Sexy Pictures of Love about the hot and passionate moments, the sexy encounters, the longing and yearning for love, the cuddles and the romances , all explained in beautiful and sexy Pictures. Pictures about desiring each other and making love.
Perempuan Yang Jatuh Cinta

“Lihat!.” Malam menunjuk ke arah gadis yang berdiri di ambang jendela...
Senja penasaran, ikut memerhatikan.
"Apa yang harus aku lakukan...? Ya tuhan apa yang harus aku lakukan...?." Lirih gadis itu berulang.
“Siapa dia?” Senja bertanya.
Senyum terkulum, “Hanya perempuan yang jatuh cinta." katanya. Sementara gadis di jendela masih tetap sama. Berdiri dalam resah, berdoa, bertanya.
"Hanya?", Mata bereka bersitatap. Ada secuil kekecewaan.
"Dia perempuan yang jatuh cinta. "
"Apakah jatuh cinta itu sakit, dia tidak terlihat bahagia?" Mata Senja menyipit.
"Dia jatuh cinta pada sesuatu yang tak bisa dia miliki. Dia jatuh cinta pada Pagi." Malam berhenti sampai di sini. Seakan mencari-cari kata yang tepat untuk melanjutkan kisahnya.
"Lalu?", Senja selalu tak sabar.
"Seperti yang kamu tau, tak ada yang bisa mengekalkan Pagi. Dia selalu mengecup dalam diam kemudian hilang. Begitu selalu, datang ketika selaksa warna merah merekah di ufuk timur dan pergi saat mentari semakin tinggi. Dia tidak perduli betapa si gadis begitu rindu menunggu." Malam menghela napas, menatap selembar daun melayang kemudian sentuh tanah.
"Dia tahu, Pagi tak ditakdirkan menjadi miliknya. Kini setiap malam, saat matahari bergerak pelan menyentuh bumi. Gadis ini berdoa. Meminta, dia tidak ingin lagi jatuh cinta."
Malam diam, kata-katanya menjelma gerimis berbisik seperti tangis.
Malam diam, kata-katanya menjelma gerimis berbisik seperti tangis.
"Bolehkah kita jatuh cinta?" Senja bertanya, tak ada jawaban. Langit semakin kelam, hitam sewarna malam.
Letter From You
Oktober, 31, 2011Dear my loveSudah jam 1 malam di sini, sedari sore aku hanya berbaring memangku laptopku. Memandang keluar jendela daun yang mulai menguning dan berwarna jingga pertanda musim gugur hampir usai. Sekarang gelap menjadi terlalu cepat, matahari seakan buru-buru berselimut awan. Entahlah dearHadir galau resah di pembaringan sendiri, sambil lalu menyaksikan debat di EU Parlement dengan soal default nya Yunani. Tapi tetap tidak bisa memfokuskan pikiranku. Terlalu lama aku menikmati gelap dalam sendiri, entahlah tiba-tiba ketakutan tentang sunyi itu menyergapku. Kamu tahu dear aku terlalu takut dan selalu takut.I am not what it seem to beJust me dearJust meThank you for listening, even I dont know whether you will notice or not this note. I just need to speak out my mind.The cold of autumn breeze smashing my bone.~DmD
My Dear...
Kamu tau, aku merasa tidak sendiri setiap kali kita saling
berbicara. Memang sendiri, tapi bukan berarti sepi. Kita membicarakan banyak
hal. Kita mempertanyakan banyak tanya. Apakah kau mengerti? Sepi bukan berarti
kamu benar-benar sendiri, selalu ada aku, teman-teman yang mau mendengarkan.
Berceritalah seperti dulu, ceritakan tentang daun-daun yang
menguning, tentang bulan perak sepotong menggantung di langit, tentang kecipak
air yang terdengar di sepanjang Canale-canale, stasiun-stasiun kereta,
lampu-lampu temaram yang menyinari kubah-kubah gereja dan bangunan kuno sampai jembatan. Ceritakan
tentang keriangan canda tawa dan alunan musik klasik yang datang dari cafe-cafe
tua. Bawa aku berpetualang ke sana.
Dan saat kamu rindu rumah, akan kuceritakan tentang
sawah-sawah, tentang gunung-gunung, lembah, sungai kecil di belakang rumah,
tentang anak-anak gembala yang menggiring ternak. Kau tak akan merasa begitu
jauh untuk pulang.
Berbagilah, jangan terlalu lama menenggelamkan diri diantara
kertas-kertas dan tugas yang tak ada habisnya. Sesekali naiklah ke permukaan
hirup udara segar, nikmati hangat sapaan kawan. Hidup pun perlu di nikmati,
tidak selalu harus hitam dan putih. Banyak warna di sini hampir seperti
pelangi.
Aku selalu di sini... dan rindu
obrolan malam kita.
With Love...#hug
First Time
"Aku tidak yakin kita harus melakukan ini."
"Jangan konyol. Tidak ada yang bisa melihat kita. "
"Ini bukan berarti aku tidak bisa melakukannya! Bagaimana jika ini mengubah segalanya? "
"Tidak ada yang akan berubah: kita saling mencintai, kan?. Jadi percayalah padaku."
"Benar! Tapi - "
"Shhhhh, sudah waktunya."
Bulan di puncak bukit. Ada keheningan yang ganjil, dunia diam menahan napas. Punggungnya sobek, bulu-bulu terbang, taring memanjang, dia mentransformasi diri. Dia mematikan otaknya. Menghela napas dalam-dalam, menghirup aroma darah dalam tubuh manusia disekitarnya.
"Jangan konyol. Tidak ada yang bisa melihat kita. "
"Ini bukan berarti aku tidak bisa melakukannya! Bagaimana jika ini mengubah segalanya? "
"Tidak ada yang akan berubah: kita saling mencintai, kan?. Jadi percayalah padaku."
"Benar! Tapi - "
"Shhhhh, sudah waktunya."
Bulan di puncak bukit. Ada keheningan yang ganjil, dunia diam menahan napas. Punggungnya sobek, bulu-bulu terbang, taring memanjang, dia mentransformasi diri. Dia mematikan otaknya. Menghela napas dalam-dalam, menghirup aroma darah dalam tubuh manusia disekitarnya.
Sebuah lolongan pilu memecah malam... saatnya memulai perburuan pertama...
It’s all in my head
And maybe it’s true, I’m falling for you. Maybe there’s a chance that you’re stuck on me, too.
So maybe I’m wrong, it’s all in my head, but maybe we’re afraid of words we both haven’t said.
The Vampire
Aku berdiri di ruang gelap sebuah menara. Ruangan yg hanya berisi peti mati, tutupnya terbuka. Berada di sini sekarang adalah bodoh tetapi sudah telambat. Aku mendengar langkah kaki, lambat dan semakin dekat mendaki tangga spiral.
Satu-satunya cara melarikan diri adalah dengan melewati mereka. Aku melihat ke peti mati, kemudian tangga. Aku bisa melihat cahaya lilin, seperti penyiksaku, berkedip redup.
Tak ada pilihan lain lagi, seperti binatang aku merangkak ke dalam peti matiku dan menutupnya. Perasaan takut mengalir di antara nadi2 yg telah beku menelusup ke jantungku yg sdh lama berhenti berdetak.
aku menunggu...
It's Just Coffe
“Life couldn't get much more depressing,” gumamku.
Café René tempatku bekerja saat ini adalah café yang terletak di sebuah bangunan abad pertengahan di St. Mary’s Lane, dengan interior klasik dan sederhana. Bagian depan dari café tidak lebih dari sebuah pintu yang mengarah ke serambi yang kemudian lurus ke sebuah konter kecil. Langit-langit yang berpanel rendah disangga balok kayu besar, dikombinasikan dengan rak-rak yang memuat koleksi buku-buku lama. Sofa nyaman di beberapa sudut, alunan jazz menyeruak di setiap sudut ruang, dan bau apek khas yang tampaknya semakin menambah karakter khusus sebuah café klasik.
Aku dengan malas memisahkan buku-buku berdasarkan katalog dan judul: fiction, romance, history, saat bel di atas pintu depan berdenting pelan, hampir tak terdengar dari tempat aku duduk. Di pintu masuk aku mendapati seorang wanita berjalan ke arah konter. Pada hari yang sepi seperti sekarang ini, satu pelanggan bisa membebaskanku dari pekerjaan monoton yang sangat membosankan. Aku meluruskan celemek, merapikan lipatan baju, dan memastikan nota serta menu ada di tangan.
"Good evening! Selamat datang di Café René. Apa yang bisa saya sajikan untuk Anda malam ini?” sapaku dengan kata-kata yang sudah sangat ku hapal.
Seperti kebanyakan orang yang cukup sopan, dia tersenyum ke arahku, memamerkan serangkaian gigi putih sempurna, bahkan sepertinya dokter gigi pun akan menyorakinya. Dia selalu datang pada jam yang hampir sama, meminta kopi yang sama, duduk di meja yang sama lalu berkutat dengan bukunya sampai larut malam. Terkadang hanya duduk diam, menyeruput kopi, dan mengamati sekeliling café sebelum akhirnya pergi lagi. Di lain waktu dia datang dengan beberapa orang dan asik berceloteh. Aku selalu mengamatinya, menikmati setiap kali dia berbicara, atau melihatnya berjalan memasuki café, perubahan cepat dari ekspresi di wajahnya, dan bagaimana dia tampak tertawa dan tersenyum.Tetapi malam ini, tidak seperti biasanya dia lebih memilih duduk di meja konter.
"Kopi saja, thanks. Hitam, aku butuh sedikit kafein malam ini," jawabnya.
Sementara ia berbicara, aku mengamati sosok di depanku dengan cermat. Kuterka ia hanya lebih tua beberapa tahun dariku. Caranya berpakaian, kombinasi yang sederhana dengan warna-warna natural dan hangat membuatnya terlihat menarik. Aku berani bertaruh bahwa dia memiliki beberapa baju-baju mahal di lemarinya, yang barangkali tak mampu kubeli dengan 6 bulan gaji di sini.
"Baik.” Jawabku. Dengan segera aku mengisi cangkir dengan kopi dari salah satu termos besar di rak belakang. Dia menunggu dengan tenang sampai aku menyerahkan kopi panas di depannya.
“Apa ada lagi yang Anda butuhkan?" Tanyaku ramah. Dia memiringkan kepala sedikit dan menyipitkan matanya dengan cara yang tiba-tiba membuatku gugup.
"Sepertinya belum ada, terima kasih.” Jawabnya.
Dia mulai mencicipi kopinya dan mendesah puas, seolah-olah satu tegukan kopi tadi mulai mencair sepanjang tulang-tulangnya. Satu tegukan lagi, dan kali ini lebih lama, yang lagi-lagi diikuti oleh helaan napas yang dalam. Sepertinya orang ini benar-benar menikmati kopinya. Hanya beberapa detik singkat, atau mungkin lebih, telah berlalu dalam diam. Dan aku mengambil evaluasi dengan tenang dari keseluruhan penampilan wanita ini. Wajahku memerah ketika dia mengangkat wajahnya lagi dan memergoki aku sedang mengamatinya. Dia hanya tersenyum, tampaknya tidak tersinggung dengan kekurangajaranku.
Dia mulai menyesap kopinya lagi, tetapi kali ini menjaga matanya tetap tertuju padaku. Oke, itu membuatku agak sedikit gugup.
"Jadi… Amelia. Apakah memang selalu setenang ini?" Tanyanya tiba-tiba.
"Maaf?" tanyaku dengan nada bingung dan kaget. Dia pasti melihat name tag yang terpampang jelas di dadaku. "Tidak, tidak, hanya pada jam-jam tertentu saja. Dan ini musim panas, hampir semua orang menghabiskan liburan musim panas mereka di luar kota." Jawabku tergagap.
"Bagus, itu melegakan. Kau tahu, aku sangat jarang menghabiskan waktu di café yang terlalu ramai sebelumnya, tapi aku pikir tempat ini mungkin cukup nyaman dan sepi." Dia berhenti, tersenyum sekarang sedikit nakal dan seperti mencoba menerka apa yang aku pikirkan.
Jeda yang lain, kali ini terasa aneh bagiku, canggung, untuk beberapa hal aku tidak begitu yakin. Aku mulai merasa sedikit bingung, seolah-olah meskipun dia berbicara dengan sangat jelas, ada semacam kode rahasia yang aku kenal. Entah kenapa aku selalu suka caranya bertanya. Ah, tapi tidak juga. Aku selalu suka saat dia bicara. Hmmm, tapi bukan juga sebenarnya. Aku hanya suka setiap dia ada. Meski dia tak bicara, tak bertanya, bahkan tak melakukan apa-apa.
“Yah… tenang, tetapi terkadang sangat membosankan jika tidak ada seorang pun yang bisa kita ajak bicara.” Ujarku hampir seperti bicara pada diri sendiri.
Kali ini dia tertawa, lalu dia berdiri dari kursinya, mengeluarkan beberapa dollar dari dompet dan mulai mengambil tas serta kunci mobilnya. Kurasa ia memutuskan sudah waktunya untuk pergi.
"Sudah mau pergi?" Tanyaku, dan bahkan aku bisa mendengar nada kecewa dalam suaraku.
"Yap, aku harus mengejar jadwal keberangkatan pesawat dan itu tinggal 30 menit lagi, jadi lebih baik aku segera berangkat," katanya. Mulutku sedikit melengkung hampir seperti orang yang merajuk. Dia melangkah ke arah pintu keluar, kemudian membalikan badan saat aku hendak membuka mulut.
"Have a nice night! Ngomong-ngomong, aku Alice," katanya. "Apakah kamu biasa bekerja pada malam hari?"
"Hampir setiap hari, dari pukul lima sampai tutup. Senang bertemu denganmu, Alice! "
"Senang bertemu denganmu juga, dan aku yakin kita akan bertemu lagi, segera," katanya, kemudian berbalik dan berjalan kembali ke arah pintu utama. Aku menatapnya hingga dia menghilang di balik pintu keluar. Diikuti gemerincing samar lonceng di atas pintu saat Alice melangkah kembali ke jalan dan keluar dari café.
Dia benar-benar sudah pergi, sekarang aku tidak tau apa yang harus aku lakukan dengan diriku sendiri. Aku melihat sekeliling, meja-meja kosong, alunan jazz, dan ruangan café tempatku bekerja. Segalanya tampak kembali menjadi kusam dan kosong.
Ada sesuatu tentang dirinya, something... Attractive? Magnetic? Sesuatu yang bisa mengisi ruang dengan cara yang tidak dapat dijelaskan dengan geometri sederhana. Dia seolah mampu mengisinya dengan kehangatan. Sesuatu yang sulit untuk dijelaskan. Dan aku mendapati diriku sendiri kembali mengingat percakapan singkat kami. Untungnya, aku berhasil membuat dia lebih banyak berbicara. Sehingga aku tidak perlu banyak melakukan hal-hal konyol.
Entah mungkin hanya perasaanku saja, ada jeda saat dia berbicara hanya untuk melihatku, mengukur reaksiku, atau sesuatu yang lebih, meskipun aku tidak yakin apa itu. Mungkin untuk orang normal akan dengan mudah mengetahuinya, tetapi untuk orang yang tidak begitu peka sepertiku, butuh waktu beberapa saat untuk menyadarinya. Lain kali saat dia datang, aku memutuskan akan lebih perhatian. Ajukan lebih banyak pertanyaan, mencoba mengenalnya lebih baik. Ini membuatku frustasi, aku tidak yakin kapan dia akan datang lagi.
Di luar café malam makin hening, cahaya membercak di ruas-ruas jendela. Sesekali terdengar dari kejauhan decit rem, klakson, mobil, warna pucat merayap di lekuk bangunan-bangunan tua, dan siluet orang lalu-lalang tak bersuara. Sudah waktunya menutup café dan membersihkan semuanya.
+035624811356…
Call me when you have some free time!
~Alice
Secarik kertas yang kutemukan terselip di bawah cangkir kopi kosong.
Hmm… Well, sepertinya memang akan ada kesempatan yang lain.
Kopi, Jazz dan Kamu
‘Kau kembali’ ejeknya sambil nyengir kuda..
‘Aku tidak pernah ke mana2…’
‘Lihatlah… kau bahkan tidak pandai berdusta, ah tapi aku suka sisimu yg ini… jiwa yg penuh benci…’ Gelas kopi melayang… cermin pecah dan kau pun musnah.
Di barat senja melenyap, dan secangkir kopi yang membuat jantungku tak henti berdenyar, Jazz tua mendayu sekarat...
Subscribe to:
Posts (Atom)
IT'S JUST A COFFEE SHOP Chp. 3
I stare at the mirror taped to my bedroom door. Fairy lights on. Bed unmade. Hoodie Elian would wear white. Safe. Invisible. But tonight is ...
-
I stare at the mirror taped to my bedroom door. Fairy lights on. Bed unmade. Hoodie Elian would wear white. Safe. Invisible. But tonight is ...
-
Aku bergegas pulang, mencuci rambut, mengenakan baju merah dan mencari celana hitam namun tidak berhasil menemukannya di mana pun. Sialan! ...
-
Rabu kemaren salah satu kawan menyebut nama saya jadi salah satu orang yang di kutuk juga... ternyata kutukan ini berisi 11 hal tentang s...


