil menggelengkan
kepala.
"Sampai nanti Vee, Bye." Dengan senyum pada
kami
berdua. Dia berjalan kembali ke bar. Pat mematikan mesinnya dan aku menatapnya penuh
Tanya.
"Vee?" Tanyanya dengan nada berbeda.
"Ya?" Aku tidak sepenuhnya
mengerti dengan pertanyaannya.
"Apakah kamu memiliki
celana hitam?" Yang membuatku
semakin kebingungan
"Yaa... aku benar-benar harus memakainya malam ini tapi tidak bisa menemukan benda
sialan itu di mana-mana. Mengapa? " Tersenyum?
"Aku memiliki masalah yang sama, tetapi dalam kasusku ini bagian atasku
yang seharusnya aku kenakan malam ini, mmhh.. Yang berwarna ungu, sedikit kotor. "
Aku menatapnya dengan takjub, "Ris? Tetapi Sam memanggilmu Pat? "
"Ya, aku tahu. Sam
sahabat lamaku, itu adalah panggilanku waktu masih sekolah. Dan sekarang orang-orang lebih memilih
memanggilku Ris."
Kami saling
memandang tak mampu
bicara. Tanganku terangkat, ragu-ragu, turun lagi. Mulutnya terbuka untuk berbicara, lalu menutupnya lagi. Kami berpaling dan kemudian kembali lagi dan mata kami bertemu dan dua perasaan yang sama sekali berbeda; cinta untuk orang yang dikenal dan daya tarik terhadap orang tak dikenal, menyatu dan menjadi satu. Aku mengangkat
tangan sekali lagi dan, kali ini, aku membelai pipinya.
"Ris," aku memulai - secara naluriah memanggilnya dengan nama itu, "Aku mencintaimu, dengan sepenuh hati. Apakah kamu
mau mengantarku pulang sehingga
kita dapat lebih mengenal satu sama lain? "
"Ya..." Dia tersenyum nakal, "Sepanjang akhir pekan sudah cukup sebagai
awal
kan? Aku harap kamu
memiliki banyak makanan di rumah,
karna aku tidak mau harus keluar dan... "
Tamat