Halloween Night

My Dear
Malam ini Halloween Night, cuaca agak sedikit cerah dan hangat. Setelah seharian berada di ruang pengap perpustakaan dengan monitor 10 inch ku, mata terasa lelah dan pungungku pun terasa sakit. Ku putuskan untuk keluar sambil melihat Halloween Party di Centrum. 
Sepanjang jalan aku berpapasan dengan keluarga yang membawa anak-anak dengan mengenakan kostum seram. Semakin mendekati pusat kota semakin sering aku menjumpai pemandangan tadi. Kali ini bukan hanya anak-anak saja yang mengenakan kostum Halloween, melainkan seluruh keluarganya. Kompak berseram ria, dengan membawa keranjang permen dan mengetuk setiap pintu yang mereka lewati. 
Aku seperti biasa, selalu menyukai duduk disebuah Bar terbuka dengan secangkir Cappucino dan menikmati pemusik jalanan yang bermain tepat di depan café. Pemusik satu ini keren, aku rasa dia memainkan alat musik sejenis Siter kalo di Jawa tapi yang ini aku rasa mereka berasal dari Iran. Lain hari ketika aku kebetulan lewat aku liat dia memainkan sebuah mini harpa. 
Alunan musik yang dimainkan seakan mengerti benar suasana hatiku, alunan melodi yang menghanyutkan seakan iramannya me-sugesti diri untuk Larut melebur. Tanpa sadar aku sedikit menggeser kursiku mendekat. Aku mengamati sambil mengingat-ingat nama alat musik yang dia mainkan, rasanya aku pernah membacanya entah di mana. 
Waktu menunjukan jam 11 dan aku rasa udara hangat berangsur-angsur membeku. Sang musisi pun bersiap mengemasi peralatannya. Aku sempatkan untuk memberikan penghargaan atas permainan musiknya malam ini, dan bergegas pulang sendiri kembali menyusuri jalan yang penuh dengan daun dan angin musim gugur yang menusuk.

Satu Hari Di Musim Dingin

Venice, satu hari di musim dingin ketika seseorang dari masa lalu kembali. Kami berdua adalah teman sebaya, bahkan dulu kami pernah saling jatuh cinta. 
Hari ini dia tampil dalam balutan mantel bulu palsu, skinny jeans gelap dan sepatu boots rancangan louboutins. Kulitnya pucat seolah tidak pernah terkena sinar matahari, matanya memancarkan kelembutan yang terlihat begitu anggun dan matang.
Dia mengajar matematika di sebuah sekolah di suatu tempat di Alaska dan alasannya kembali ke sini adalah untuk menghadiri sebuah seminar matematika. Kami selalu makan malam bersama dan pergi ke salah satu seminar matematika-Nya, seminar tentang sesuatu yang di sebut Fermat’s Last Theorem. 
"Ini tentang koneksi, bukan," bisikku padanya saat aku mencoba untuk memahami apa yang dosen katakan. Dia mengangguk. 
"Bisakah kamu memberi aku penjelasan sederhana?" Dia menggelengkan kepalanya. Tidak ada penjelasan sederhana untuk sebuah Puzzle yang telah di kerjakan beberapa pemikir matematika terbaik selama lebih dari 300 tahun. 
Hari sudah menjelang malam ketika kami keluar dari gedung seminar. Di jalanan terlihat orang-orang yang bergegas. Dari bawaannya kelihatan bahwa mereka adalah orang kantoran. Kita terus bergerak. Dan akhirnya menemukan sebuah cafe klasik di sudut kota, Cafe yang terletak antara dua gedung bernuansa abad pertengahan.
"Aku selalu suka kota ini,” katanya ketika kita duduk di sofa hangat, sewarna langit senja.
"Ya, aku kira kamu selalu cocok di mana pun. " sahutku, dan dia tersenyum.
"Iya, kota ini selalu penuh dengan nuansa masa lalu, keindahan setting-nya, arsitektur dan karya seni nya. Saat musim panas warna kota seperti merah karat. Penuh nostalgia."
Kami begitu hanyut di antara aroma kopi dan alunan musik kental bernuansa jazz, Obrolan ringan tentang tempatnya tinggal sekarang, dan dengan wajah merona dia mengatakan bahwa dia telah jatuh cinta dengan seorang wanita di Alaska.  Kurasa aliran darah mengalir cepat menjalar ke dadaku. Entah perasaan apa. Ada rasa kehilangan, mungkin juga cemburu.
Salju mulai turun ketika kami berpelukan dan mengucapkan selamat tinggal. Dia terbang kembali ke Alaska, di mana seorang wanita menunggu dan mencintainya. Pergi jauh meninggalan keluarga dan sahabat demi cinta. Aku pikir mungkin aku juga akan melakukan hal yang sama, bila nanti ada yang benar-benar mecintaiku, dan aku pun mencintainya.

Pictures of the month


Sexy Pictures of  Love about the hot and passionate moments, the sexy encounters, the longing and yearning for love, the cuddles and the romances , all explained in beautiful and sexy Pictures. Pictures about desiring each other and making love.

Perempuan Yang Jatuh Cinta


“Lihat!.” Malam menunjuk ke arah gadis yang berdiri di ambang jendela...
Senja penasaran, ikut memerhatikan.
"Apa yang harus aku lakukan...? Ya tuhan apa yang harus aku lakukan...?." Lirih gadis itu berulang.
“Siapa dia?” Senja bertanya.
Senyum terkulum, “Hanya perempuan yang jatuh cinta." katanya. Sementara gadis di jendela masih tetap sama. Berdiri dalam resah, berdoa, bertanya.
"Hanya?", Mata bereka bersitatap. Ada secuil kekecewaan.
"Dia perempuan yang jatuh cinta. "
"Apakah jatuh cinta itu sakit, dia tidak terlihat bahagia?" Mata Senja menyipit.
"Dia jatuh cinta pada sesuatu yang tak bisa dia miliki. Dia jatuh cinta pada Pagi." Malam berhenti sampai di sini. Seakan mencari-cari kata yang tepat untuk melanjutkan kisahnya.
"Lalu?", Senja selalu tak sabar.
"Seperti yang kamu tau, tak ada yang bisa mengekalkan Pagi. Dia selalu mengecup dalam diam kemudian hilang. Begitu selalu, datang ketika selaksa warna merah merekah di ufuk timur dan pergi saat mentari semakin tinggi. Dia tidak perduli betapa si gadis begitu rindu menunggu." Malam menghela napas, menatap selembar daun melayang kemudian sentuh tanah.
"Dia tahu, Pagi tak ditakdirkan menjadi miliknya. Kini setiap malam, saat matahari bergerak pelan menyentuh bumi. Gadis ini berdoa. Meminta, dia tidak ingin lagi jatuh cinta."
Malam diam, kata-katanya menjelma gerimis berbisik seperti tangis.
"Bolehkah kita jatuh cinta?" Senja bertanya, tak ada jawaban. Langit semakin kelam, hitam sewarna malam.

Sendiri




Klo ada yang tanya apa yang mau sekali aku lakukan saat ini, aku akan jawab,


"Aku mau meninggalkan dan membiarkan diriku sendiri sementara."

Letter From You



Oktober, 31, 2011

Dear my love
Sudah jam 1 malam di sini, sedari sore aku hanya berbaring memangku laptopku. Memandang keluar jendela daun yang mulai menguning dan berwarna jingga pertanda musim gugur hampir usai. Sekarang gelap menjadi terlalu cepat, matahari seakan buru-buru berselimut awan. Entahlah dear
Hadir galau resah di pembaringan sendiri, sambil lalu menyaksikan debat di EU Parlement dengan soal default nya Yunani. Tapi tetap tidak bisa memfokuskan pikiranku. Terlalu lama aku menikmati gelap dalam sendiri, entahlah tiba-tiba ketakutan tentang sunyi itu menyergapku. Kamu tahu dear aku terlalu takut dan selalu takut.
I am not what it seem to be
Just me dear
Just me
Thank you for listening, even I dont know whether you will notice or not this note. I just need to speak out my mind.
The cold of autumn breeze smashing my bone. 

 ~DmD


My Dear...
Kamu tau, aku merasa tidak sendiri setiap kali kita saling berbicara. Memang sendiri, tapi bukan berarti sepi. Kita membicarakan banyak hal. Kita mempertanyakan banyak tanya. Apakah kau mengerti? Sepi bukan berarti kamu benar-benar sendiri, selalu ada aku, teman-teman yang mau mendengarkan.
Berceritalah seperti dulu, ceritakan tentang daun-daun yang menguning, tentang bulan perak sepotong menggantung di langit, tentang kecipak air yang terdengar di sepanjang Canale-canale, stasiun-stasiun kereta, lampu-lampu temaram yang menyinari kubah-kubah gereja dan  bangunan kuno sampai jembatan. Ceritakan tentang keriangan canda tawa dan alunan musik klasik yang datang dari cafe-cafe tua. Bawa aku berpetualang ke sana.
Dan saat kamu rindu rumah, akan kuceritakan tentang sawah-sawah, tentang gunung-gunung, lembah, sungai kecil di belakang rumah, tentang anak-anak gembala yang menggiring ternak. Kau tak akan merasa begitu jauh untuk pulang.
Berbagilah, jangan terlalu lama menenggelamkan diri diantara kertas-kertas dan tugas yang tak ada habisnya. Sesekali naiklah ke permukaan hirup udara segar, nikmati hangat sapaan kawan. Hidup pun perlu di nikmati, tidak selalu harus hitam dan putih. Banyak warna di sini hampir seperti pelangi.

Aku selalu di sini... dan rindu obrolan malam kita.


With Love...#hug

First Time


"Aku tidak yakin kita harus melakukan ini."

"Jangan konyol. Tidak ada yang bisa melihat kita. "

"Ini bukan berarti aku tidak bisa melakukannya! Bagaimana jika ini mengubah segalanya? "

"Tidak ada yang akan berubah: kita saling mencintai, kan?. Jadi percayalah padaku."

"Benar! Tapi - "

"Shhhhh, sudah waktunya."

Bulan di puncak bukit. Ada keheningan yang ganjil, dunia diam menahan napas. Punggungnya sobek, bulu-bulu terbang, taring memanjang, dia mentransformasi diri.
Dia mematikan otaknya. Menghela napas dalam-dalam, menghirup aroma darah dalam tubuh manusia disekitarnya.


Sebuah lolongan pilu memecah malam... saatnya memulai perburuan pertama...

Hmm...

Hati-hati saat menjelekkan orang lain. Mungkin saja dia membicarakanmu dalam kebaikan. Malu sama Tuhan...    

^_^

It’s all in my head

And maybe it’s true, I’m falling for you. Maybe there’s a chance that you’re stuck on me, too. 

So maybe I’m wrong, it’s all in my head, but maybe we’re afraid of words we both haven’t said.

The Vampire

Aku berdiri di ruang gelap sebuah menara. Ruangan yg hanya berisi peti mati, tutupnya terbuka. Berada di sini sekarang adalah bodoh tetapi sudah telambat. Aku mendengar langkah kaki, lambat dan semakin dekat mendaki tangga spiral. 
Satu-satunya cara melarikan diri adalah dengan melewati mereka. Aku melihat ke peti mati, kemudian tangga. Aku bisa melihat cahaya lilin, seperti penyiksaku, berkedip redup. 
Tak ada pilihan lain lagi, seperti binatang aku merangkak ke dalam peti matiku dan menutupnya. Perasaan takut mengalir di antara nadi2 yg telah beku menelusup ke jantungku yg sdh lama berhenti berdetak.
aku menunggu...

IT'S JUST A COFFEE SHOP Chp. 3

I stare at the mirror taped to my bedroom door. Fairy lights on. Bed unmade. Hoodie Elian would wear white. Safe. Invisible. But tonight is ...