It’s all in my head
And maybe it’s true, I’m falling for you. Maybe there’s a chance that you’re stuck on me, too.
So maybe I’m wrong, it’s all in my head, but maybe we’re afraid of words we both haven’t said.
The Vampire
Aku berdiri di ruang gelap sebuah menara. Ruangan yg hanya berisi peti mati, tutupnya terbuka. Berada di sini sekarang adalah bodoh tetapi sudah telambat. Aku mendengar langkah kaki, lambat dan semakin dekat mendaki tangga spiral.
Satu-satunya cara melarikan diri adalah dengan melewati mereka. Aku melihat ke peti mati, kemudian tangga. Aku bisa melihat cahaya lilin, seperti penyiksaku, berkedip redup.
Tak ada pilihan lain lagi, seperti binatang aku merangkak ke dalam peti matiku dan menutupnya. Perasaan takut mengalir di antara nadi2 yg telah beku menelusup ke jantungku yg sdh lama berhenti berdetak.
aku menunggu...
It's Just Coffe
Jika lima tahun yang lalu seseorang mengatakan bahwa bekerja paruh waktu di sebuah coffee shop adalah masa depanku, mungkin aku akan memilih mendaftar wajib militer untuk menghindarinya. Atau menjual semua barang milikku, membeli ransel yang bagus, dan menghilang ke arah matahari terbenam hanya berbekal paspor dan atlas dunia. Namun, setelah empat tahun masa kuliah, di sinilah aku, gadis berupah minim di sebuah coffe shop dua blok jauhnya dari kampus lamaku. “Life couldn't get much more depressing,” gumamku.
Café René tempatku bekerja saat ini adalah café yang terletak di sebuah bangunan abad pertengahan di St. Mary’s Lane, dengan interior klasik dan sederhana. Bagian depan dari café tidak lebih dari sebuah pintu yang mengarah ke serambi yang kemudian lurus ke sebuah konter kecil. Langit-langit yang berpanel rendah disangga balok kayu besar, dikombinasikan dengan rak-rak yang memuat koleksi buku-buku lama. Sofa nyaman di beberapa sudut, alunan jazz menyeruak di setiap sudut ruang, dan bau apek khas yang tampaknya semakin menambah karakter khusus sebuah café klasik.
Aku dengan malas memisahkan buku-buku berdasarkan katalog dan judul: fiction, romance, history, saat bel di atas pintu depan berdenting pelan, hampir tak terdengar dari tempat aku duduk. Di pintu masuk aku mendapati seorang wanita berjalan ke arah konter. Pada hari yang sepi seperti sekarang ini, satu pelanggan bisa membebaskanku dari pekerjaan monoton yang sangat membosankan. Aku meluruskan celemek, merapikan lipatan baju, dan memastikan nota serta menu ada di tangan.
"Good evening! Selamat datang di Café René. Apa yang bisa saya sajikan untuk Anda malam ini?” sapaku dengan kata-kata yang sudah sangat ku hapal.
Seperti kebanyakan orang yang cukup sopan, dia tersenyum ke arahku, memamerkan serangkaian gigi putih sempurna, bahkan sepertinya dokter gigi pun akan menyorakinya. Dia selalu datang pada jam yang hampir sama, meminta kopi yang sama, duduk di meja yang sama lalu berkutat dengan bukunya sampai larut malam. Terkadang hanya duduk diam, menyeruput kopi, dan mengamati sekeliling café sebelum akhirnya pergi lagi. Di lain waktu dia datang dengan beberapa orang dan asik berceloteh. Aku selalu mengamatinya, menikmati setiap kali dia berbicara, atau melihatnya berjalan memasuki café, perubahan cepat dari ekspresi di wajahnya, dan bagaimana dia tampak tertawa dan tersenyum.Tetapi malam ini, tidak seperti biasanya dia lebih memilih duduk di meja konter.
"Kopi saja, thanks. Hitam, aku butuh sedikit kafein malam ini," jawabnya.
Sementara ia berbicara, aku mengamati sosok di depanku dengan cermat. Kuterka ia hanya lebih tua beberapa tahun dariku. Caranya berpakaian, kombinasi yang sederhana dengan warna-warna natural dan hangat membuatnya terlihat menarik. Aku berani bertaruh bahwa dia memiliki beberapa baju-baju mahal di lemarinya, yang barangkali tak mampu kubeli dengan 6 bulan gaji di sini.
"Baik.” Jawabku. Dengan segera aku mengisi cangkir dengan kopi dari salah satu termos besar di rak belakang. Dia menunggu dengan tenang sampai aku menyerahkan kopi panas di depannya.
“Apa ada lagi yang Anda butuhkan?" Tanyaku ramah. Dia memiringkan kepala sedikit dan menyipitkan matanya dengan cara yang tiba-tiba membuatku gugup.
"Sepertinya belum ada, terima kasih.” Jawabnya.
Dia mulai mencicipi kopinya dan mendesah puas, seolah-olah satu tegukan kopi tadi mulai mencair sepanjang tulang-tulangnya. Satu tegukan lagi, dan kali ini lebih lama, yang lagi-lagi diikuti oleh helaan napas yang dalam. Sepertinya orang ini benar-benar menikmati kopinya. Hanya beberapa detik singkat, atau mungkin lebih, telah berlalu dalam diam. Dan aku mengambil evaluasi dengan tenang dari keseluruhan penampilan wanita ini. Wajahku memerah ketika dia mengangkat wajahnya lagi dan memergoki aku sedang mengamatinya. Dia hanya tersenyum, tampaknya tidak tersinggung dengan kekurangajaranku.
Dia mulai menyesap kopinya lagi, tetapi kali ini menjaga matanya tetap tertuju padaku. Oke, itu membuatku agak sedikit gugup.
"Jadi… Amelia. Apakah memang selalu setenang ini?" Tanyanya tiba-tiba.
"Maaf?" tanyaku dengan nada bingung dan kaget. Dia pasti melihat name tag yang terpampang jelas di dadaku. "Tidak, tidak, hanya pada jam-jam tertentu saja. Dan ini musim panas, hampir semua orang menghabiskan liburan musim panas mereka di luar kota." Jawabku tergagap.
"Bagus, itu melegakan. Kau tahu, aku sangat jarang menghabiskan waktu di café yang terlalu ramai sebelumnya, tapi aku pikir tempat ini mungkin cukup nyaman dan sepi." Dia berhenti, tersenyum sekarang sedikit nakal dan seperti mencoba menerka apa yang aku pikirkan.
Jeda yang lain, kali ini terasa aneh bagiku, canggung, untuk beberapa hal aku tidak begitu yakin. Aku mulai merasa sedikit bingung, seolah-olah meskipun dia berbicara dengan sangat jelas, ada semacam kode rahasia yang aku kenal. Entah kenapa aku selalu suka caranya bertanya. Ah, tapi tidak juga. Aku selalu suka saat dia bicara. Hmmm, tapi bukan juga sebenarnya. Aku hanya suka setiap dia ada. Meski dia tak bicara, tak bertanya, bahkan tak melakukan apa-apa.
“Yah… tenang, tetapi terkadang sangat membosankan jika tidak ada seorang pun yang bisa kita ajak bicara.” Ujarku hampir seperti bicara pada diri sendiri.
Kali ini dia tertawa, lalu dia berdiri dari kursinya, mengeluarkan beberapa dollar dari dompet dan mulai mengambil tas serta kunci mobilnya. Kurasa ia memutuskan sudah waktunya untuk pergi.
"Sudah mau pergi?" Tanyaku, dan bahkan aku bisa mendengar nada kecewa dalam suaraku.
"Yap, aku harus mengejar jadwal keberangkatan pesawat dan itu tinggal 30 menit lagi, jadi lebih baik aku segera berangkat," katanya. Mulutku sedikit melengkung hampir seperti orang yang merajuk. Dia melangkah ke arah pintu keluar, kemudian membalikan badan saat aku hendak membuka mulut.
"Have a nice night! Ngomong-ngomong, aku Alice," katanya. "Apakah kamu biasa bekerja pada malam hari?"
"Hampir setiap hari, dari pukul lima sampai tutup. Senang bertemu denganmu, Alice! "
"Senang bertemu denganmu juga, dan aku yakin kita akan bertemu lagi, segera," katanya, kemudian berbalik dan berjalan kembali ke arah pintu utama. Aku menatapnya hingga dia menghilang di balik pintu keluar. Diikuti gemerincing samar lonceng di atas pintu saat Alice melangkah kembali ke jalan dan keluar dari café.
Dia benar-benar sudah pergi, sekarang aku tidak tau apa yang harus aku lakukan dengan diriku sendiri. Aku melihat sekeliling, meja-meja kosong, alunan jazz, dan ruangan café tempatku bekerja. Segalanya tampak kembali menjadi kusam dan kosong.
Ada sesuatu tentang dirinya, something... Attractive? Magnetic? Sesuatu yang bisa mengisi ruang dengan cara yang tidak dapat dijelaskan dengan geometri sederhana. Dia seolah mampu mengisinya dengan kehangatan. Sesuatu yang sulit untuk dijelaskan. Dan aku mendapati diriku sendiri kembali mengingat percakapan singkat kami. Untungnya, aku berhasil membuat dia lebih banyak berbicara. Sehingga aku tidak perlu banyak melakukan hal-hal konyol.
Entah mungkin hanya perasaanku saja, ada jeda saat dia berbicara hanya untuk melihatku, mengukur reaksiku, atau sesuatu yang lebih, meskipun aku tidak yakin apa itu. Mungkin untuk orang normal akan dengan mudah mengetahuinya, tetapi untuk orang yang tidak begitu peka sepertiku, butuh waktu beberapa saat untuk menyadarinya. Lain kali saat dia datang, aku memutuskan akan lebih perhatian. Ajukan lebih banyak pertanyaan, mencoba mengenalnya lebih baik. Ini membuatku frustasi, aku tidak yakin kapan dia akan datang lagi.
Di luar café malam makin hening, cahaya membercak di ruas-ruas jendela. Sesekali terdengar dari kejauhan decit rem, klakson, mobil, warna pucat merayap di lekuk bangunan-bangunan tua, dan siluet orang lalu-lalang tak bersuara. Sudah waktunya menutup café dan membersihkan semuanya.
+035624811356…
Call me when you have some free time!
~Alice
Secarik kertas yang kutemukan terselip di bawah cangkir kopi kosong.
Hmm… Well, sepertinya memang akan ada kesempatan yang lain.
Kopi, Jazz dan Kamu
‘Kau kembali’ ejeknya sambil nyengir kuda..
‘Aku tidak pernah ke mana2…’
‘Lihatlah… kau bahkan tidak pandai berdusta, ah tapi aku suka sisimu yg ini… jiwa yg penuh benci…’ Gelas kopi melayang… cermin pecah dan kau pun musnah.
Di barat senja melenyap, dan secangkir kopi yang membuat jantungku tak henti berdenyar, Jazz tua mendayu sekarat...
Mau kukuliti belangmu?
Everything Happens for a Reason
I believe that everything happens for a reason.People change so that you can learn to let go
Things go wrong so that you appreciate them when they're right
You believe lies so you eventually learn to trust no one but yourself
And sometimes good things fall apart so better things can fall together.
I trust that everything happens for a reason, even when we're not wise enough to see it.
Love and Other Drugs
Cinta tidak selalu romantis, meskipun terkadang bayangan saya tentang cinta sama seperti kebanyakan orang. Sederhananya, dari usia muda kita diberitahu untuk menemukan satu orang, dan tidak ada orang lain. Mengalokasikan perhatian pada satu orang dan mengabaikan pengalaman menakjubkan dari mencintai miliaran jiwa yang menghuni bumi ini.Tidak ada kuota untuk cinta, dengan mencintai orang lain selain dirimu sendiri tidak akan membuatmu bangkrut secara emosional. Cinta adalah sebuah keinginan untuk pemenuhan, kebahagiaan dan sukacita dari yang lain, menjaga mereka dalam pikiran dan mendukung peran mereka sebagai manusia. Cinta adalah terlibat dengan sesuatu di luar diri sendiri. Itulah mengapa akan terasa luar biasa bersama orang yang kita cintai, mereka membawa kita jauh dari kesibukan, dan membuat kita merasa gembira, mabuk oleh dunia.
Cinta telah muncul dalam banyak ilusi. Meski terkadang kita mendapatkannya, kemudian kembali kehilangan. Tetapi tidak ada yang pernah benar-benar hilang, kita tidak akan di rugikan, kita selalu memiliki kenangan. Kita semua belajar dari falling deeply in love, denial, hysteria, delusion, dan dari saat-saat kita harus memungut kepingan-kepingan hati yg terpecah.
This is all I have for now. I am still learning. I am still loving...
Speechless
LGBT Pride Month.
Happy Pride!Kembali pada tahun 2000, Bill Clinton meresmikan Juni “Gay and Lesbian Pride Month” - meskipun sudah dirayakan (tidak secara resmi) selama beberapa dekade sebelumnya. Dan kemudian pada tahun 2009, Barack Obama memperpanjang judul bulan untuk memasukkan transgender dan biseksual. Di Amerika Serikat, Juni sekarang resmi dikenal sebagai nasional "LGBT Pride Month.”Setiap orang merayakan Pride dengan cara yang berbeda. Ada circuit parties, mega-club nights atau colorful parades. Beberapa dari kita, termasuk saya sendiri, mengambil pendekatan introspektif lebih tenang.Bagi saya, Pride is about letting your flame burn bright. Ini tentang merayakan orientasi seksual dan identitas gender. Merangkul keragaman.
Jadi Happy Pride, kawan!
Subscribe to:
Posts (Atom)
IT'S JUST A COFFEE SHOP Chp. 3
I stare at the mirror taped to my bedroom door. Fairy lights on. Bed unmade. Hoodie Elian would wear white. Safe. Invisible. But tonight is ...
-
Aku bergegas pulang, mencuci rambut, mengenakan baju merah dan mencari celana hitam namun tidak berhasil menemukannya di mana pun. Sialan! ...
-
Rabu kemaren salah satu kawan menyebut nama saya jadi salah satu orang yang di kutuk juga... ternyata kutukan ini berisi 11 hal tentang s...
-
At some point every lesbian asks herself the question: Am I a lesbian? But many heterosexual and bisexual women ask themselves the same ques...




