For Colored Girls

Gara-gara gak bisa tidur, akhirnya saya semalaman hanya duduk di depan tv dan mengganti-ganti channel memilih film untuk ditonton. Apa yang harus saya tonton? Film thriller, horror, drama, atau mungkin discovery chanel dan sebangsannya? Atau sesuatu yang ringan dan bisa membuat saya tertawa. Komedi drama misalnya. Dan saya akhirnya memilih film drama yang bercerita tentang wanita kulit hitam. 

For Colored Girls menjadi pilihan saya. Saya tertinggal beberapa menit di awal film, tetapi masih bisa mengikuti alur cerita. Sebuah drama karya Tyler Perry yang diangkat dari naskah panggung Ntozake Shange yang berjudul “For Colored Girls Who Have Considered to Suicide When The Rainbow Is enuff” di tahun 75. 

Di Jamannya drama ini begitu sukses dan memberikan penulisnya 2 Toni Award. Terus terang awalnya saya tidak begitu antusias menontonya, sesekali saya ganti chanel mencari film yang lain. tetapi salah satu hal yang membuat saya tertarik menonton film ini adalah deretan cast-nya. Seperti Thandie Newton , Loretta Devine , Kimberly Elise , Whoopi Goldberg , Janet Jackson , Phylicia Rashad , Anika Noni Rose , Kerry Washington , Tessa Thompson , Michael Ealy , Macy Gray dan Omari Hardwick. Namun setelah di diperhatikan dengan seksama, setiap dialog adalah puisi yang sangat menyentuh. 

Secara struktural, For Colored Girls merupakan rangkaian 20 puisi, yang secara kolektif disebut "choreopoem." Shange's poetry mengungkapkan banyak perjuangan dan rintangan yang perempuan Afrika-Amerika hadapi sepanjang hidup mereka. Dengan satu latar belakang tempat yang sederhana, sebuah apartemen. Seorang wanita single yang bijak, seorang wanita dengan “abusive relationship” dan wanita lainnya mencari cinta melalui sex dengan banyak pria. Sementara ada yang begitu relijiusnya dibalik semua masa lalu yang kelam, dengan anak yang hamil diluar nikah. Wanita karir dengan suami yang ternyata gay, pekerja sosial, korban perkosaan berkumpul menjadi satu. Beragam cerita dimana kemudian mampu mengumpulkan banyak karakter dengan plot yang berbeda menjadi satu kesatuan utuh pada akhirnya.

Kepiawaian setiap pemeran For Colored Girls seakan membuat saya masuk dan bisa merasakan luapan emosi setiap karakter pemainnya. Untuk saya film-film seperti ini selalu menarik. Karena dibalik cerita tentang hidup yang terlihat pahit dan suram tersimpan sebuah semangat yang mampu membangkitkan.

Stranger III

Aku bergegas pulang, mencuci rambut, mengenakan baju merah dan mencari celana hitam namun tidak berhasil menemukannya di mana pun. Sialan! Di mana aku meletakannya? Tak ada waktu lagi aku memutuskan untuk mengenakan rok hitam. Tersenyum pada diriku sendiri saat berdiri di depan cermin, stoking hitam dan sedikit make-up.

Melirik jam, baru sadar sudah jam 18:45. Seharusnya sudah berangkat. Aku memutuskan untuk berjalan ke bar karena cukup dekat, hanya beberapa blok dari tempat tinggalku. Aku mungkin akan memesan minum untuk membuatku sedikit lebih santai dan menunggu Ris.

Sesampainya di bar tepat pukul 07:00, aku disambut Sue di depan counter. Aku memesan anggur putih, melirik sekeliling, satu kelompok orang di sebelah bawah bar, beberapa orang di salah satu stand dan beberapa anak perempuan di sudut agak gelap. Ada lagi sekelompok perempuan di ruang sebelah kolam renang tapi mereka semua memakai pakaian hitam atau t-shirt putih.

Duduk menunggu, senang bahwa Sue sedikit sibuk karena aku sedang tidak ingin banyak bicara. Aku ingin mengamati pintu masuk, tanpa terlihat terlalu jelas, jadi aku duduk di samping meja, melirik pintu setiap kali terbuka.

Sedikit ramai dengan aliran orang yang datang. Sebagian besar pendatang baru, laki-laki dan aku lega melihat bahwa beberapa bilik masih kosong. Akhirnya pintu terbuka dan aku melihat kemeja ungu dan jeans biru, seorang perempuan berjalan masuk. Aku tidak dapat menahan hatiku sedikit terenyah  melihat tampilan maskulinnya, tinggi, rambut pendek, tato terlihat di lengan atasnya dan aku melihat lurus ke arah wajahnya. 

“Kenapa kau tidak membiarkan dia memberitahu bagaimana rupanya? " aku memarahi diriku sendiri, terlambat.

Aku tersenyum menyambutnya dan matanya berbinar saat ia melenggang ke arahku. "Well, dia terlihat cukup senang." Pikirku dengan cara yang sedikit tidak puas.

"Hai. Aku sudah menunggumu," Aku berusaha menjaga senyuman senormal mungkin. "Kamu ingin minum apa?" Dia sedikit terkejut, sebelum dia duduk di kursi sebelahku.

"Bisa VB, terima kasih, sayang." Katanya kepada Sue yang tau-tau sudah ada di depan kami. Aku terkejut, aku pikir Ris menyukai anggur. Sebelum aku bisa berkomentar, pintu terbuka dan aku melirik ke samping, rasannya menjadi kebiasaan. Aku terkejut melihat Pat masuk dan berdiri persis di pintu. Cahaya remang-remang tapi aku mengenalinya, kemeja hijau itu warna ideal untuk rambutnya.

Aku sadar dia tidak bisa melihat wajahku karena cahaya dari bar di belakang kepala ku. Tapi dia melihat Ris dan aku dari atas ke bawah, dan sedikit lebih lama mengamati rok mini yang aku kenakan.

 “Aha! She’s a leg person.” Pikirku sambil tersenyum.

Matanya beralih dari kami, saat ia melihat sekeliling. “Ada janji dengan seseorang." aku menduga dan tiba-tiba merasa cemburu dengan wanita yang sedang dia cari.

Aku berbalik kembali ke Ris dan berharap bahwa aku hanya sedang berimajinasi melihat  lirik an penuh harapan di wajahnya.

"Jadi. Kamu sedang Menungguku sayang?" dia berkata dengan lirik yang pasti dan aku menghela napas lega, mengetahui sekarang bahwa ini bukan Ris. Aku tahu bahwa telepon dapat menyamarkan suara, tapi suara dan terutama kata-kata yang biasa digunakan terlalu berbeda dari Ris.

"Aku pikir, aku harus meminta maaf." aku memulai sopan "Aku benar-benar hendak bertemu dengan seseorang untuk pertama kalinya malam ini dan ia mengenakan atasan ungu. Jelas aku telah melakukan kesalahan."

"Kenapa! Siapa nama dia?" Bertanya dengan nada sedikit agresif.
 
"Kenapa? Siapa nama kamu?" Aku bertanya. Dia ragu-ragu tetapi sadar dia tidak memiliki harapan menyebutkan nama yang benar, jadi dia bilang namanya Ricky.

"Well, it was nice to meet you Ricky, tapi aku lebih baik terus mencarinya sekarang." Aku berbalik dan bejalan sampai samping pintu. Aku tahu Ricky sedikit enggan pergi, tetapi setelah ragu-ragu sedikit, dia melangkah pergi ke ruang biliar. Aku mendesah lega sekali lagi tapi aku juga merasa ketakutan, karena aku bertanya-tanya apakah Ris nyata.

Posisiku sekarang memberiku keleluasaan melihat tempat Pat yang berada lebih bawah dari bar dan Aku melihatnya mengangkat gelas dan menyesap minumannya. Dia sedikit menegang seolah-olah sadar sedang diawasi. Dia menoleh, tajam dan aku melihat ekspresi terkejut di wajahnya karena dia sadar siapa aku. Aku melihat kesenangan diganti kejutan dan dia tersenyum dan mengangguk. Aku melihat sekilas di sekitar bar dan melirik pintu, membenarkan dugaanku bahwa dia menunggu seorang teman atau lebih mungkin, kekasih. Aku tidak merasakan kepuasan mengetahui aku sudah benar dalam anggapan terakhirku bahwa dia gay. Aku hanya merasa sedikit penyesalan kesempatan yang hilang.

Sue menuangkan minuman untuk ku lagi dan kami mengobrol sebentar, basa basi sedikit  untuk menghilangkan rasa frustrasi dan kekecewaanku setiap kali melihat pintu dibuka. Aku melihat Pat masih duduk sendiri dan sering melirik pintu masuk. Kencannya juga belum tiba.

Aku harus pergi ke kamar mandi, jadi aku meminta Sue untuk melihat siapa saja yang memasuki bar dengan mengenakan atasan ungu. Aku mencuci tanganku ketika Pat berjalan masuk.

"Kencannya tidak juga muncul?" aku membuka percakapan.

"Tidak." jawabnya, ada nada khawatir dalam suaranya "Aku tahu dia dengan cukup baik dan aku tahu dia tidak mungkin tidak muncul." Aku merasakan ada rasa nyeri pada saat dia berbicara tentang pasangan yang jelas dicintainya. Aku mencoba untuk menutupinya dengan mengatakan bahwa aku juga khawatir tentang penampilan non-kencanku.

Aku kembali ke bar dan menerima gelengan kepala dari Sue. Ketika Pat kembali, dia mengambil gelas dan minta untuk bergabung dengan ku

"Kita mungkin bisa  ngobrol sementara kita menunggu," dan, setelah menerima senyum dan anggukan, dia menarik kursi dan duduk di atasnya, sedikit menyenggol lututku saat melakukannya. Hampir seperti sengatan listrik, aku bertanya-tanya bagaimana dia bisa tidak memperhatikannya tapi, ketika aku melihat wajahnya memerah, aku tau dia menyadarinya. Mataku terus melayang pada rambut merahnya saat kita berbicara tentang hal-hal tidak penting. Kadang-kadang mempertahankan kontak mata untuk sepersekian detik lebih lama dari seharusnya.

Kami berdua berhenti melihat setiap kali pintu masuk terbuka dan aku berbicara tentang politik dalam gerakan perempuan ketika aku berhenti, benar-benar lupa apa yang barusaja aku bicarakan. Aku merasa tenggelam dalam matanya dan bibirku terbuka sedikit untuk mengakomodasi pernapasan ku lebih cepat. Dia tampaknya tidak menyadari aku akan berhenti bicara - bahkan ketika matanya turun melihat mulutku. Aku merasa diriku tertarik ke arahnya, kebutuhan dalam diriku yang luar biasa.

Bibirnya hangat seperti hembusan napas saat menyentuh bibirku. Lembut, bukan tanpa perasaan tetapi, pada saat ini, tanpa gairah. Singkat, eksplorasi kiss - selesai hampir sebelum mulai, tetapi aku merasa jejak bibirnya terbakar sendiri, mengelitik.
 
"Bisakah kita pergi ke suatu tempat yang lebih tenang?" Pat bergumam, "Aku tidak familiar dengan daerah ini."

"
Kita bisa pergi ke rumahku, cukup dekat dari sini." undangku. Dia terlihat terkejut 

“Ya... Mobilku ada di luar, apa kita memakai mobilku atau berjalan?” Hatiku berdebar dengan kegembiraan saat aku menyarankan dia untuk membawaku ke sana.

Aku mencari Sue untuk mengucapkan selamat tinggal - tapi ia tidak ada. Kami berjalan keluar dan Pat membuka pintu mobil untukku, kemudian duduk di depan kemudi. Dia baru saja menyalakan mesin ketika Sue melaju sampai di mobilnya dan parkir di sebelah mobil Pat. Dia melihatku,
 
"Off sekarang
Vee?" Tanyanya. Pat menatapku dengan heran. 

"Apakah wanita dengan atasan ungu akhirnya muncul?" aku melihat Sue melewati Pat. 

"Sayangnya tidak." Jawabku sambil menggelengkan kepala. 

"Sampai nanti Vee, Bye." Dengan senyum pada kami berdua. Dia berjalan kembali ke bar. Pat mematikan mesinnya dan aku menatapnya penuh Tanya.

"Vee?" Tanyanya dengan nada berbeda.

"Ya?" Aku tidak
sepenuhnya mengerti dengan pertanyaannya.

"Apakah
kamu memiliki celana hitam?" Yang membuatku semakin kebingungan
 
"Yaa... aku benar-benar harus memakainya malam ini tapi tidak bisa menemukan benda sialan itu di mana-mana. Mengapa? " Tersenyum? 
 
"
Aku memiliki masalah yang sama, tetapi dalam kasusku ini bagian atasku yang seharusnya aku kenakan malam ini, mmhh.. Yang berwarna ungu, sedikit kotor. "
 
Aku menatapnya dengan takjub, "
Ris? Tetapi Sam memanggilmu Pat
? "
 
"Ya, aku tahu.
Sam sahabat lamaku, itu adalah panggilanku waktu masih sekolah.  Dan sekarang orang-orang lebih memilih memanggilku Ris."

Kami saling memandang
tak mampu bicara. Tanganku terangkat, ragu-ragu, turun lagi. Mulutnya terbuka untuk berbicara, lalu menutupnya lagi. Kami berpaling dan kemudian kembali lagi dan mata kami bertemu dan dua perasaan yang sama sekali berbeda; cinta untuk orang yang dikenal dan daya tarik terhadap orang tak dikenal, menyatu dan menjadi satu. Aku mengangkat tangan sekali lagi dan, kali ini, aku membelai pipinya.
 
"
Ris," aku memulai - secara naluriah memanggilnya dengan nama itu,  "Aku mencintaimu, dengan sepenuh hati. Apakah kamu mau mengantarku pulang sehingga kita dapat lebih mengenal satu sama lain? "
 
"Ya..." Dia tersenyum nakal, "Sepanjang akhir pekan sudah cukup
sebagai awal kan? Aku harap kamu memiliki banyak makanan di rumah, karna aku tidak mau harus keluar dan... "




Tamat

Stranger II

Aku mencoba menghubungi Ris sore hari, sayangnya hanya mesin penjawab yang menerima panggilanku. 

"Hai, Sayang," sapaku "Hanya ingin berbicara, aku merasa ingin mendengar suaramu! Tidak perlu membalas telponku, aku akan menelepon lagi malam ini seperti biasanya. Oh dan Sayang... Aku pikir kita harus bertemu sesegera mungkin." Aku tidak merencanakan mengatakannya, tapi, setelah mengatakannya, aku senang. Mari kita selesai dengan cepat, merasakan sentuhan, bahkan bercinta. Mungkin dengan begitu aku bisa mengeluarkan wajah Pat dari pikiranku.

 Aku bermimpi malam itu tidur dalam pelukan Pat. Memandang wajahnya, melihat bibirnya mendekat saat ia menundukkan kepala perlahan-lahan menyentuh bibirku. Saat bibir kita bersentuhan, aku terbangun dengan perasaan kosong, kehilangan . Menyadari itu hanya mimpi.

Aku berbaring di tempat tidur menunggu debaran dadaku kembali normal. Apa yang terbaik untukku? Bertemu Ris dan belajar mencintai wajah dan tubuhnya, tahu bahwa aku sudah mencintai apa yang ada di dalam dirinya, kepribadian, sifat, karakter? Atau mencoba melihat apakah aku bisa mengenal Pat lebih dalam, mengetahui bahwa aku sudah sangat tertarik dengan tampilan luarnya. Dilema, bahkan logikaku mengatakan untuk tidak melakukannya. "Pergilah ke arah yang menurut Anda benar -. Pergilah pada orang yang benar-benar sudah jelas menyayangimu dan membuatmu merasa nyaman." sementara di sisi lain, suara lain mendesakku "Pergilah dengan nalurimu, berani untuk mencari tau lebih jauh tentang dia, berani mengetahui apakah kamu bisa mencintainya. "

Aku bertanya-tanya apakah terlalu dini untuk menghubungi Ris. Apakah dia mengerti keinginanku mendengar suaranya, tanpa aku harus menjelaskan? Aku tahu dia akan mengerti. Aku mengenalnya dengan baik - namun... Di telepon malam sebelumnya dia terlihat sedikit enggan dengan rencana pertemuan kami, dengan alasan jadwal yang sibuk untuk tiga atau empat malam berikutnya. 

Semalam dia menceritakan seorang teman yang mengira dirinya telah jatuh cinta dengan orang asing hanya setelah melihatnya beberapa kali. 

"Apakah menurutmu ada yang namanya cinta pada pandangan pertama, kedua atau ketiga?" Dia bertanya, pertanyaan yang telak menohok ke ulu hati. Aku akan mencoba menjawab jujur.

"Aku tidak tahu tentang cinta tapi aku yakin akan dapat merasakan daya tarik yang kuat - daya tarik terhadap seseorang. Mungkin itu 'nafsu pada pandangan pertama! " lelucon terakhir tidak membuatnya tertawa seperti yang aku harapkan, dia hanya diam. 

"Ya, kurasa kau benar." Dia mengakui dengan enggan. "Ya. dia harus mengenal orang itu lebih dulu, bukan " Dia sepertinya lebih yakin dengan saran yang akan dia berikan kepada temannya. 
Aku memutuskan untuk tidak meneleponnya. Aku akan memberinya waktu sendiri. Pada jam 1 siang, aku membuat keputusan. Aku akan pergi satu kali lagi dan kemudian, begitu aku bertemu Ris, aku tidak akan mencari perempuan itu lagi. Keputusan itu membuatku bersemangat, aku berjalan cepat ke arah mobil untuk menemuinnya. 

Dia tidak ada di sana ketika aku tiba, tapi tak apa aku datang sedikit terlalu cepat. Aku memesan dan mulai makan siang, tidak mencicipinya hanya merencanakan tindakanku selanjutnya. Aku akan menyapannya dan mengundang dia untuk duduk di mejaku. Mungkin aku akan mencari cara untuk ngobrol tanpa memperlihatkan ketertarikanku padanya. Menit demi menit berlalu dengan cepat saat aku membuat rencanaku, ketika aku melihat jam, sudah setelah 14:00. Dia tidak pernah seterlambat ini sebelumnya. 

Aku memesan kopi lagi, setengah meyakinkan diriku sendiri bahwa aku benar-benar menginginkannya. Aku bertekad untuk tidak duduk menunggu dan berharap tapi aku tidak juga beranjak pergi sampai hampir 2:30. "Well, itu saja. Aku tidak akan kembali. Aku akan melupakannya." akhirnya aku menyerah. 

Rasannya aku tidak ingin kembali ke kantor, jadi aku berjalan-jalan untuk sementara waktu, melihat toko-toko. Sedikit terkejut ketika aku bertabrakan dengan seseorang yang bergegas keluar melalui pintu. Seorang wanita, tetapi harus mengangkat kepalaku untuk melihat wajahnya dan, ketika aku melakukannya, aku sedikit mundur karena aku mendapati diriku sedang melihat wajah Pat. Dia dengan cepat meraih tanganku, mencengkeramnya mencegahku jatuh. 

"Maaf, tadi tidak melihat..." tergagap aku meminta maaf.

"Tidak, itu kesalahanku. Aku tergesa-gesa keluar dari cafe "sekilas aku melihat papan nama di belakangnya saat aku menyadari bahwa itu memang sebuah cafe. Aku merasa alisku mengangkat kaget dan ia membaca pikiranku. Mukannya sedikit memerah. 

"Ya, aku mencoba tempat baru sampai aku menyadari aku lebih memilih berada di cafe Octavia, jadi aku bergegas ke sana." Dia menjelaskan panjang lebar, seolah-olah dia benar-benar ingin membuatku mengerti. Aku bertanya-tanya apakah ia bergegas untuk melihatku tapi kemudian aku tiba-tiba berpikir dia telah menghindari cafe agar tidak melihatku, tetapi mengapa? Dan mengapa ia tampaknya berubah pikiran? 

Aku menyadari bahwa aku sedang menatap ke matanya. Ibu jarinya mulai mengusap lembut di bagian dalam pergelangan tanganku. 

"Apakah kamu baru saja dari café oktavia?" Tanyanya dengan suara yang lebih akrab dan menarik bagiku. Aku mengangguk, tak sanggup bicara karena aku bisa merasakan denyut nadiku di bawah sentuhan ibu jarinya. 

"Apakah kamu ada waktu untuk minum kopi lagi?" Tanya dia dan aku seakan teringat kilas balik secara tiba-tiba Ris pernah bertanya bercanda melalui telepon menawariku secangkir kopi yang dia buat. Rasa bersalah memukulku dengan keras dan aku melepaskan tanganku. 

"Tidak, maaf. aku harus buru-buru, "suaraku cepat, "Aku minta maaf lagi karna menabrak kamu. Oh, by the way aku mungkin tidak bisa mampir ke café lagi. Senang bertemu dengan kamu " menunduk menghindar dari kekecewaan di matanya. Aku mengambil beberapa langkah ke belakang kemudian menoleh ke belakang. Berbaur dengan kebingungan di wajahnya, aku melihat ada perasaan sedikit lega. Dan entah kenapa aku merasa terluka karenannya. 

 "Bye, Veonna" ujarnya lembut, membawa setengah kenangan; sesuatu yang akrab tapi kurang tepat. Perasaan itu memudar secepat aku berikan satu senyum singkat dan berjalan menuju mobilku. 

“Well, itu saja ... Tidak lebih Pat." Aku berusaha menemukan perasaan damai dalam pikiran, tetapi itu benar-benar tidak membantu. Kataku dalam hati sekali lagi bahwa good looks dan superficial attraction tidaklah cukup. Aku teringat Ris, aku tahu aku mencintainya dan tiba-tiba merasa sangat ingin melihatnya. Aku menyibukan diri dengan pekerjaan dan selesai dalam waktu singkat. Pada 05:00 aku menelpon Ris dan mengatakan bahwa aku ingin bertemu dengannya malam ini jika memungkinkan. Dia sedikit terkejut namun kemudian berbicara tegas. 

"Ya, sudah waktunya - ok terlambat sebenarnya." katannya.

Kami merencanakan untuk bertemu di sebuah gay bar kecil di dekat rumahku. Tempat yang cukup nyaman, ramah tetapi memiliki stand privasi. Aku mengatur pertemuan di bar sekitar pukul 07:30 dan aku bilang aku akan mengenakan kemeja merah dipadu celana hitam. 

"Baiklah. Aku akan mengenakan atasan ungu. Aku harap bajunya bersih! Aku mungkin akan mengenakan jeans hitam. Rambutku ..... " 

"Tidak! Jangan bilang apa-apa, Ris. "Selaku" Aku akan melihatmu segera. "

"Aku akan menemuimu malam ini. God… semua ini terdengar sangat aneh! Bye Vee." Suaranya lembut dan penuh janji dan hatiku berdebar cepat, 

"Oh God, aku harap dia menyukaiku, dan begitu pun aku.” Doaku setelah menutup telepon. 



Berasambung... ke Stranger III

Stranger I

"Jadi. Kapan kita ketemu, Vee? " Tanyanya lagi. Aku ragu, masih enggan memutuskan kapan waktu yang tepat untuk bertemu dengannya. Aku tidak sepenuhnya bisa menjelaskan alasan kenapa aku masih ingin membatasi semua komunikasi kami hanya sebatas sms, chat, atau telepon, bahkan setelah sekian lama. 

"Aku sibuk, Ris. Pekerjaanku akhir-akhir ini agak sedikit banyak. Aku tahu kamu sama sibuknya seperti aku minggu ini, dan aku ingin kita benar-benar memiliki banyak waktu nanti. Kamu tidak mau kita diburu-buru waktu kan? " Bujukku. Aku tahu bahwa Ris tidak senang dengan jawaban ini, tetapi, seperti biasa, ia selalu menerimanya dengan cukup baik.

"Baiklah, bila kamu siap aku yakin waktunya memang tepat. Anyway… Aku harus buru-buru sekarang sayang. Aku ada pertemuan pukul sepuluh. Call you tonight.” 

Aku tahu aku tidak sepenuhnya adil. Dia sudah kembali tinggal di Perth selama lebih dari sebulan dan kita sudah saling berkomunikasi secara intens selama beberapa bulan sebelumnya, namun aku masih saja menghindari untuk bertemu. Kami semakin dekat melalui surat-surat, dan percakapan di telepon tetapi jika kami bertemu di jalan kami tidak akan saling menyadarinya, she’d be a perfect stranger! 

Sore yang tenang di tempat kerja, aku membiarkan diriku memikirkan masa lalu - kenangan tentang Jill. “What a beautiful couple” semua orang akan mengatakan begitu. Satu tahun setelah coming out, aku bertemu Jill dan aku baru saja mengakhiri sebuah hubungan yang tidak menyenangkan. Jill adalah seorang pesolek, dia selalu mencoba mengatur semua yang akan kita kenakan. Rambutku pirang sementara miliknya hitam, kita sama tinggi. Aku dengan postur tubuh ramping, sementara dia lebih bulat dan penuh. Jill tidak pernah benar-benar tertarik padaku, aku hanya sebagai aksesoris baginya. Aku hanya berfungsi untuk menunjang penampilan dan image-nya; dua aspek yang sangat penting dalam hidupnya. Bahkan setelah lebih dari setahun bersama, aku tidak benar-benar banyak tau tentangnya. 

Mungkin itu juga alasan mengapa aku pikir sikapku terhadap Ris benar. Aku ingin kita saling mengenal satu sama lain sebelum kami bertemu. Aku tidak ingin penampilan luarku mempengaruhinya. Aku ingin dia mengenal 'Aku' di luar bingkai fisik. Dan sebaliknya aku benar-benar tidak ingin tahu bagaimana rupanya. Sebatas penampilan secara umum dan saat dia menceritakan lebih rinci aku menghentikannya. Dia setuju, karena waktu itu mendekati waktu pertemuan pertama kami - dan sekarang aku takut! 

Awalnnya Ris tidak menyadari seksualitasnya, kami hanya berkenalan seperti biasa lewat dunia maya. Jejaring sosial, telah memungkinkan banyak orang untuk saling berkenalan, bahkan dengan orang-orang yang berada sangat jauh di belahan bumi lain. Sampai satu malam Ris mengejutkanku dengan sebuah telpon dan sejak itu kami saling menelepon secara teratur. Kita sudah sangat terbuka, memberikan banyak rincian harapan, mimpi dan bahkan fantasi. Berbicara, mendengarkan dan belajar satu sama lain. Merasa telah cukup lama saling kenal, dan sekarang kami sudah tinggal di kota yang sama selama lebih dari sebulan meski belum benar-benar bertatap muka. 

Tapi aku masih merasa khawatir, setelah kami bertemu, hubungan ini akan berubah dalam beberapa hal. Aku tahu penampilan bukanlah yang utama, tetapi bagaimana dengan daya tarik fisik? Ketika aku mempertimbangkan hal-hal apa yang membuat aku tertarik secara fisik, aku mencoret-coret kertas kosong dan tanpa sadar aku telah menulis 'Café Octavia'. 

Pikiranku melayang kembali ke minggu sebelumnya, kunjungan pertamaku ke Café Octavia dan wanita yang kulihat di sana. Cukup cantik tetapi juga mencolok. Ya, 'mencolok' adalah kata yang tepat untuknya. Apa yang pertama kali tertangkap mataku adalah rambutnya. Lebat cokelat kemerahan. Sedikit poni berantakan jatuh di wajahnya, dia punya kebiasaan sembarangan merapikannya setiap beberapa menit. Sendirian, terpisah beberapa meja dari tempatku duduk, sesekali meneguk cangkir kopinya yang hampir kosong sementara mata-nya tetap konsentrasi pada kertas yang sedang dia baca. Aku terus mengamatinya. Sesuatu tentangnya membuatku tertarik, kepalanya yang miring, jari-jari yang terus menerus menyeka rambutnya. Dia mendongak sekali dan mendapati mataku yang melihatnya. Dia tersenyum sekilas sebelum matannya kembali membaca kertas yang dia pegang. 

Aku melihat mata hazel - tidak hijau tapi tidak coklat. Mata itu cukup lama melekat dalam ingatanku, sebagai fitur yang paling menarik. Aku terus mengingatkan diri sendiri bahwa banyak hal yang lebih penting dari sekedar keebihan fisik, namun harus ku akui selalu ada daya tarik tertentu dari eksterior wanita ini, kemasan wanita ini, terutama ketika ia berdiri saat pergi dan aku menyadari bahwa dia secara fisik cukup menarik. 

Aku ingat kali ke dua aku datang ke cafe. Saat itu dua hari setelah kunjungan pertama ku dan aku terus menerus meyakinkan diriku sendiri bahwa aku kembali karena makanan di situ begitu enak. Pada kesempatan kedua aku perjalanan keluar, ketika dia berjalan melewati pintu. Kali ini kami berdua tersenyum dan perhatianku telah tertarik pada, deretan gigi kecil putih yang berkilauan di antara bibirnya. Aku kecewa bahwa aku tidak punya alasan, atau waktu lebih untuk tinggal dan melihat dia lebih lama.

Masih duduk di ruanganku, berharap bisa mengeluarkan perempuan ini dari pikiranku dan hanya berkonsentrasi pada Ris. Sebelum aku menelepon Ris malam  ini, aku mempertimbangkan apakah perlu menceritakan tentang wanita itu atau tidak. Saat kami berbicara lewat telepon, aku mengatakan agak sedikit merasa takut untuk bertemu, merasa belum sepenuhnya yakin. Aku bertanya apakah dia merasakan hal yang sama. 

"Tidak, Aku tidak khawatir tentang pertemuan kita Vee Aku malah merasa bersemangat. Penasaran dan bersemangat. Aku tahu perasaanku dan tidak akan berubah ketika aku melihatmu nanti." nada hangat nya membuat tenggorokanku sedikit tersedak, sebelum aku tertawa dan bertanya apakah aku sudah memperingatkan dia tentang betapa jeleknya aku. 

Keesokan harinya tepat pukul 01.20 aku berada di jalan di dalam mobilku. Mempertimbangkan untuk melihat perempuan itu di sana lagi atau tidak. Aku tidak mengerti dorongan perasaan ini, aku bahkan merasa sedang berselingkuh dari Ris. Sementara pikiranku penuh dengan hal-hal tidak jelas ini, tanpa sadar aku sudah berada di luar Cafe Octavia! "Oh baiklah, mungkin mampir sebentar saja.” Pikirku.

Aku memasuki Cafe dan ada rasa kecewa saat aku melihat sekeliling. “Ah, mungkin lebih baik aku memesan makanan saja.” Pikirku. Aku memilih meja dengan posisi menghadap pintu. Pelayan muncul dengan pesananku ketika pintu terbuka dan dia berjalan masuk. Melihatku sekilas, tersenyum dan menyapa dengan sedikit canggung.

"Hai." Dia tampak ragu pada langkah nya - sebelum memilih meja kosong yang terletak agak jauh. Hatiku berdebar dan aku tidak yakin apakah itu perasaan lega atau kecewa karna dia memutuskan untuk tidak meminta duduk satu meja denganku.

Dia memesan makanan, sedikit bercanda dengan pelayan. Aku melirik saat melihat kepalanya mulai bergerak ke arahku. Berusaha tetap konsentrasi pada makan siangku, sedikit gugup saat dia terang-terangan mengamatiku. "Dia mungkin bertanya-tanya mengapa dia sering melihatku di sini atau bertanya-tanya mengapa aku tak pernah di temani siapapun."

Kami seperti bermain game, aku akan melihatnya sampai kepalanya mulai berbalik ke arahku. Kembali melihatnya, saat dia memalingkan muka. Dia selesai dengan makan siangnya, mengambil cangkir kopinya, memandang lurus ke arahku dan siap untuk berdiri. "Oh Tuhan! Dia datang! "Pikiranku panik. Di saat yang sama saat dia mendorong kursinya ke belakang, suara laki-laki mengagetkannya.

"Pat! Hai, keberatan jika saya bergabung denganmu " aku memandangnya dengan agak sedikit kecewa sementara dia melirik ke arahku sebelum dia menoleh dengan senyum ke arah laki-laki yang baru saja memasuki cafe.

"Hai Sam. Ya tentu saja kamu bisa bergabung denganku - tapi aku harus berangkat lima menit  lagi." Suaranya terdengar sedikit lebih keras. Mungkin untuk menutupi rasa malunya.

Suara mereka sedikit lebih rendah saat mereka terlibat dalam percakapan dan Pat menghabiskan kopinya. Dia menggeser kursinya ke belakang sekali lagi, saat berpamitan dengan laki-laki itu. Berjalan keluar dan melewati mejaku, aku berpaling untuk melirik ke arahnya. Dia berhenti sejenak, tersenyum dan berbicara.

"Hai, aku pernah melihatmu di sini beberapa kali. Mungkin besok kita bisa makan siang bersama besok-besok." Dia mengulurkan tangannya mengajakku bersalaman.

"Oh hai Pat, maaf tapi aku tadi tidak sengaja mendengarkan." kataku dengan senyum dan mengangguk ke arah laki-laki tadi. "Namaku Veonna dan kamu mungkin akan melihatku di sini agak lebih sering. Makanan di sini lezat. ". Cengkeramannya tegas dan sejuk.

"Senang bertemu kamu Veonna. Aku harus buru-buru sekarang - janji sore dll " tersenyum dan bergegas pergi, meninggalkanku kewalahan. Bagaimana ia bisa membuatku merasa sesenang ini? Kami hanya bertemu tiga kali. Di mana semua teoriku sekarang? Apa yang lebih penting? Mencintai 'bagian dalam' seseorang atau saat ini aku sedang jatuh hati dengan tampilan luar tanpa memikirkan seperti apa pribadinya? 


Bersambung... ke Stranger II

The Horniest of The Seasons

Seharusnnya saat ini musim semi klo kita punya 4 musim... lalu di tempat kita? Kadang panas kadang hujan.. bahkan kebanyakan panas sampe bikin kulit menghitam. Banyak sinar matahari, burung, tank top, sandal jepit dan kulit kemerahan yang terbakar.

Orang sering berspekulasi bahwa Musim seperti ini hampir mirip dengan musim semi,
the horniest of the seasons, meski secara pribadi aku merasa selalu bergairah setiap musim. Aku bisa mengerti mengapa Musim Semi membawa kita ke tingkat berikutnya. Setelah winter yang panjang dan dingin, orang muncul saat Spring dengan pakaian skimpier, lebih banyak energi dan keinginan untuk bergerak. Sangat mudah untuk melihat bagaimana suasana mungkin menyebabkan lebih banyak sex

Hmm... sex...

Do'a Tidur


Semoga setiap kali engkau terlelap, 
aku menjadi satu-satunya yang kau ingat dengan penuh kerinduan...

Karakter Berdasarkan Jenis Minumannya

Ternyataa.. karakter orang bisa di liat dari jenis minuman yang paling sering dia minum, berikut adalah jenis minuman dan kepribadian peminumnya :

Kopi
pic
Pagi-pagi paling enak ngopi. Nah, buat yang suka kopi (mau tubruk atau cappucinno), kamu bisa dibilang berkepribadian pekerja keras dan prefeksionis. Demi harga diri, kamu pantang meminta bantuan pada orang lain saat mengerjakan sesuatu. Dibutuhkan usaha ekstra untukmenaklukkan mereka yang menyukai kopi karena mereka agak kaku. Perlahan tapi pasti, ajaklah mereka yang suka kopi untuk lebih santai menikmati hidup.


Teh
pic
Apapun makanannya, minuman harus teh. Para penggemar teh ini justru lebih bersifat santai dan relax dalam menjalani hidup. Gak usah terburu-buru. Tapi kalau ada maunya, para penggemar teh ini bakalberusaha mendapatkannya. Diusahakan buat kamu-kamu yang mempunyai teman ‘teh’ ini untuk lebih bersabar. Kalau nggak mau dijauhi, hindari untuk memburu-burukan mereka.





Jus buah
pic
Bagi kalian yang suka jus buah, pasti menyukai tantangan dan berani ambil resiko. Maklum, penggemar jus termasuk orang yang mudah bosan sehingga senang mencoba hal-hal baru. Bagi teman-teman ‘jus’ ini harus selalu bersikap penuh kejutan jika ingin meraih simpatinya. Nggak kalah pentingnya, jangan pernah mengeluh di hadapan mereka pecinta jus karena mereka anti cewek/cowok manja.





Air mineral
pic
Si penyuka air putih akan selalu sederhana dan nggak banyak maunya. Tapi jangan salah, dibandingkan tipe cowok/cewek lainnya, dia berjiwa paling sensitif sekaligus puitis. Mereka si penyuka air juga pastinya romantis. Jika mereka sudah sreg dan suka dengan seseorang, tentunya mereka akan berusaha sekuat tenaga untuk menyenangkannya. Penyuka air putih ini juga termasuk orang irit karena air mineral biasanya paling murah.




Sumber : http://nhasir.blogspot.com/

Just Another Love Bite

"Kekaguman dan cinta adalah dua hal yang berbeda." Ree mengklarifikasi.

"Puuuuh-lease ..." kata ku dengan setengah mata tertutup.

"No really... kamu tidak pernah benar-benar memahami apa yang aku coba katakan ... SEPANJANG WAKTU!!"

"Yeah right! Who would? Ketika 'kekasih' kamu bercerita tentang seorang gadis baru dari sekolah atau perguruan tinggi atau dari tempat kerja yang dia kagumi '... SEPANJANG WAKTU "dikutip! aku mengibaskan tangaku ke udara dengan
frustrasi.

"Tapi ..." Ree menunggu aku melanjutkan omonganku

"Apa yang kamu ingin buktikan? Apakah aku tidak cukup baik untuk kamu?" Satu pertanyaan  yang paling tidak ingin Ree jawab.

"Mmhh... maksudku... " Tentu saja dia HARUS mengatakan sesuatu.

"I am sick of these girls…" Aku sedang tidak ingin mendengarkan

"Ok ... mari kita pergi mencari Ice cream?" rayunya, mencoba membuat suasana lebih baik.

“Not helping…”

"Minum... bukankah itu ide yang bagus?"

"ini jam 10 pagi!!"

“Baiklah. Begini saja, biarkan aku melakukan sesuatu yang tidak pernah aku lakukan untuk gadis-gadis itu. Stay right there sexy, I’ll be back in time .” Aku tidak tau apa yang akan Ree lakukan, dan aku tidak perduli.
Ree menaruh bukunya, mengecup hidungku dan pergi.

Sementara aku melihat ke luar jendela, Ree muncul dari balik gorden dengan nampan. Di atasnya dua cangkir kopi, sandwich dan satu kuntum bunga mawar yang dia ambil dari kebun sebelah.

“That’s what I am talking about Ree. Come to me baby…” Dia memang pandai merayu.

“Oooow! senyuman kamu itu mengingatkan aku pada gadis bernama Tanya… apa aku sudah pernah bercerita tentang dia?”

“YOU ARE A DEAD WOMEN!!”

Café Senja

Café sedikit senyap saat kami bertiga tiba di sana. Ada dua laki-laki duduk di meja kayu yang terletak di sebelah kanan teras. Kemudian beberapa laki-laki di meja yang bersebelahan dengan tanaman hias. Sementara di dalam, suasana terasa sedikit lengang. 

Tepat di depan deretan pigura yang tertata rapi sepanjang dinding café, duduk perempuan muda yang terus berkutat dengan laptop dan cangkir kopi yang hampir kosong. Dia  mengenakan kemeja casual, telingannya dijejali headset, sesekali menyeruput kopi, dan menyeka mulut. Wajahnya agak oval dengan rambut diikat menyerupai ekor kuda. Mungkin dia mahasiswa salah satu universitas dekat sini yang dikejar target harus segera menyelesaikan skripsi, dan di mana lagi tempat paling pas untuk berfikir dengan suasana tenang selain di tempat seperti ini. 

Ah… suasana khas sebuah café, entah hanya dalam imajinasiku saja atau memang ada alunan music samar-samar menyeruak di ruang beraroma kopi. Kadang aku berpikir, orang-orang hanya masuk ke cafe, tapi tak pernah benar-benar keluar lagi. Seolah ada yang tertinggal pada dinding-dinding berwarna krem-muda, pada plafon cokelat-hitam, pada pigura-pigura yang bercerita tentang sebuah perjalanan. 

“Mau pesan apa mbak?.” Seorang perempuan muda berkacamata menghampiri kami, rambutnya pendek dengan gaya tomboy, namun sedikit malu-malu menyodorkan daftar menu untuk kami pilih. Aku terlalu sibuk mengamati sekelilingku sehingga tidak menyadari keberadaannya. Bingung dengan banyaknya pilihan menu. Padahal perut kami sudah keroncongan semenjak turun dari bis tadi. Untunglah dia cukup sabar mencatat pesanan kami bertiga. 

 * * * * * * 

Aku mengamati 3 macam minuman yang baru saja di antarkan ke meja kami. " Moccacino yang terdiri dari Caffee Latte dicampur coklat. Mocha sebenarnya adalah sebuah nama varietas kopi dari daerah Mocha, Yaman. Meskipun dibuat tanpa campuran coklat, tapi kopi mocha asli Yaman seperti ada rasa coklat didalamnya. Kemudian ini, Cappucino New Guinea, menu special kami mempunyai sejarahnya sendiri. Racikan dari espresso, oreo, susu murni, coklat serut ice cream vanilla, yang di siram sedikit rhum cake." Sang barista menerangkan. 

Sayangnya sore itu aku hanya memesan satu gelas teh sereh. Bukan aku tidak menyukai kopi, hanya saja, sejak dulu aku tak berbakat menjadi pecandu kopi. Karena ternyata secangkir kopi saja sudah cukup membuat jantungku tak henti bergeletar. Berdebar-debar. Aku mengaduk dan menyesapnya berlahan. Sesuatu yang hangat dan berbau rempah akan sedikit meredakan pusing dan rasa mual di perutku. 

Tawa dan obrolan hangat di antara cangkir kopi dan kepulan asap Marlboro Menthol menggeliat di dalam ruangan 3x3 meter. Sofa berwarna coklat muda, lampu gantung yang membuat ruangan itu terasa semakin nyaman dengan warna senja. Ada yang bermain gitar, ada yang berbicara cepat, ada yang hanya mendengarkan dan sesekali menimpali. Wajah-wajah baru yang entah kenapa terasa begitu akrab. Bercanda, mentertawakan sepenggal dunia yang hampir seperti taman bermain raksasa. Bagai mana dunia itu membuat kami bertemu saat ini. Keakraban yang memabukkan. 

Untuk kesekian kali, tawa pecah. Renyah, Seakan tiada beban pikiran . Begitulah yang selalu terjadi pada pertemuan-pertemuan. Pertemuan yang selalu saja terasa singkat. "Betapa sebenarnya aku menginginkan saat-saat seperti ini bisa terjadi lagi." Pikirku , tak ada satupun yang menjadi tak ada. Semua masih terlalu nyata untuk bisa disebut sirna, antara dunia maya yang menjadi nyata. Tetapi pesta semeriah apapun pada akhirnya akan berakhir juga. Tak ada yang perlu di sedihkan karna aku yakin perpisahan akan membawa kepada pertemuan selanjutnya. 

Di luar mendung, lekuk-lekuk awan seperti tak sabar melompat liar. Perpisahan saat warna emas memantul di atas daun dan ranting pohon, menyepuh batu cadas di lereng bukit, menyiram langit dengan cahaya gemilang merah kekuning-kuningan, lalu berangsur-angsur menghitam. Hitam yang muram, kemudian menjelma kelam. Di antara decit rem, klakson, aliran mobil, gedung-gedung memagar langit, dan juga orang lalu-lalang aku kembali pulang. 


~Bandung, 15 April 2012

Things that Make me feel Strong

I'm still a little messed up - but I do have a list of things that make me feel strong. If I do at least one of these things - no matter how much I don't wanna - I feel a little stronger. I may not feel happier - but I feel stonger. 

1. Get up on time
2. Get to work on time
3. Go to the gym
4. Go for a walk out side
5. Talk to a friend about nothing
6. Trying to live each minute by being in the moment and not worring about past or future.
7. Make some music
8. Eat something healthy - like an apple - for some reason that really makes me feel nice
9. Go the day without a smoke
10. Read Novel
11. Cooking dinner each night.
12. Go to sleep with positive thoughts, and say my prayers each night
13.Being grateful that I am ALIVE

IT'S JUST A COFFEE SHOP Chp. 3

I stare at the mirror taped to my bedroom door. Fairy lights on. Bed unmade. Hoodie Elian would wear white. Safe. Invisible. But tonight is ...