Skip to main content

Pagi

Hal pertama yang aku lihat saat membuka mata adalah warna pucat kamarku sendiri. Ada aroma sedap menyeruak dari arah dapur ketika pintu berderit terbuka. lalu perempuan ini pun masuk. 
"Sudah bangun, sayang?" Dia bertanya seraya menutup pintu di belakangnya. Sebelah tangannya membawa nampan berisi cangkir kopi panas. Ini untuk yang ke tiga kalinya dia menghabiskan malam di tempatku. 
"Hai, pagi." Balasku sambil menegakkan diri.
"Apa yang kamu pikirkan?" Bisiknya. Dia duduk dan mencondongkan badan sehingga wajahnya hanya berjarak beberapa inci dari wajahku.
"Kamu baik-baik saja? Kamu berkeringat."
"Aku baik-baik saja, hanya mimpi buruk." Aku menggeleng perlahan.
"Hmm... Tidak ada gunanya membiarkan mimpi buruk merusak suasana hati kamu pagi ini. Begini saja, aku akan melakukan apa pun yang aku bisa untuk membuatmu happy pagi ini.” Ujarnya menenangkan.
"Apa pun yang membuat aku happy?" Tanyaku senang membayangkan seharian bersamannya, tapi tiba-tiba perutku berbunyi. 
"Kamu lapar," katanya cepat dan berdiri dari tempat tidur. 
“Aku tadi membuatkanmu wafle dan kopi. Kurasa akan lebih enak jika di makan selagi hangat.” Ajaknya, baiklah aku menyerah perutku memang perlu diisi. Dan kesenangan harus menunggu dengan sabar beberapa menit lagi.

Comments

Popular posts from this blog

Stranger III

Aku bergegas pulang, mencuci rambut, mengenakan baju merah dan mencari celana hitam namun tidak berhasil menemukannya di mana pun. Sialan! Di mana aku meletakannya? Tak ada waktu lagi aku memutuskan untuk mengenakan rok hitam. Tersenyum pada diriku sendiri saat berdiri di depan cermin, stoking hitam dan sedikit make-up. Melirik jam, baru sadar sudah jam 18:45. Seharusnya sudah berangkat. Aku memutuskan untuk berjalan ke bar karena cukup dekat, hanya beberapa blok dari tempat tinggalku. Aku mungkin akan memesan minum untuk membuatku sedikit lebih santai dan menunggu Ris. Sesampainya di bar tepat pukul 07:00, aku disambut Sue di depan counter. Aku memesan anggur putih, melirik sekeliling, satu kelompok orang di sebelah bawah bar, beberapa orang di salah satu stand dan beberapa anak perempuan di sudut agak gelap. Ada lagi sekelompok perempuan di ruang sebelah kolam renang tapi mereka semua memakai pakaian hitam atau t-shirt putih. Duduk menunggu, senang bahwa Sue sedikit sibuk k...

The Curse

Rabu kemaren salah satu kawan menyebut nama saya jadi salah satu orang yang di kutuk juga... ternyata kutukan ini berisi 11 hal tentang saya dan 11 hal yang harus saya jawab, dan 11 pertanyaan yang harus saya buat... jadi sebenernya gak bener-bener 11 ya... klo di jumlahin malah jadi 33 biji. Haduuhh... Pagi-pagi dah dapet Per Er jugaaa... banyak pulaaa....  Baiklaahhh... ayo kita mulai kerjain Per Er nya... tapi sebelum nulis tuh, saya biasanya ritual dulu, ngopi dulu lah, ngerokok dulu lah, twitteran dulu lah, efbean dulu lah... hehehe... Akhirnya gak nulis-nulis. Canggih ya.... hehe...  11 tentang Floo : 1. Saya anak pertama dari 4 bersodara, entah mungkin karena anak paling gede nih, sejak kecil saya paling sering di suruh ini itu. Mulai ambil kayu bakar di hutan sampe gembala sapi... hehehe.. gak denk. Keluarga mempercayakan banyak hal pada saya... termasuk mengurus diri sendiri. Dari zamannya saya masih SMU sampe kerja, saya ngekos (beli rumah belum mampu w...

Saat Mereka Saling Mencintai

Mereka saling mencintai selama bertahun-tahun, terkadang bertengkar, untuk alasan-alasan yang sangat kekanak-kanakan, sangat sepele, dan juga sangat konyol. Namun mereka tetap bersama, entah karena cinta atau kebiasaan, yang kita, orang luar, tidak tahu. Terkadang orang-orang yang terlibat bahkan tidak tahu betapa mereka saling mencintai, jadi bagaimana orang luar seperti kita bisa memahami masalah-masalah abstrak seperti itu? la mencintainya lebih dari yang bisa dilihatnya, dan ia mencintainya lebih dari yang bisa ditunjukkannya. Mereka selalu berselisih, berdebat, dan merajuk. Setiap kali, ia menanyakan pertanyaan yang sudah tak asing lagi, "Apakah kau benar-benar mencintaiku?" Mereka berdua saling mencintai, bukan karena kepribadian mereka berbeda, melainkan karena mereka menyadari bahwa mereka terlalu mirip: keras kepala dan konservatif. Setiap kali mereka bertengkar, mereka diam, mungkin seminggu, mungkin sebulan. Mereka saling mencintai dengan cara yang berbeda, seolah ...