Wednesday, July 24, 2013

Coklat

Aku memanggilnya coklat, bukan karena dia terlihat begitu lezat seperti coklat, atau berkulit gelap seperti coklat, tetapi karena hampir setiap menit dia tidak pernah berhenti memasukan coklat-coklat ke dalam mulutnya. Usianya sekitar 26 tahun, gadis berkulit putih dan cukup cantik untuk seseorang yang memiliki berat badan dua kali lipat lebih besar dariku. Tidak heran dengan kebiasaanya itu, dia terlihat berbeda dari perempuan lain di kantor. 
Entah sejak kapan aku mulai suka melihat dia menikmati coklatnya, kelopak matanya meredup saat rasa susu di dalam coklat meleleh dan membanjiri mulutnya. Dia selalu terlihat begitu menikmati setiap gigitannya. Aku selalu mengamati perempuan itu meneliti wajahnya di tiap sudut. Juga waktu ia mengusap mulut dengan tisu. Untuk beberapa orang, sekali kau dilukai, kau akan mampu melihat luka orang lain. Dan wajah itu seperti membuka diri, lapis demi lapis. 

 *** 
Aku berjalan ke arah toilet saat tanpa sengaja bertabrakan dengannya, dan kertas-kertas yang dia pegang pun berhamburan. 
 “Ah Maaf.” kataku sambil membantunya memunguti berkas-berkas yang berceceran, aku melihat matanya sembab seperti habis menangis. “Kamu baik-baik saja?” tanyaku. 
“Iya terimakasih, aku tidak apa-apa.” Jawabnya, dia pun melangkah pergi tanpa berkata apa-apa lagi. Aku yakin ada sesuatu yang tidak beres hingga dia keluar dari toilet dengan terburu-buru seperti itu. Saat aku memasuki toilet ada dua karyawan kantor sedang berbicara lumayan keras untuk di bilang berbisik.
“Ah mungkin dia tidak suka laki-laki. Buktinya tidak sekalipun aku melihat dia dekat dengan cowok di kantor.” kata salah satu perempuan, sambil menaburkan bedak di pipinya. 
“Jangan-jangan dia sukanya sama perempuan.” Timpal salah satu temannya sambil cekikikan. Sekarang aku mengerti kenapa dia bersikap begitu. 
Setelah hari itu, aku tidak pernah melihatnya kembali ke kantor. Bahkan sampai berhari-hari dia tak pernah muncul lagi, beberapa dari pegawai lain bilang dia berhenti bekerja. Mungkin aku pun akan bersikap sama bila ada orang yang membicarakan aku sedemikian rupa. Hanya saja tak ada hal yang begitu menonjol dariku hingga orang perlu memperhatikan setiap gerak dan tindakanku di kantor. 

  *** 
Cafe tak terlalu penuh, dan di depanku ada coffe latte dengan busa tipis sampai ke bibir cangkir. Sementara di luar, malam bertambah gelap langit dipenuhi gumpalan awan pucat. Samar ketukan-ketukan drum dan trompet, jazz berimprovisasi tiada henti. Begitu banyak suara, seolah muncul dari balik kepala. Sebuah gema, dalam disonansi yang retak mengendap, seolah masuk semakin dalam ke lorong malam. 
Kopiku tinggal setengah, saat pelayan café menaruh secangkir coklat hangat di mejaku. 
“Maaf, sepertinya aku tidak memesan coklat hangat.” Kataku keheranan.
“Ini dari perempuan yang ada di sudut sebelah sana.” Jawabnya sambil menunjuk ke salah satu sudut cafe. Perempuan duduk sendiri, di sudut yang agak redup. “Dan juga ada note untuk anda.” Lanjutnya. 

Kamu terlihat selalu menyukai coklat 
Terimakasih untuk hari itu. 

~Luna… 

Lalu kulihat lagi perempuan itu. Terlihat cantik dengan satu senyum dibingkai wajah bulat.

Tuesday, July 23, 2013

Sleep

Sleep Sleep precious Sleep my love, Sleep until nothing’s left. Sleep until the world is gone. Sleep until it’s cold. Sleep until the world is black.
Sshh… don’t speak, You’re too weak. Just close those tired sore eyes and sleep. Dream of a better world, dream of a bright future, dream of the perfect life, dream of what will never be.
Sleep soundly... 
Sleep peacefully...
Sleep deeply...
Sleep forever..
Nothing can hurt you , no one can get you. You’re safe now, just close your eyes and sleep. Sleep my love, Sleep my sweet, Sleep darling love, Sleep... I’ll be with you soon, wait for me hust sleep For now.

Obrolan


Setelah lama tak jumpa, aku dan kawan lama bertemu di sebuah cafe di sudut kota. Sobatku itu tak berubah semenjak kami lulus SMU. Tetap ceria dan sedikit usil, tapi juga masih kritis, dan idealis seperti yang aku kenal. Dia satu-satunya yang tau benar tentang aku, dan dia juga orang yang lebih mengerti situasiku. Kami duduk berdua diantara salah satu meja yang tersusun rapi di tepi balkon café
"Kamu baik-baik saja?" Tanyanya tidak lama setelah kami duduk dan memesan minuman.
"Iya... tidak... "
"Kenapa?"
"ini tentang aku, dia, kami tepatnya. Aku tau kami tidak selalu bisa bertemu, tapi yang menggangguku biasannya dia selalu ada untukku."
"Seperti jaring pengaman?" Dia menimpali.
"Ya, aku rasa seperti itu, lebih bahkan. Sekarang dia entah di mana, dan itu menakutkan."
"Boleh aku memberimu nasihat? Alasan seseorang ketakutan saat jaring pengamannya hilang, adalah karena dia mulai meragukan diri mereka sendiri. Dia pikir mereka tidak bisa melakukan apapun karena seseorang yang membuatnya selalu merasa aman, dan melindung tidak ada lagi."
"Kamu terlalu menjiwai analogi jaring ini."
"Seperti saat seseorang mengatakan kalo kamu terjatuh, maka..."
"Jangan bilang ...akan ku tangkap."
"Percis... hubungan jangka panjang, mustahil tanpa melewati hal-hal seperti ini. Dan itu wajar, tinggal bagaimana kalian bisa saling mengobati luka setelahnya."
"Kamu bicara terlalu banyak kamu tau...."
"Hahaha... baiklah... Pikirkan baik-baik apapun itu. Kan kamu sendiri yang sering ngutip tulisan bang Toga, 'bahwa kekasih sejati sekalipun, tak selalu bisa menyediakan semua yang kamu inginkan. Tentang memahami, jika dia tak menyayangimu seperti yang kau inginkan, bukan berarti dia tak mencintaimu dengan segala yang dia punya.' Inget kan kata-kata itu? Sekarang berbalik kamu yang baca dan pahami sendiri."
"Hehe... iya."
"Sudahlah, makin kurus kamu nanti." Kelakarnya, dan aku hanya tertawa kecil. 
Sisa malam itu kami habiskan dengan bicara tentang waktu kami dulu, sekolah, kawan-kawan yang tidak ada lagi kabarnya, rencana reuni yang tidak kunjung kejadian. Membuatku rindu masa-masa dulu.
"Kangen jaman dulu boleh, tapi itu sudah lewat. Yang bisa kamu lakukan adalah pertahankan yang kamu miliki sekarang, cintai dan jaga dengan baik-baik. Pertaruhkan semuanya, jangan menyia-nyiakan kesempatan berbahagia, dengan terus-menerus terpusat pada diri sendiri." kawanku ini menutupnya dengan panjang lebar.
Alunan musik memenuhi tiap sudut kafe, kami diam sesaat. Aku dengan semua hal yang memenuhi kepalaku beberapa hari ini, dan dia mencoba menghabiskan minumannya. Aku mengambil telpon genggamku dan mencoba menelpon
"We're sorry the number you are calling can not receive calls at this time Please call again later."



Thursday, July 18, 2013

Change

Ketika kita sering mengatakan hal-hal seperti 'orang tidak akan pernah berubah', itu membuat beberapa orang berteriak protes. Karena perubahan secara harfiah adalah satu-satunya yang konstan dalam semua ilmu pengetahuan. Energi, materi, selalu berubah. Terlahir, tumbuh, mati.
Cara kita berpegang teguh pada hal-hal tertentu dan bukannya membiarkan mereka berubah menjadi diri mereka sendiri. Cara kita berpegang teguh pada kenangan lama, bukannya membentuk sebuah kenangan baru. Cara kita bersikeras percaya, meskipun setiap indikasi ilmiah mengatakan bahwa apa pun dalam hidup ini adalah permanen.
Perubahan adalah konstan, bagaimana kita melalui setiap step perubahan itu terserah kita. Hal ini akan terasa seperti sebuah kematian. Atau bisa terasa seperti kesempatan kedua dalam hidup.
Jika kita membuka jari-jari kita, mengendurkan genggaman, maka akan terasa seperti letupan adrenalin. Seperti setiap saat, kita dapat memiliki kesempatan lain dalam hidup. Seperti setiap saat, kita bisa dilahirkan sekali lagi.
© Just Floo 2012 | Blogger Template by Enny Law - Ngetik Dot Com - Nulis