Tuesday, March 8, 2016

Namanya Dinda

‘Kita sebagai masyarakat harus sedikit lebih waspada dengan menyebarnya.’ Salah satu pembaca berita berapi-api bicara di tv. 
 
Akhir-akhir ini semua media meributkan LGBT, dari mulai psikolog, ulama, penulis,bahkan ibu rumah tangga seolah mendadak berubah menjadi ahli yg lebih tau dari yang lain. Meresahkan mungkin untuk beberapa orang yang secara langsung terpengaruh ada juga tidak perlu repot ambil pusing memikirkannya. Yang aku lihat saat ini bukannya membuatku terganggu, tapi malah sedikit terkenang, penasaran, membuatku mengingat belasan tahun yang lalu.
 
Saat itu aku hanyalah anak kecil berumur 17 tahun yang selalu bisa mempertahankan peringkat 5 di kelas meskipun tidak bisa di bilang cukup hebat tapi lumayan untuk anak yang tidak pernah punya catatan, kadang membolos dan ketiduran di kelas, aku selalu bisa bertahan di saat-saat genting ujian dan lulus dengan hasil yang tidak terlalu buruk. Dulu tidak mengenal internet, social media bahkan mungkin belum ada. Aku menjalani masa remaja tidak berbeda dengan yang lain, mungkin hanya sedikit tomboy tapi tidak sampai berpenampilan seperti laki-laki. Semuanya sangat biasa, tapi entah apa, namun saat itu aku selalu merasa berbeda dengan teman-teman perempuanku yang lain. Aku hanya membebaskan diriku dengan segala kemungkinan bisa menyukai siapapun. Saat kau pernah merasa jatuh hati, kau akan tau saat kau jatuh hati, namun saat itu aku belum merasakannya, bahkan mungkin bila diingat lagi sekarang aku tidak merasakannya sampai belasan tahun kemudian.
 
Lalu di pertengahan tahun muncullah anak baru ini, Dinda anak pindahan dari Jakarta, penampilannya biasa saja cukup feminim kalo dibandingkan denganku. Ceria banyak tertawa, dia bisa dengan mudah akrab berkumpul dan jalan dengan semuanya. Terkadang kita bisa ngobrol lama di mana saja, sesekali pergi nonton beramai-ramai, atau hanya diam di rumahnya. Sampai suatu hari tinggalah aku dan dia berdua, hujan lebat di luar membuatku tidak bisa pulang. Di tengah obrolan kami, tiba-tiba dia terdiam.
 
‘Gimana rasanya di cium perempuan?’ Gumamnya, sambil melihatku. Entah bertanya padaku atau pada dirinya sendiri aku tidak yakin. Aku hanya diam sesaat, melihatnya di sebelahku kemudian aku menciumnya. Kita tidak sedang jatuh cinta dan akupun tidak sedang menyukainya dengan cara berbeda.
 
‘Lebih enak di cium laki-laki ya.’ Katanya sambil melihat keluar. Aku hanya tersenyum kecil sambil mengusap sudut bibir. Kami berdua diam, entah apa yang dia pikirkan tapi aku tidak mencoba bertanya. Mungkin rasanya akan berbeda bila aku menciumnya sekarang. 
 
Di sekolah, kita tidak membicarakan tentang ciuman itu, bahkan mungkin dia sedikit lebih banyak diam dan akupun tidak berusaha membuka obrolan. Mungkin setelah beberapa hari kami baru bisa beramai-ramai ngobrol nongkrong seperti biasa, seolah satu ciuman itu tidak pernah terjadi. Kami menghabiskan sisa tahun sekolah bersama-sama. Kemudian saat semuanya lulus, dia pulang ke Jakarta dan aku pergi kekota lain melanjutkan sekolah. Aku menjalani kehidupku dan berhubungan dengan beberapa perempuan, namun 19 tahun berlalu tanpa tau dia seperti apa dan dimana.
 
Kemudian hari ini, saat aku duduk di depan tv aku kembali memikirkan dia, apakah dia melihat semua berita tentang LGBT ini atau membacanya entah di mana, dia teringat ciuman kami. Apa yang dia pikirkan saat menontonnya, apakah dia juga mengingatku? Bertanya-tanya bahkan sedikit geli mengingat yang kami lakukan dulu. Semua pertanyaan yg tak akan ada  jawaban. Sepertinya aku merindukan teman lamaku. Ya hanya itu saja.
 
‘Baby…’ Satu pesan singkat di layar handphone mengalihkan lamunanku.
‘Ya sayang… kamu sibuk baby? aku rindu.’ Balasku.
© Just Floo 2012 | Blogger Template by Enny Law - Ngetik Dot Com - Nulis